18 Januari, 2016

BANGUNAN-BANGUNAN YANG DIBANGUN FIR’AUN

Necropolis adalah kawasan membentang sepanjang 40 km, di dalamnya terdapat lebih dari 100 buah Piramida yang menakjubkan, serta ratusan makam para kerabat firaun, pendeta, dan pejabat-pejabatnya, areanya lebih luas dari kawasan Lembah Raja di Luxor Barat. Masih tentang Necropolis alias Kota Pekuburan Giza – Memphis, kompleks yang dibangun Fir’aun Cheops (Khufu) dari dinasti ke-4 ini memiliki luas sekitar 13 hektare. Di dalamnya ada 3 Piramida utama yang dibangun oleh anak cucu Fir’aun Sneferu yang membangun Piramida bengkok di Dahshur. Yang tertinggi adalah yang dibangun oleh Fir’aun Cheops (2589 – 2566 SM), tingginya saat dibangun adalah 146 meter, tetapi kemudian runtuh di bagian ujungnya sehingga tinggal 136 meter. Yang sangat menarik, dari suatu kawasan Necropolis yang membentang sepanjang puluhan kilometer itu tidak ditemukan artefak istana para firaun secara signifikan di bekas ibukota Kerajaan Mesir Lama, Memphis. Hal ini karena istana para fir’aun Kerajaan Mesir Lama, Tengah dan Baru serta rumahnya para orang elit Mesir kuno itu dibuat dari kayu dan batu bata atau tanah yang dikeraskan, makanya cepat rusak dan hancur sehingga hampir 100% tidak ditemukan lagi peninggalannya. Justru yang masih bisa ditemukan di Giza adalah banyaknya bangunan Piramida kuburan para fir’aun, kerabatnya, para pejabatnya dan para pendeta karena kuburan tersebut di dibuat dari bebatuan yang tahan lama dengan harapan jenazah yang tersimpan di dalamnya tetap utuh, awet dan aman. Hal ini terkait dengan filosofi masyarakat Mesir kuno, yang memandang kehidupan sesudah mati jauh lebih penting dibandingkan kehidupan sekarang. Kebanyakan raja Mesir kuno bersegera menyiapkan kuburannya sesaat sesudah dilantik sebagai raja. Hari itu dilantik, hari itu juga para fir’aun tersebut merancang kuburan untuk menyimpan jenazahnya kelak jika meninggal. Baik dalam bentuk Mastaba, Piramida yang spektakuler, di gua karang ataupun di perbukitan batu yang berbentuk mirip Piramida yang dilubangi yang disulap menjadi Valley of The Kings (Lembah Raja-raja).

Tentang proses pembangunan Piramida yang masih kontroversial, sekaligus menakjubkan banyak pihak. Terutama Piramida Cheops yang paling tinggi dengan ruang raja alias King’s Chamber yang dibuat dari batu granit utuh seberat puluhan ton. Dalam wacana umum di kalangan arkeolog dipercayai bahwa Piramida Cheops (Khufu) dibangun selama lebih dari 20 tahun, hampir sepanjang masa kekuasaannya. Ia mengerahkan tenaga kerja lebih dari 100 ribu orang yang bekerja secara bergantian, dibantu tak kurang dari 20 ribu binatang ternak. Binatang-binatang ini digunakan untuk menarik batu-batu besar penyusun Piramida yang beratnya antara 2,5 ton sampai 15 ton, yang tidak mungkin tenaga manusia bisa mengangkatnya. Piramida bagian bawah berfungsi sebagai fondasi, sehingga harus berukuran lebih besar dan lebih kuat. Setiap blok batu berukuran lebar 1 meter, panjang 2,5 meter, dan tinggi 1,5 meter. Bobot setiap batu mencapai 6,5 – 10 ton. Sedangkan di lapisan yang lebih tinggi bobotnya lebih rendah, yaitu sekitar 1,3 ton, dengan ukuran 1 x 1 x 0,5 meter. Biasanya, para ahli Mesir kuno menyebut bobot rata-rata batu sebesar 2,5 ton. Jadi kalau dikalikan dengan jumlah batu Piramida sebanyak 2,5 juta, maka bobot Piramida Cheops itu kira-kira sebesar 6,25 juta ton di dalamnya dikubur jenazah Fir’aun Cheops. Tentu ini membawa konsekuensi desain yang luar biasa, mulai dari kekuatan tanah pendukungnya, pondasinya, jenis batu yang dipakai, ukuran dan kepadatannya, sampai kepada bentuknya agar tidak runtuh sebelum waktunya. Juga, tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya. Ternyata semua itu bisa diatasi dengan baik oleh arsitek Piramida Giza bernama : Hemienu, yang masih cucu Fir’aun Sneferu, anaknya Pangeran Nefer-Maat. Karena itu, untuk membangun Piramida Giza ini, kawasan yang dipilih adalah gunung batu kapur Giza. Ada empat alasan yang melandasinya yaitu sbb :
Yang ke-1        : Berhitung pada kemampuan atau daya dukung lahan terhadap beban Piramida yang demikian berat.
