01 Mei, 2016

HIKMAH PENGHARAMAN SHALAT DAN PUASA BAGI WANITA HAID

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda :
“Tidaklah diterima shalat tanpa kesucian, dan tidak diterima sedekah dari hasil penipuan”.
Hadits riwayat Muslim.

Diriwayatkan dari Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda :
“Jika datang haid, tinggalkan shalat. Jika telah usai, mandilah (mandi besar/junub) dan sucikan dirimu dari darah, lalu dirikanlah shalat”.
Hadits riwayat Bukhari.

Jika wanita yang sedang haid menjalankan ibadah shalat, dikhawatirkan shalatnya akan mendorong berkumpulnya darah di rahim dalam jumlah yang banyak, yang pada gilirannya akan menimbulkan gangguan pada rahim. Ketika wanita sedang haid, darah dan cairan yang dikeluarkan dari tubuhnya bisa mencapai 34 ml selama masa haidnya. Jadi, jika dia tetap mendirikan ibadah shalat ketika sedang haid, maka sistem kekebalan tubuhnya akan terganggu, karena dikhawatirkan ada sebagian sel darah putihnya (leukosit) yang berperan penting dalam kekebalan tubuh akan ikut keluar bersama darah haid sewaktu shalat, hal ini sangat berbahaya.

Aliran darah secara umum akan mengandung lebih banyak agen penyakit, sementara wanita yang haid telah dilindungi oleh Allah dari ancaman penyakit dengan pemusatan sel darah putih di dalam rahim selama berlangsungnya siklus bulanan untuk menjaga dan melindunginya dari berbagai penyakit dengan dilarangnya shalat bagi wanita yang sedang haid. Sementara, jika seorang wanita yang sedang haid mendirikan shalat, maka dia akan kehilangan sebagian darahnya, termasuk sel-sel darah putihnya, sehingga menyebabkan sebagian organ tubuhnya akan terbuka terhadap penyakit, termasuk organ lever, limpa, kelenjar limpa, juga otaknya akan beresiko terserang penyakit. Di sinilah kita melihat hikmah pelarangan shalat bagi wanita yang sedang haid sampai mereka bersuci. Al-Qur’an sendiri menyebutkan, darah haid adalah penyakit yang membahayakan.
                                             
Qur’an surat Al-Baqarah ayat 222 :
(“Mereka bertanya kepadamu tentang haid) bagaimana memperlakukan istri yang sedang haid. (Katakanlah: Haid adalah suatu penyakit) kotoran (maka jauhilah) jangan mencampuri (wanita-wanita di waktu haid dan janganlah kamu dekati) bermaksud mencampuri (mereka sampai mereka suci) sampai mereka mandi besar. (Apabila mereka telah suci, maka datangilah) campurilah (mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu) yaitu di kemaluannya, bukan selain itu. (Sesungguhnya Allah menyukai) memuliakan dan memberi pahala (orang-orang yang bertobat) dari dosa (dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri”) dari kotoran atau penyakit.

Shalat diharamkan bagi wanita yang sedang haid, karena ketika tubuh bergerak, terutama saat rukuk dan sujud, aliran darah menuju rahim bertambah, yang pada akhirnya akan dikeluarkan dari tubuh. Karena dalam keadaan haid, tubuh kehilangan banyak mineral dan garam. Para dokter menyarankan agar wanita yang sedang haid lebih banyak beristirahat dan harus mengkonsumsi makanan yang bernutrisi, agar tubuh tidak kehilangan terlalu banyak garam, mineral dan sel-sel darah yang berharga yang mengandung sari-sari makanan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, terlebih pada saat wanita tersebut sedang haid, hal ini juga menjelaskan, mengapa wanita haid dilarang berpuasa.

Rasulullah bersabda ketika melewati beberapa wanita pada suatu hari raya : “Jika mereka haid, mereka tidak boleh shalat dan tidak boleh berpuasa…”. Hadits riwayat Bukhari.


Sumber : Mukzijat Kesehatan Ibadah oleh Dr. Jamal Elzaky

MENGAPA ISRA’ MI’RAJ NABI SAW DILAKUKAN DI MALAM HARI

Firman Allah Qur’an surat Al-Israa ayat 1 :
(“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya) supaya Nabi saw tidak mengalami kendala apapun selama Isra’ Mi’raj (agar Kami perlihatkan kepadanya) Nabi saw (sebagian dari tanda-tanda) kebesaran dan kekuasaan (Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”).