Yang ke-2        : Sekaligus sebagai tambang bahan baku untuk Piramida, dengan cara memotong-motong bukit kapur itu  dalam bentuk blok batu berukuran tertentu. Kesamaan jenis batu dengan lahan tempat Piramida itu dibangun menjadikan hitungan konstruksinya menjadi lebih sederhana dan terjamin.
Yang ke-3        : Pemilihan dataran tinggi ini menyebabkan Piramida terbebas dari banjir tahunan Sungai Nil yang selalu meluap menggenangi daerah yang luas, terutama sebelum dibuat bendungan Aswan.
Yang ke-4        : Ini adalah kawasan barat Sungai Nil, yang memang dipersyaratkan bagi kawasan pemakaman para penyembah Dewa Matahari.

Di Kota Aswan terdapat tambang batu granit, karena menurut catatan sejarah, sejumlah situs bersejarah menggunakan batu granit Aswan sebagai pelapis bangunan pentingnya. Diantaranya adalah Chamber of The King atau ruang mumi fir’aun yang ada di Piramida Giza. Di sepanjang tepian Sungai Nil itu banyak terdapat bukit-bukit granit merah keabu-abuan. Dan di perbukitan di sekitar Aswan, terdapat sejumah kawasan yang mengandung batu granit merah dengan kualitas tinggi. Batu granit Aswan disukai oleh para fir’aun untuk melapisi bagian tertentu dari Piramida, agar bisa bertahan ribuan tahun. Sebab, sebagian besar bebatuan Piramida itu memang dibangun dari batu kapur yang tidak sekeras granit. Sehingga lebih mudah lapuk termakan usia. Sedangkan granit dengan kepadatan yang lebih tinggi memiliki kekerasan dan daya tahan yang lebih lama, serta memberikan hawa sejuk ke dalam ruangan. Hanya saja, yang masih membuat penasaran para peneliti peradaban Mesir kuno adalah tentang bagaimana para pekerja di zaman itu membawa bongkahan-bongkahan batu granit yang berukuran besar dari Aswan ke Giza. Karena bagian atas Chamber of The King itu ternyata terbuat dari batu granit utuh seberat 50 ton. Berdasarkan catatan dan lukisan pada kertas papirus, memang disimpulkan bahwa batu-batu dari Aswan dibawa ke Giza yang berjarak lebih dari 900 km, dengan menggunakan perahu. Mereka memanfaatkan Sungai Nil sebagai jalur transportasinya. Tetapi, perahu sebesar apakah yang mampu mengangkut batu seberat itu? Bagaimana pula teknis loading-nya supaya perahu tidak tenggelam? Dan bagaimana caranya, agar batu itu bisa sampai ke kompleks Piramida Giza, bahkan dinaikkan ke bagian atas Piramida pada ketinggian sekitar 100 meter dari atas tanah? Sebagian pertanyaan itu kini mulai terjawab. Di sebelah Piramida Giza ditemukan ada sebuah perahu yang dikenal sebagai Solar Barque alias Perahu Matahari. Perahu ini dipercaya sebagai alat angkut batu-batu Piramida dan batu-batu granit itu dimuat oleh dua buah perahu yang bergerak secara paralel dengan dihubungkan papan pengangkut batu di bagian tengahnya. Jadi, dua buah perahu itu seperti menjadi ‘pemikul’ di kanan kiri batu. Dengan cara ini, bobot 50 ton menjadi terbagi separonya pada setiap perahu. Selain itu, saat bongkar muatnya juga menjadi lebih rasional. Dan tidak membuat perahu oleng atau pun tenggelam. Karena batu granit tersebut up-loaded dari arah depan perahu langsung ke arah papan pengangkut, dengan menggunakan papan miring yang diberi gelondongan kayu sebagai roller-nya. Begitu juga sebaliknya, ketika down-loaded. Setelah itu, 2 perahu pemikul ditarik oleh perahu lain yang ada didepannya, mengikuti aliran Sungai Nil menuju ke kawasan Giza. Untuk menempuh jarak 900 km itu, perahu membutuhkan waktu sebulan, karena kecepatan aliran Sungai Nil hanya sekitar 30 km per hari. Masyarakat Mesir kuno ternyata tidak asing dengan ilmu-ilmu fisika dan matematika terkait dengan konstruksi bangunan, bahkan mereka termasuk ahli di dalam bidang ini. Sehingga bisa membuat bangunan-bangunan yang megah dan menakjubkan seperti berbagai Piramida tempat ia dimakamkan, yang bisa bertahan selama ribuan tahun. Mereka memanfaatkan hukum alam yang telah tersedia di sekitarnya dengan sangat cerdas dan cerdik. Maka, sesampai di kawasan Giza, perahu pengangkut batu-batu granit itu dibelokkan lewat kanal-kanal menuju depan kompleks Piramida, dengan cara ditarik oleh ratusan orang. Dugaan itu menjadi rasional, karena ternyata antara Sungai Nil dan kompleks Piramida itu memang ada kanal tua, yang disebut sebagai Kanal Memphis. Dan ujungnya berada di sebelah patung Spinx yaitu singa berkepala manusia, di dekat Piramida Cheops..!

Di lokasi Lembah Raja dipilih oleh Fir’aun Thutmosis (Thotmses) I yang berkuasa di tahun 1528 – 1510 SM dan kemudian diikuti oleh raja-raja sesudahnya sebagai kuburannya. Dalam mitologi Mesir kuno, jenazah para mumi akan memasuki alam keabadian jika mereka dikuburkan di bawah bangunan berbentuk Piramida. Karena itu, meskipun mereka tidak membangun Piramida seperti di zaman Old Kingdom dan sebagian Middle Kingdom, para fir’aun Kerajaan Mesir Baru termasuk Fir’aun Merneptah menerapkan filosofi yang sama, yaitu memilih perbukitan batu yang berbentuk mirip Piramida sebagai makamnya. Makam, dalam tradisi para penyembah Matahari selalu ditempatkan di tepi barat Sungai Nil, ni menjadi simbol pertemuan mereka dengan sang Dewa Matahari Amun-Ra di tempat tenggelamnya di ufuk barat. Karena itu, di dinding-dinding lorong makam itu dipahatkan sebentuk cerita, bahwa orang yang mati akan bertemu dengan Dewa Matahari setelah berlayar menggunakan perahu menuju alam keabadian dengan melewati 12 pintu. Setelah melewati pintu-pintu itu, mereka berharap bertemu dengan Dewa Matahari Amun Ra yang mereka sembah saat Matahari ‘terbit di esok hari’ di alam keabadian. Di dalam perut bukit batu itu dibuat lorong panjang yang menuju ke ruang penempatan mumi di bagian paling ujung. Di sepanjang lorong itulah dibuat ruang-ruang untuk menempatkan perbekalan. Dan di sepanjang dindingnya dipahatkan berbagai ornamen dan gambar yang mengisahkan sejarah hidup sang firaun sampai perjalanannya menuju alam keabadian. Cerita itu disebut sebagai ‘Kitab Kematian’. Jika jenazah para firaun Kerajaan Mesir Baru di Lembah Raja di sebelah barat Sungai Nil dimasukkan ke dalam perut ‘bukit batu asli’ berbentuk mirip Piramida. Maka di Necropolis ini jenazah para firaun Kerajaan Mesir Lama dan kerabatnya dimasukkan ke dalam perut ’bukit batu buatan’ bangunan berbentuk Piramida yang menjulang tinggi puluhan meter ke angkasa. Hal ini tentu saja jauh lebih dahsyat karena membutuhkan keahlian dan waktu konstruksi selama bertahun-tahun.