Nah, pertanyaannya “Mengapa perjalanan luar biasa itu dilakukan pada malam hari? Mengapa tidak siang hari saja?” Jawabannya adalah, karena badan Nabi saw sudah diubah oleh Allah menjadi badan cahaya dan berkecepatan cahaya. Maka Isra’ Mi’raj-nya harus dilakukan di malam hari, ini dilakukan karena alasan yang lebih bersifat teknis. Pada siang hari, radiasi sinar Matahari sedemikian kuatnya, sehingga bisa membahayakan badan cahaya Rasulullah saw yang sebenarnya memang bukan berbadan cahaya asli, tapi hanya selama perjalanan Isra’ Mi’raj saja. Badan Nabi saw yang sesungguhnya tentu saja adalah badan materi. Perubahan menjadi badan cahaya itu bersifat sementara saja, sesuai kebutuhan untuk melakukan perjalanan bersama Malaikat Jibril as dan bertemu dengan Allah swt di Sidratul Muntaha.

            Dengan melakukannya pada malam hari, maka Allah telah menghindarkan Nabi saw dari interferensi gelombang yang bakal membahayakan badan cahayanya yang tidak permanen tersebut. Suasana malam hari memberikan kondisi yang baik buat perjalanan Isra’ Mi’raj itu. Pada malam hari interferensi (gangguan) gelombang suara tidak terlalu besar, sehingga suara terdengar jernih untuk berkomunikasi dengan Allah dan jiwa kita bisa menjadi fokus, khusyuk dan bacaan doa menjadi lebih berkesan. Karena badan Nabi saw telah diubah menjadi badan gelombang cahaya, maka perjalanan malam hari menjadi memiliki makna yang sangat penting buat beliau saw. Karena beliau saw akan menghadap dan kepada Allah, maka perjalanan malam hari memiliki makna kejernihan komunikasi dengan Allah.
  
            Allah terus mengendalikan proses perjalanan Nabi saw tersebut. Allah memberkahi sekelilingnya, supaya tidak muncul kendala yang berarti. Sebab jika tidak dilindungi secara khusus, ‘badan cahaya’ Nabi saw bisa mengalami proses balik menjadi ‘badan materi’ lagi sebelum waktunya. Misalnya ketika melewati medan inti Bumi dengan besar tertentu. Sebagaimana saat gelombang sinar Gama melewati medan inti atom., yang bisa berubah menjadi sepasang partikel elektron dan proton kembali. Nah, disinilah pentingnya Allah menjaga lingkungan sekitar perjalanan itu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, jika badan Nabi Muhammad saw tiba-tiba berubah menjadi ‘badan materi’ lagi saat melakukan perjalanan berkecepatan sangat tinggi itu, maka badannya bisa terburai menjadi partikel-partkel kecil sub atomik, bisa tidak terbentuk lagi. Hal ini telah dijelaskan di depan, bahwa binding energi atau energi ikat yang menyusun atom, molekul dari badan Rasulullah saw itu bisa kalah besar bila dibandingkan dengan energi yang muncul akibat kecepatannya.

Mengapa Allah memperjalankan Rasulullah saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha? Karena Masjid adalah tempat akumulasi energi positif, karena digunakan untuk melakukan peribadatan yng menghasilkan energi positif yang sangat besar. Karena masjid-masjid itu berumur ribuan tahun dan digunakan untuk beribadah oleh ribuan manusia. Maka sungguh tempat itu menyimpan energi positif yang luar biasa besar. Masing-masing bagaikan sebuah tabung energi yang sangat dahsyat. Lantas apa kaitannya dengan perjalanan Rasulullah saw? Ini terkait dengan badan Rasulullah saw yang telah dirubah menjadi energi alias cahaya, maka banyak hal yang harus disesuaikan dengan perubahan badan cahaya Rasulullah saw itu, termasuk tempat keberangkatan dan kedatangan Rasulullah saw.

Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dijadikan terminal pemberangkatan dan kedatangan. Ini mirip dengan tabung transmitter dan receiver, yang digunakan dalam proses teleportasi. Contoh kongkretnya adalah yang terjadi pada Mr Spock dalam film sains fiksi Startrek. Karena masjid mengandung energi positif yang sangat besar, maka perubahan badan Rasulullah saw dari materi menjadi energi cahaya menjadi jauh lebih mudah. Apalagi ‘dioperatori’ oleh Malaikat Jibril as yang memang makhluk cahaya. Maka semuanya berjalan lancar sesuai kehendak Allah. Allah-lah yang berkehendak dan Jibril as yang melaksanakan. Setelah badan Rasulullah saw berubah menjadi badan cahaya, maka Jibril as langsung memandu perjalanan itu dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha. Dan bukan hanya sampai di Yerusalem, Palestina saja, Jibril as tetap memandu Rasulullah saw sampai ke Langit ke-7. Subhanallah.


Sumber : Terpesona di Sidratul Muntaha oleh Agus Mustofa

04 April, 2016

BERPUASA KETIKA MUSIM PANAS DI WILAYAH SUBTROPIS

Di negara-negara yang lebih ke utara, yaitu Benua Eropa, maka saya akan mengalami puasa lebih panjang lagi. Saya jadi teringat beberapa tahun yang lampau ketika saya berada di Belgia. Waktu itu musim panas juga, cuma tidak sedang dalam bulan Ramadlan. Disana, Matahari tenggelam jam 10 malam. Jadi, saya shalat Maghrib ketika itu jam 10 malam. Seandainya, saat itu bulan Ramadlan, berarti saya baru berbuka setelah jam 10 dan lamanya puasa menjadi sekitar 18 jam..! Keadaan menjadi lebih ‘mengerikan’ jika berada di kawasan Eropa Utara. Di Finlandia misalnya, Pak Dahlan Iskan, yang pernah mampir ke Kutub Utara, suatu ketika bercerita kepada saya bahwa di puncak musim panas di bulan Juni, Matahari Finlandia baru tenggelam setelah nongol selama 23 jam. Artinya, kita mesti berpuasa menahan lapar dan minum di siang hari selama 23 jam..! Kalau itu dialami satu-dua hari saja, mungkin kita masih bisa bertahan. Tetapi kalau terus-terusan selama sebulan Ramadlan, tentu tidak akan kuat. Dan yang paling ‘mengerikan’ adalah berpuasa di sebuah kota kecil, di utara Moskow, yaitu Kota Leningrad, kini namanya diganti menjadi Saint Petersburg. Di kota itu, kata kawan saya Syaripudin Zuhri yang bekerja di KBRI setempat, Mataharinya tidak tenggelam selama 24 jam atau sehari semalam. Malamnya dikenal sebagai White Nights ~ Malam-malam Putih~ atau dalam bahasa Rusia disebut Beliye Nochi (baca = Bilii Nosii), karena Mataharinya memang tidak tenggelam. Tidak ada batas antara malam dan siang, jam 10 malam Matahari masih bersinar, jam 11 malam juga masih ada, jam 12 malam pun masih ada, dan jam 1 dini hari, Matahari masih bersinar, walhasil, hari-hari hanya ada siang, tanpa ada malam.

Maka, bagaimanakah jika Anda menjalani puasa di Kota St. Petersburg - Rusia? Apakah akan berpuasa selama 24 jam? Lalu, kapan pula shalat Maghrib dan Isya’nya? Tetapi kaum muslimin di St. Petersburg ada yang berbuka berdasarkan waktu Mekkah atau waktu di negara mana dia sebelumnya tinggal paling lama. Maka, apakah kewajiban ibadah puasa dan shalat menjadi gugur karenanya? Tentu saja tidak, dewasa ini, umat Islam seharusnya mengubah jadwal ibadah yang selama ini dihitung dengan menggunakan fikih tropis. Sudah tidak sesuai lagi untuk masyarakat Islam Internasional yang kini tersebar bukan hanya di negara tropis. Melainkan banyak yang sudah tinggal di negara-negara subtropis. Bahkan ada pula astronout muslim yang sudah ke luar angkasa. Bukankah di luar angkasa juga tidak ada siang dan malam? Karena siang malam itu hanya terjadi di Bumi yang berputar pada sumbunya? Sedangkan dari pesawat luar angkasa, Matahari akan selalu kelihatan…