Ide dasar (pertama) pembuatan Piramida datang dari seorang arsitek multitalenta yang terkenal zaman itu bernama Imhotep, seorang arsitek yang hidup pada abad 27 SM. Awalnya, makam-makam fir’aun Mesir kuno hanya berbentuk Mastaba. Yaitu sebuah ruangan yang dibentuk dari tumpukan batu yang di dalamnya ada peti mumi firaun. Imhotep memgembangkannya menjadi sebuah bangunan Piramida yang monumental. Karena jasa dan ide-idenya yang brilian, di kawasan Necropolis itu kini didirikan sebuah Museum Imhotep. Di dalamnya, kita bisa menyaksikan bagaimana karya-karyanya dalam membangun sebuah Piramida. Proses pembangunan sebuah Piramida benar-benar pekerjaan raksasa yang luar biasa menakjubkan. Baik dari segi jumlah pekerja yang terlibat, maupun jumlah batu penyusunnya. Diperkirakan, batu penyusunnya berjumlah 2,3 – 2,5 juta, tergantung pada ukurannya. Sebab, ukuran batu di bagian bawah adalah lebih besar dibandingkan yang berada di bagian atas. Karya pertama Imhotep adalah Piramida tertua Sakkara, bentuknya unik berbeda dari Piramida-piramida lainnya. Bangunan yang menjadi makam Fir’aun Djoser dari Dinasti ke-3 di zaman Old Kingdom itu berbentuk bangunan bertingkat yang mengecil di bagian paling atas, tingginya 60 meter, terdiri dari 6 tingkat, terbuat dari blok-blok batu kapur yang ditumpuk secara berjenjang. Piramida ini sering juga disebut sebagai Piramida Djoser, nama fir’aun yang berkuasa di tahun 2667 – 2648 SM.

Imhotep adalah orang Qibthi (Mesir asli) jelas dia bukan Nabi Yusuf as bin Ya’qub as bin Ishaq as bin Ibrahim as yang orang Israil. Makanya Imhotep tidak tahu cara menyimpan biji gandum supaya awet selama 7 tahun masa paceklik dan setelah 7 tahun masa kesulitan berlalu, biji-biji gandum tersebut yang disimpan bersama tangkainya tidak mengalami perubahan sedikitpun, baik isi, kandungan gizinya maupun kemampuannya untuk tumbuh, berkembang dan berbuah, sehingga masih bisa dibuat bibit untuk ditanam lagi, tidak punya pikiran untuk membuat 3 kanal yang dilewatkan ke daerah pertanian seluas 340.000 ha di Kota Fayoum untuk mengalirkan air Sungai Nil ke Danau Qarun yang memiliki ketinggian 45 meter di bawah laut. Sehingga sulit menggunakan air danau tersebut jika tidak dibuatkan kanal untuk menyambungkan Sungai Nil dengan Danau Qarun yang berjarak 100 km untuk mengairi kawasan yang lebih tinggi di sekitarnya supaya air Danau Qarun itu bisa dimanfaatkan yang membuat kota tersebut menjadi daerah paling subur dan menjadi lumbung pangan di Mesir sampai sekarang. Padahal Fir’aun Ramses II gagal meniru membuat kanal seperti yang ada di Fayoum dengan menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Tengah karena dia tidak mendapat pertolongan dari Allah. Imhotep tidak tahu cara membuat kincir angin yang berjumlah ratusan untuk meratakan distribusi irigasinya untuk bisa mengatasi masa paceklik panjang di Mesir dan daerah-daerah di sekitarnya dan juga Imhotep tidak bisa membangun 360 desa untuk lumbung pangan hanya dalam waktu sekitar 2 bulan saja yang mustahil selesai dikerjakan jika tanpa pertolongan dari Allah dengan diturunkan malaikat-malaikat-Nya untuk membantu Nabi Yusuf as pada abad ke-17 SM karena zaman itu belum ada alat-alat modern. Yang tahu semua hal tersebut di atas hanyalah Nabi Yusuf as karena dia seoramg muslim dan seorang rasul Allah yang mendapat pertolongan dan pengetahuan itu dari Allah melalui wahyu, sementara Imhotep tidak mendapatkan wahyu dari Allah karena dia bukan nabi apalagi rasul, Imhotep adalah orang musyrik penyembah berhala. Paceklik panjang itu terjadi abad ke-17 bukan pada abad ke-27 zaman Fir’aun Djozer berkuasa tetapi ketika penguasa Mesir pada zaman itu dipegang bangsa asing yaitu bangsa Hyksos yang sezaman dengan Nabi Yusuf as sewaktu tinggal di Mesir dahulu. Ini dibuktikan berdasarkan Dokumen Hieroglyph yang tertera dalam Daftar Penguasa Mesir di Turin, disebutkan, pernah penguasa Mesir kuno tidak bergelar “Fir’aun” (Per-Ah, Pher-Aoh) melainkan bergelar  “Malik“ (Raja).  Dokumen Hieroglyph di situs Turin itu menunjukkan mukjizat Al-Qur’an surat Yusuf ayat 43, 50, 51, 54, 72, 76 karena di ayat-ayat tersebut penguasanya disebut raja bukan fir’aun, jadi bisa dipastikan bukan Fir’aun Djozer karena dia orang Qibthi dan penyembah berhala sama dengan Imhotep. Raja Hyksos yang mendapatkan mimpi dari Allah tentang 7 ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi betina yang kurus-kurus (Yusuf ayat 43) yang ditafsirkan oleh Nabi Yusuf as bahwa akan terjadi 7 tahun masa subur kemudian akan terjadi 7 tahun masa paceklik (Yusuf ayat 47-49). Dan mimpi Raja Hyksos tersebut bukan dari Dewa Khnum dewa Sungai Nil, nama yang di buat-buat atau diada-adakan oleh para penyembah berhala bangsa Mesir kuno, lagi pula dewa-dewa tidak ada, itu hanya angan-angan kosong dari setan untuk menyesatkan manusia yang mengikuti langkah-langkah mereka.

Dan Bani Israil datang ke Mesir yang waktu itu masih berjumlah puluhan orang pada tahun ke-2 masa paceklik panjang masih berlangsung. Ini terbukti dalam penelitian arkeologi modern, bahwa kawasan Fayoum itu ternyata pernah menjadi permukiman mereka. Bani Israil saat itu bisa memperoleh izin tinggal di sana pada abad ke-17 SM karena yang berkuasa di Mesir pada waktu itu adalah bangsa Hyksos yang berasal dari kawasan yang sama yaitu dekat Palestina. Di masa itu, Kerajaan Mesir Menengah kembali terpecah belah, kondisi Mesir yang lemah mengundang invasi musuh dari luar dengan ditandai serangan bangsa Hyksos yang dengan mudah menguasahi dan menjajah Mesir. Bagi bangsa Mesir, masa kekuasaan bangsa Hyksos adalah kecelakaan sejarah, memang ironi, bangsa Mesir yang kuat serta memiliki pengetahuan dan kebudayaan yang tinggi dapat ditaklukan oleh bangsa Hyksos, yaitu suatu bangsa penggembala yang dianggap kasta (ras) rendah bagi bangsa Mesir kuno dan merupakan pendatang di wilayah kekuasaan Kerajaan Mesir, padahal fir’aun-fir’aun Mesir itu mengaku dirinya “tuhan” dan rakyatnya juga mempercayainya sebagai “tuhan” (Dewa Horus yaitu dewa Langit dan pelindung Dewa Matahari Ra), mengapa bisa ditaklukan oleh bangsa manusia, lebih ironi lagi bangsa manusia itu dianggap ras rendah. Oleh karena itu, keturunan Dinasti ke-XIV yang kakek moyangnya pernah ditaklukan dan disingkirkan ke Thebes (Luxor) kemudian diturunkan derajatnya dari fir’aun Mesir menjadi hanya sebagai pangeran atau vazal (penguasa bawahan) dan harus membayar pajak kepada Raja Hyksos. Maka Pangeran Ahmose berupaya untuk menghilangkan jejak sejarah bangsa Hyksos dengan mengobarkan perang kemerdekaan dan akhirnya berhasil mengalahkan bangsa Hyksos dan yang masih tersisa melarikan diri sampai ke Saruhen - Palestina, Pangeran Ahmose dan bala tentaranya terus mengejar, kemudian memusnahkan mereka setelah dikepung selama 5 tahun. Tetapi bangsa Hyksos lebih cerdik dalam strategi perang dan terampil membuat alat-alat pertanian, senjata dan roda kereta tempur dari bahan perunggu. Bangsa Hyksos telah mengenal kuda untuk menarik kereta perang dan sudah mengenakan zirah (baju besi) yang dipakai saat peperangan sebelum bangsa Mesir mengenalnya. Pengetahuan bangsa Hyksos tentang teknologi yang masih terasa asing bagi bangsa Mesir tersebut membuat bangsa Mesir tertunduk lesu dan kemudian menyerah. Akhirnya Kerajaan Mesir Baru menyerap tehnologi dan budaya bangsa Hyksos sehingga Mesir menjadi kerajaan yang semakin kuat dan pertaniannya menjadi semakin maju dengan tehnologi baru dari bangsa Hyksos.