Saya (Agus Mustofa) sudah membahas masalah ini dalam salah satu buku saya : ‘Tahajud Siang Hari Zhuhur Malam Hari’. Saya memberikan usulan bagaimana seharusnya jadwal ibadah umat Islam secara Internasional disusun. Yaitu, harus berpatokan pada Garis Bujur Bumi. Dengan cara itulah, kerancuan jadwal internasional bisa diselesaikan. Sehingga, umat Islam tidak harus berpuasa melebihi batas kemampuan fisiknya sebagai manusia normal. Di dalam Al-Qur’an sesungguhnya mengatur itu semua, hanya saja, belum terakomodasikan dalam fikih tropis yang ada selama ini. Maka, saya menganjurkan mereka untuk mengacu kepada jam saja. Sama dengan yang sudah terjadi di Indonesia. Setiap shalat tak perlu lagi melihat posisi Matahari, cukup melihat jam tangan atau jam dinding atau jam HP. Bahwa shalat Shubuh di wilayah tropis adalah sekitar jam 4 sampai jam 5 pagi, shalat Dhuhur (Zhuhur) antara jam 12 - jam 3 siang, shalat Ashar antara jam 3 - jam 6 sore, shalat Maghrib antara jam 6 - jam 7 petang dan shalat Isya’ antara jam 7 – sampai menjelang shalat Shubuh.

Pertanyaannya adalah: bagaimana dengan musim panas yang waktu siangnya bisa jauh lebih panjang? Bisa saja, Maghrib baru masuk pukul 10 malam atau di tempat yang lebih utara lagi bisa jam 11 atau 12 malam atau bahkan tidak tenggelam? Saya menganjurkan kepada kawan-kawan saya itu agar tidak mempersoalkan Matahari lokal. Yang harus dilihat adalah Matahari tropis di garis bujur yang sama, karena di garis bujur yang sama itu semua kota di berbagai negara pasti memiliki jam yang sama juga, cuma berbeda posisi Mataharinya. Yang dijadikan patokan adalah kota di negara tropis di mana Matahari bergerak secara seimbang pada kawasan 23,5 derajat lintang utara dan 23,5 derajat lintang selatan. Contoh gampangnya begini: Jika di Surabaya sedang jam 12 siang, maka kota-kota di garis bujur yang sama dengan Kota Surabaya adalah jam 12 siang juga, kota-kota di bagian utara itu adalah di Cina, Mongolia, dan Rusia semua segaris bujur yang sama sedang berada di jam 12 siang. Demikian pula di belahan selatan, mulai dari pantai barat Australia sampai ke Antartika. Bedanya, ketika di belahan utara Bumi sedang musim panas, maka di belahan selatan Bumi sedang musim dingin. Jika musim panas di Bumi belahan utara siangnya lebih panjang, sedangkan di Bumi belahan selatan sedang musim dingin sehingga malamnya lebih panjang. Tetapi semua kawasan yang segaris dengan Surabaya itu berada di jam 12 siang, meskipun di Bumi belahan selatan sedang puncak musim dingin dan Langitnya gelap seperti malam hari, substansinya kawasan itu sedang berada di siang hari. Jadi, jika mau shalat Dhuhur (Zhuhur) tidak usah menunggu Matahari musim panas yang baru datang beberapa bulan lagi, laksanakan saja shalat Dhuhur pada ‘malam hari’ itu, karena sebenarnya meskipun Langit sedang petang, sesungguhnya itu adalah jam 12 siang di wilayah Surabaya..! Demikian pula pada saat jam 12 tengah malam di Surabaya, kawasan-kawasan yang sedang mengalami puncak musim panas pasti sedang terang benderang. Jika Anda ingin shalat Tahajud, tidak perlu menunggu sampai Mataharinya tenggelam di musim dingin yang baru akan datang beberapa bulan lagi, lakukan saja shalat Tahajud pada ‘siang hari’ itu, karena sesungguhnya itu adalah jam 12 malam, cuma sedang dihadiri oleh Matahari, sehingga terjadilah shalat Tahajud pada siang hari, Dhuhur pada malam hari..!

Qur’an surat Al-Muzzammil ayat 20:

1.      (‘’… Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an…’’).