Qur’an surat Al-Qashash ayat 38 :
38. (Dan berkata Fir’aun) Merneptah (: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku sendiri. Maka bakarlah hai Haman) dia hidup sekitar abad ke-12 SM dan dia adalah pejabat tinggi kerajaan dan orang kepercayaan Fir’aun Merneptah dan tidak pernah diperintah untuk membangun Piramida, karena Fir’aun Merneptah dan semua raja Dinasti ke-19 dan keluarganya di kubur di Lembah Raja yaitu perbukitan batu berbentuk mirip Piramida yang dilobangi untuk kuburan mereka dan tidak dikubur di dalam Piramida (untukku tanah liat) yang dicetak menjadi batu bata merah, yaitu bahan untuk membangun istana, menara, rumah dan semacamnya. Tetapi jika para fir’aun Mesir kuno membangun kuil atau kuburan, maka mereka menggunakan bahan dari bebatuan, maksudnya supaya bangunannya tahan lama sehingga mumi di dalamnya tetap utuh, awet dan aman sekaligus untuk mempersiapkan supaya perjalanannya ke akhirat lebih lancar. Menurut kepercayaan bangsa Mesir kuno penyembah berhala (pagan), fir’aun yang masih hidup menjadi Dewa Horus, sedangkan fir’aun yang telah mati itu dipercaya menjadi Dewa Osiris dan jiwanya  dinamai ‘Ka’, dipercaya masih tetap berada ditubuhnya jika muminya tidak rusak, karena itu mumi fir’aun harus dijaga dengan baik supaya tidak rusak, karena jika muminya rusak, dia tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai raja bagi orang-orang mati, jika hal ini terjadi, maka siklus tersebut akan putus dan malapetaka akan menimpa Mesir. Tetapi kenyataannya, mengapa fir’aun-fir’aun yang telah mati dan menjadi mumi tersebut tidak bisa melindungi raja, pejabat, rakyat dan negeri Mesir dari malapetaka azab Allah? Padahal mumi Ramses II yang baru meninggal belum 10 tahun itu, tentu saja muminya masih bagus dan mumi fir’aun-fir’aun yang lain juga belum rusak. Salah satu contohnya, yaitu ketika zaman Nabi Musa as berdakwah di Mesir, lalu Merneptah serta kaumnya mendustakannya dan malah makin bengis kepada Bani Israil, sehingga Allah mengazab mereka dengan 10 macam azab yang menimpa Mesir dan orang-orang Mesir, kemudian Allah tenggelamkan Fir’aun Merneptah, Haman dan bala tentaranya ke dalam laut. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan bangsa Mesir kuno pagan itu hanya tipuan setan dengan membangkitkan angan-angan kosong kepada manusia untuk menyesatkan mereka yang menjadikan setan sebagai pemimpinnya. Piramida adalah kuburan untuk menyimpan jenazah para fir’aun dan keluarganya serta benda-benda yang menyertai jenazah mereka sebagai ‘bekal hidup di sana’ (Kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi) ayatnya menyebut bangunan (menara) bukan Piramida, karena bagi orang Mesir, Piramida adalah kuburan untuk menyimpan mumi fir’aun Mesir dan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk membangunnya (supaya aku dapat naik melihat Tuhan) nya (Musa dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”).
Qur’an surat Al-Mu’min ayat 36-37 :
36. (Dan berkatalah fir'aun : “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi) menara (supaya aku sampai ke pintu-pintu) Fir’aun Merneptah dan sebagian besar fir’aun New Kingdom tidak pernah membangun Piramida, karena membutuhkan waktu yang sangat lama, tenaga dan biaya yang sangat besar dan harus dirancang oleh arsitek yang handal dan keahliannya di atas rata-rata yang bisa menghasilkan bangunan Piramida yang megah, kuat dan tahan terhadap perubahan kondisi alam yang sangat ekstrim, sehingga bisa bertahan ribuan tahun. Dan arsitek itu adalah Imhotep yang membangun Piramida Sakkara, para arsiteknya Fir’aum Sneferu yang membangun Piramida Merah (Red) dan Bengkok (Bent) di Dahshur dan cucunya Fir’aun Sneferu yaitu Hemienu anaknya Pangeran Nefer-Maat yang membangun Piramida di komplek pekuburan Giza yang bisa bertahan sampai sekarang karena bahan konstruksinya dari bebatuan inti padat, sehingga disebut Piramida asli. Dan hanya  fir’aun-fir’aun Dinasti ke-3 dan ke-4 saja yang bisa membangun Piramida yang berkualitas sangat tinggi. Sementara untuk Dinasti ke-5 dan seterusnya, karena mengalami kemunduran kejayaan sehingga mengalami kemerosotan ekonomi negara, juga arsiteknya tidak handal dan bahan konstruksi Piramidanya dari bahan-bahan yang kurang berkualitas, yaitu puing-puing bebatuan yang dibentuk blok-blok batu kapur kecil-kecil seperti batu bata tetapi ukurannya lebih besar. Hal ini menyebabkan Piramida yang dibangun oleh raja-raja Dinasti ke-5 dan seterusnya, semakin lama kualitasnya semakin rendah, maka bangunannya disebut Piramida tak asli. Sehingga Piramida mereka sekarang sebagian tinggal puing-puing dan sebagian lagi tinggal gundukan pasir karena diperparah oleh erosi dari angin gurun yang sangat kencang,  amplitudo suhu di daerah gurun yang ekstrim dan sinar Matahari yang sangat terik selama ribuan tahun menyebabkan cepat terjadi pelapukan batuannya, apa lagi jika Piramida itu bahan konstruksinya dari tanah liat yang dicetak lalu dibakar (batu bata merah), maka akan lebih cepat lagi hancurnya. Dan yang membangun Piramida di Sakkara, Dahshur, Necropolis Kota Giza, Hawara, El-Lahun dan lainnya adalah fir’aun-fir’aun Old Kingdom dan sebagian fir’aun-fir’aun Middle Kingdom dari abad 27 SM - 18 SM untuk kuburan mereka. Untuk membangun Piramida itu dibutuhkan waktu puluhan tahun tergantung besar kecil Piramidanya, apa lagi membangun Piramida Giza yang paling besar, maka dibutuhkan waktu lebih dari 20 tahun. Sedangkan Nabi Musa as dari Madyan kembali ke Mesir abad ke-12 SM, dan tinggal di Mesir untuk berdakwah kepada Bani Israil, Fir’aun Merneptah dan kaumnya itu tidak sampai 10 tahun, lalu Nabi Musa as pergi lagi bersama Bani Israil dengan meninggalkan Mesir tujuannya ke Palestina, untuk melarikan diri dari penindasan dan penganianyaan Fir’aun Merneptah dan kaumnya yang melampaui batas itu.
37. yaitu (pintu-pintu Langit, supaya aku dapat melihat Tuhan) nya (Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan) yang benar (dan tipu daya fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian) untuk dirinya sendiri dan pengikut-pengikutnya.

Menurut penelitian dari para ilmuwan dan arkeolog, bebatuan bahan baku pembuatan Piramida di Mesir adalah batu kapur dan batu granit yang diambil dari beberapa tempat, yaitu batu kapur dari Tura, batu granit dari Aswan (batu granit jika mengalami pelapukan akan menjadi tanah liat putih)tembaga dari Semenanjung Sinai untuk dibuat pin sebagai hiasan pintu-pintu batu yang ada di dalam Piramida dan kayu dari Libanon untuk membuat 3 peti mati pembungkus Sarchofagus (peti mati yang terbuat dari batu granit) dan 2 Coffin (peti mati berbentuk tubuh manusia) yang terbuat dari kayu dan 1 coffin yang terbuat dari emas untuk tempat mumi fir’aun, semuanya diangkut melalui Sungai Nil. Buruh-buruh pekerja yang membangun Piramida adalah pekerja bayaran bukan budak yang berasal dari buruh miskin dan petani Mesir dan rata-rata meninggal pada usia muda yaitu umur 30 tahunan akibat mengalami cedera tulang belakang karena membawa beban yang sangat berat, padahal bangsa Mesir kuno ribuan tahun yang lalu itu badannya tinggi besar sama dengan badannya Bani Israil pada zamannya Nabi Musa as yang juga tinggi besar. Kemudian terungkap pula terdapat cara pertolongan gawat darurat bagi buruh yang cedera dalam kecelakaan kerja dan banyak nyawa yang melayang dalam proses pembuatan Piramida.