Di Rusia, soal perbedaan waktu ternyata bukan soal waktu itu sendiri, tapi ada keputusan pemerintah di dalamnya. Nah untuk soal geser menggeser waktu, di Rusia jagonya, karena Rusia melakukan hal yang berbeda di setiap musimnya. Rusia pernah menggeser waktu sama dengan negara-negara lain, di belahan Bumi Utara, artinya setiap minggu terakhir menjelang musim dingin, di musim gugur, waktu dirubah, waktu dimundurkan. Jadi waktu yang semula pukul 10.00 menjadi pukul 09.00, itu artinya beda waktu Moskow - Jakarta menjadi 4 jam. Pada saat menjelang musim panas, di musim semi, pada minggu terakhir bulan Maret digeser lagi, atau dimajukan 1 jam. Kedua, Rusia pernah pula tidak menggeser waktu, tidak dimajukan pada menjelang musim dingin, dan tidak pula diundurkan pada menjelang musim panas. Jadi tidak mengikuti dunia internasional secara umum, Rusia beda sendiri.  Rusia juga pernah hanya menggeser waktu menjelang musim dingin saja, waktu diundurkan, yang semula pukul 10.00 WM, menjadi pukul 09.00 WM. Itu artinya beda waktu Moskow - Jakarta yang semula 3 jam, menjadi 4 jam.

Namun di bulan Maret pada minggu terakhir yang seharusnya waktu dimajukan, dari jam 10.00 WM menjadi jam 11.00 WM, kini tak dilakukan oleh Rusia, sehingga masyarakat menjadi bingung karenanya. Mengapa? Karena pada komputer sudah disetting secara otomatis, pada pergantian waktu tersebut, maka ketika Rusia tidak merubah waktu tersebut, terjadilah perbedaan waktu dengan yang ada di komputer dan settingan waktu adzan di HP atau di tab, karena semuanya sudah berubah mundur, tapi waktu di Rusia tidak ikut mundur atau dirubah, maka yang terjadi selisih 1 jam dengan waktu yang ada di komputer, yang seharusnya sama dengan waktu yang di komputer, sedangkan beda waktu Moskow - Jakarta tetap 4 jam, seharusnya pada musim semi menjelang musim panas beda waktu Moskow - Jakarta 3 jam, bingung bukan? Tapi itulah Rusia, dan jika lagi “bertikai” dengan Eropa atau Amerika Serikat, hal ini dijadikan perlawanan, Rusia tidak ikut perubahan waktu secara internasional. Dengan demikian pihak internasional yang harus menyesuaikan dengan waktu dengan Rusia. Oya, jangan lupa di Rusia dari ujung barat sampai ujung timur, punya beda waktu sampai 11 jam! Waktu di musim panas, apa lagi di puncak musim panas nanti, saat bulan Juni, tepatnya tanggal 22 - 23 Juni, malam begitu singkat. Malam hanya sekitar kurang lebih 4-5  jam saja, Maghrib kurang lebih pukul 22.00 dan Shubuh kurang lebih pukul 02.00. Di Rusia setiap hari waktu bergeser 2-3 menit maju di musim panas dan 2-3 menit mundur di musim dingin. Makanya bagi umat Islam, waktu shalatnya mengikuti jam, tidak melihat Matahari, karena jika mengandalkan Matahari seperti di Indonesia bisa keliru total! Mengapa? Karena pada musim panas, Matahari seperti tidak mau tenggelam, sudah jam 21.00 Matahari masih terlihat alias belum tenggelam! Bahkan di St. Petersburg, di ujung utara Rusia, pada puncak musim panas 22 - 23 Juni pada tengah malam ada Matahari, orang Rusia menyebut ”Beliye Nochi” atau White Nights (malam-malam putih), maka jangan heran pada tengah malam banyak festival diselenggarakan! Ada marathon pada tengah malam dan turispun berbondong-bondong ke St. Petersburg pada bulan tersebut! Anda penasaran dan ingin membuktikan? Silahkan datang ke St. Petersburg pada puncak musim panas yang tanpa malam di bulan Juni. Itulah uniknya waktu di Moskow - Rusia.