TENTANG BATU KAPUR, TANAH LIAT DAN FLUKTUASI SUHU GURUN :
a.      Batu Kapur(CaCO3)
Batu kapur merupakan komponen yang banyak mengandung : Kalsium Karbonat, Magnesium Karbonat, Alumina Silikat, lumpur, pasir, kuarsa, senyawa besi, sisa-sisa organik, tanah liat (makanya ketika diteliti blok-blok batu di Piramida tersebut terdapat kandungan tanah liatnya) dan bahan-bahan lainnya. Batu kapur adalah batuan sedimen yang mudah lapuk, terlebih di daerah gurun akan sangat cepat dan mudah lagi mengalami pelapukan. Batu kapur yang mengandung senyawa besi dan sisa-sisa organik menyebabkan menjadi berwarna abu-abu hingga kuning.
b.      Tanah Liat/Clay (Al2SiO7.xH2O)
Semua jenis tanah liat adalah hasil pelapukan kimia yang disebabkan adanya pengaruh air dan gas CO2 dari batuan adesit, granit dan treakti. Batu-batuan ini menjadi bagian yang halus, tidak larut dalam air dan mengendap berlapis-lapis, lapisan ini tertimbun tidak beraturan. Tanah liat bercampur dengan material lain antara lain  Besi Oksida, Kalium Oksida, Natrium Oksida, Phosphor Oksida dan bahan Organik. Komponen utama pembentuk tanah liat adalah senyawa alumina silikat hidrat. Sifat dari tanah liat bila dipanaskan atau dibakar akan memampat dan menjadi keras. Sumber : rhdyah.blogspot.com.
c.       Angin dan Fluktuasi Suhu Gurun
Angin gurun yang sangat kencang menyebabkan erosi batuan, sinar Matahari yang sangat terik dan perbedaan suhu yang sangat tajam di gurun antara siang dan malam, jika siang suhunya bisa mencapai 50 derajat Celsius bahkan bisa lebih dan malamnya bisa turun tajam sampai 0 derajat Celsius bahkan lebih turun lagi suhunya, menyebabkan bebatuan yang keras dan besar cepat mengalami pelapukan secara fisika yang menyebabkan materi-materi batuan di daerah gurun menjadi hancur melapuk, yang berukuran besar menjadi kecil, yang berukuran kecil menjadi kerikil, yang kerikil melapuk menjadi pasir. Dan ketika angin gurun yang sangat kencang mengeruk batuan yang hancur dan mengangkut pasir-pasir halus, lama-kelamaan menumpuk menjadi bukit pasir. Jika pelapukan terus terjadi dalam waktu yang lama, misalnya selama ribuan tahun, maka akan mendukung terbentuknya lautan pasir atau membuat gurunnya semakin luas, termasuk bebatuan Piramida. Maka banyak Piramida yang kualitas bebatuannya tidak bagus dan berukuran kecil-kecil akan menjadi puing-puing bahkan cepat menjadi gundukan pasir. Batu granit dan batu basalt terutama batu granit adalah batuan beku yang sulit lapuk, karena pelapukannya membutuhkan waktu ribuan tahun untuk menjadi tanah liat merah dan putih.
Silahkan datang ke Sakkara, Dahshur, Giza, El-Lahun dan lainya di Mesir Utara untuk melihat Piramida dan ke perbukitan batu di Lembah Raja - Luxor Barat di Mesir Selatan tempat mumi fir’aun-fir’aun dan keluarganya dikuburkan, lalu buktikan, apakah kuburan fir‘aun-fir’aun tersebut terbuat dari batu gunung atau batu bata?

Sumber : Al-Qur’an, Jelajah Sungai Nil oleh Agus Mustofa