~ Ikhlas, Menjadi Kekuatan Utama Puasa ~

Rasa syukur itu menyelinap ke dalam relung-relung sanubari, menyejukkan hati, mengalahkan teriknya matahari yang menyengat Bumi. Di sinilah kualitas puasa kita diuji. Apakah kita bisa melatih diri untuk merelakan ibadah hanya karena Allah semata. Karena, hanya orang-orang yang rela hati sajalah yang akan memperoleh hikmah maksimal dari puasanya. Bagi mereka yang berpuasa dengan terpaksa, mekanisme kesehatan di dalam tubuhnya akan berjalan tidak seimbang. Asam lambungnya akan mengucur lebih deras, karena rasa tertekan dalam menjalankan puasa. Itulah, orang-orang yang merasakan lambungnya menjadi perih karena berpuasa. Penyakit maag-nya justru kambuh. Sebaliknya, mereka yang melakukan puasa dengan rela hati dan ikhlas, akan memunculkan mekanisme hormonal yang baik bagi kesehatannya. Termasuk mekanisme asam lambung yang seimbang. Orang yang ikhlas, hatinya akan menjadi tenang dan tenteram. Tidak ada perasaan tertekan. Bahkan muncul optimisme yang menyebabkan munculnya kekuatan ekstra di dalam jiwanya. Semua itu menyebabkan ia mengalami proses penyehatan secara menyeluruh lewat puasanya. Jadi, mengapa orang-orang yang berpuasa di kawasan yang panas seperti Benua Afrika ini tetap bisa bertahan, bahkan memperoleh manfaat darinya? Faktor keikhlasan dan kerelaan itulah yang menjadi penyebab utamanya. Antisipasi kebutuhan badan secara wajar yang dipadukan dengan kekuatan iman telah memunculkan mekanisme keseimbangan alamiah pada diri seseorang yang sedang berpuasa. Allah benar-benar Maha Pemurah kapada hamba-hamba yang mengikuti petunjuk-Nya..!

Sumber: Jelajah Sungai Nil oleh Agus Mustofa dan Syaripudin Zuhri.

21 Maret, 2016

FIGURITAS KEPEMIMPINAN

Qur’an surat At-Taubah ayat 31:

31.  (“Mereka) orang-orang Yahudi (menjadikan orang-orang alimnya) para pemuka agama dan ulama ahli Taurat (Rabbi) bagi orang-orang kafir Yahudi (dan rahib-rahib mereka) pendeta Nasrani Unitarian, para biarawan dan para pejabat gereja Nasrani Trinitas Kristen dan Katolik, yaitu Paus, Kardinal, Uskup dan Pastor bagi umat Katolik dan pendeta bagi umat Kristen (sebagai “tuhan” selain Allah, dan juga mereka) orang-orang Nasrani Trinitas (mempertuhankan Al-Masih putra Maryam) Nabi Isa as (padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan) yang berhak disembah (selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”).

Adi adalah kepala suku Thai, putra Hatim Ath-Thai, semasa hidupnya, kedermawaan Adi bin Hatim sangat terkenal. “Ketika aku mengetahui bahwa Rasuluilah saw berhijrah (ke Madinah), aku sangat tidak menyukai hijrah itu dengan kebencian yang amat sangat. Aku pun pergi hingga ke Negeri Romawi. Katanya: “Aku tidak menyukai tempatku di situ lebih sangat daripada ketidaksenanganku terhadap hijrahnya Rasulullah saw. Saat Adi mendengar berita dakwah Rasulullah saw, ia tidak menyukainya. Lalu Adi bin Hatim berangkat ke Negeri Madinah, ketika itu, Adi bin Hatim masih menjadi penganut Ar-Rukuusiyah (gabungan agama Nasrani Trinitas dan shabiin). Kemudian Adi bin Hatim datang menjumpai Rasulullah saw dan Adi mengenakan kalung salib berwarna perak. Aku (Adi) berkata: “Demi Allah, mengapa tidak aku menemui lelaki itu? Jika orang ini seorang raja atau pendusta, maka hal itu tidaklah memudharatiku, dan jika orang ini seorang yang benar (nabi), maka aku harus mengikutinya.” Aku pun menemui beliau, ketika aku tiba di Madinah, orang banyak berkata, “Adi bin Hatim datang! Adi bin Hatim datang!” Aku pun masuk menemui Rasulullah saw, kemudian Rasulullah saw menyeru Adi bin Hatim agar memeluk Islam dan beliau bersabda kepadaku: “Wahai Adi bin Hatim, masuklah ke dalam Islam, niscaya kamu akan selamat.” Beliau mengucapkannya tiga kali. Kujawab: “Aku telah beragama.” 

Sabda Rasulullah saw: “Aku lebih mengetahui tentang agamamu dari pada dirimu sendiri.” 

Aku bertanya: “Kamu lebih mengetahui agamaku daripada aku?” 

Rasulullah saw bersabda:

“Ya, bukankah kamu berasal dan kalangan penganut Ar-Rukuusiyah? Dan kamu memakan seperempat dari rampasan perang kaummu?”

Aku menjawab: “Benar.”

Lanjut beliau saw: “Sedangkan harta itu adalah haram bagimu menurut agamamu?” “Benar, jawabku.” Adi menerima seruan Rasulullah saw dengan suka hati seraya berkata: “Aku pandang wajah yang berseri-seri.”

Rasulullah saw bersabda:

“Orang-orang Yahudi, kaum yang dimurkai Allah dan orang-orang Nasrani, kaum yang sesat.”

Rasulullah saw lalu membacakan petikan ayat Al-Qur’an:

“Mereka menjadikan tokoh (pemuka) agama mereka dan para rahib sebagai ‘tuhan-tuhan’ selain Allah…,”

Mendengar petikan ayat tersebut, Adi langsung berkomentar: “Aku kira mereka (orang-orang kafir Yahudi dan Nasrani itu) tidak menyembah para rahib atau tokoh agama mereka.”

Dari Adi bin Hatim, Rasulullah saw menjawab dengan sabdanya:

“Meski mereka tidak menyembah (rukuk dan sujud), tetapi mereka menaati dan mengikuti para tokoh agama dan rahib mereka, yang menghalalkan apa yang diharamkan (menghalalkan daging babi dan daging-daging yang haram lainnya dan menghalalkan minuman yang memabukkan, menyembah Nabi Isa as, membunuh manusia tanpa alasan yang benar, orang-orang kafir Yahudi itu menjalankan praktek riba dengan bunga tinggi, bahkan renten dengan bunga berbunga kepada bangsa lain selain Bani Israil dan sebagainya) dan mengharamkan apa yang dihalalkan (tidak shalat, melarang shalat, tidak menunaikan zakat, tidak menyembelih binatang atas nama Allah, melarang khitan, melarang bercerai atas perintah Paulus yang diucapkan di dalam khotbah-khotbahnya, kemudian ditulis di dalam surat-suratnya kepada para jemaatnya, di dalam Injil Matius tulisannya yang diteruskan oleh pengikut-pengikutnya dan sebagainya). Itu adalah esensi (makna) penghambaan.” Hadits riwayat Ahmad.

    Ketika orang-orang Nasrani dan Yahudi menaati perintah dan larangan para tokoh agama dan rahib mereka, sama halnya dengan penyembahan. Seorang muslim yang mengikuti dan menaati seseorang yang jelas-jelas salah dan menyimpang dari kebenaran atau menaati dan mengikuti pendapatnya atau ajarannya 100% tanpa ditelaah atau diteliti lebih dahulu (contohnya: sangat patuh dan membenarkan semua perkataannya dan taat tanpa syarat kepada tokoh masyarakat atau pemimpin umat/kyai/ulama), sama halnya seperti orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani yang menjadikan para tokoh agama mereka sebagai ‘tuhan-tuhan sesembahan’ selain Allah.

    Sangat dipahami kekhawatiran Rasulullah saw terhadap sikap figuritas para sahabat kepada beliau saw, seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani kepada para rahib dan orang-orang alim atau para Imam dan ulama-ulama mereka. Karenanya, Rasulullah saw melarang para sahabat berdiri untuk menghormatinya ketika beliau saw datang ke majelis atau tempat pertemuan mereka, sebagaimana Rasulullah saw melarang meninggikan makam seperti bangunan megah yang diagungkan dan dikeramatkan. Fenomena figuritas/sakralisasi/pengkultusan, biasanya menggejala di masyarakat paternalistic, yang cenderung bersikap ABS (Asal Bapak Senang). Mereka tidak hanya menerima pendapat figur atau tokoh mereka yang salah, tetapi mereka membelanya mati-matian, seakan-akan tokoh itu ma’sum (tidak pernah salah), padahal, manusia itu adalah tempatnya salah dan lupa. Bahkan cenderung mengagungkan tokoh itu, seolah-olah tokoh itu ‘tuhan’ dan si tokoh itu menganggap para pengikutnya ‘malaikat’ yang senantiasa setia dan patuh kepada titahnya tanpa syarat dan tanpa sikap kritis. Lain halnya dengan masyarakat Madani, yang wujud protipe-nya ada pada zaman Rasulullah saw di Madinah. Mereka menjunjung tinggi nilai-nilai ilahiah, tanpa mengurangi penghargaan sedikitpun kepada figur tokoh-tokoh masyarakatnya.

 Sumber: Tafsir Jalalain, Majalah Al-Wustho dan sumber lainnya.