25 Juli, 2016

PERAN TULANG EKOR DALAM PROSES KEBANGKITAN

Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah saw bersabda :
“Di antara dua tiupan sangkakala lamanya 40 (entah 40 hari, bulan, atau tahun). Kemudian Allah menurunkan air dari Langit, mereka pun bangkit seberti biji sawi menumbuhkan tunasnya. Tidaklah setiap manusia melainkan akan binasa, kecuali satu tulang sulbi, dengannya makhluk dibangkitkan pada hari Kiamat”.
Hadits itu mempertegas pemaparan di atas bahwa manusia akan dibangkitkan kembali pada hari Kiamat kelak dari tulang sulbinya. Dalam hadits ini Rasulullah saw juga menggambarkan proses kebangkitan manusia itu seperti biji sawi menumbuhkan tunasnya.
Hadits ini senada dengan Firman Allah  di dalam Al-Qur’an surat Nuh ayat 17-18 :
17. (Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya).
18. (Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu) daripadanya pada hari Kiamat (dengan sebenar-benarnya).
Dalam ayat tersebut Allah mengibaratkan proses penciptaan manusia dengan tumbuhnya pepohonan. Kemudian Allah mengibaratkan proses kebangkitan mereka bagaikan munculnya pepohonan di muka Bumi. Sesungguhnya seluruh makhluk akan dibangkitkan secara serentak kelak setelah tiupan sangkakala yang ke-2. Pada ayat-ayat yang lain Allah menggambarkan penciptaan manusia dari tanah dalam berbagai bentuknya, proses manusia pertama diciptakan dari shalshaal (tanah kering seperti tembikar) yaitu oksigen bersenyawa dengan fakhkhar (zat karbon) dan hamaain yaitu nitrogen (lumpur hitam) dan tiin (tanah) yaitu zat air hidrogen kemudian bersenyawa dengan lazib (tanah liat) yaitu zat besi dan turaab (tanah) yaitu zat-zat anorganik, dalam proses persenyawaan tersebut, kemudian membentuk protein, lalu menjelmalah proses pergantian yang disebut substitusi, lalu menggempurlah electron-elektron sinar cosmic yang mewujudkan sebab pembentukan (formasi) dinamai sebab wujud (Causa Formasi) menjadi wujud manusia (Adam) berupa badan materi lalu Allah tiupkan roh ke dalam badan kasarnya (materinya) tersebut, maka hiduplah ia menjadi manusia pertama, Al-Hijr ayat 29. Untuk keturunannya Nabi Adam as berasal dari saripati tanah lalu menjadi air yang hina (sperma) yaitu air yang dipancarkan ke dalam rahim pada umumnya, atas ijin Allah, jadilah manusia baru. Semua ayat tentang penciptaan manusia itu menggambarkan tahapan tahapan yang berkesinambungan. Tujuh tahapan pertama (penciptaan dari tanah kering seperti tembikar, lumpur hitam, tanah yang mengandung zat air, tanah liat dan tanah yang mengandung zat-zat anorganik) merupakan gambaran penciptaan Nabi Adam as dan Hawa.
Sebagaimana penciptaan Adam, proses penciptaan anak keturunannya pun tidak mengalami perbedaan hingga saat ini dan akan terus berlanjut hingga hari Kiamat melalui praktik perkawinan. Bahkan bentuk dan tahap-tahap pertumbuhan manusia pun tidak ada bedanya karena mereka semua berasal dari asal yang sama yaitu tulang sulbi nenek moyang mereka, yaitu Nabi Adam as. Objek pesan dalam ayat ini adalah seluruh manusia sebagai makhluk yang tercipta dari unsur tanah. Tidak hanya manusia pertama yang diciptakan dari tanah, karena manusia yang lahir saat ini pun sesungguhnya berasal dari tanah atau saripatinya. Sebab, semua manusia memakan tumbuhan dan berasal dari hasil pangan lainnya yang ditumbuhkan oleh tanah. Begitu pula daging dan susu yang didapatkan dari hewan ternak yang memakan tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan yang dikonsumsi manusia dan hewan-hewan itu, dengan izin Allah, mampu memproduksi makanannya sendiri dengan menyerap unsur-unsur tanah dan air. Tumbuh-tumbuhan juga menyerap karbondioksida melalui udara, mengurainya menjadi asam, dan kemudian menyebarkan oksigen. Kemudian, dengan bantuan sinar Matahari tumbuhan itu mengembalikan susunan sel-sel karbon, hidrogen, rangkaian karbohidrat, minyak, dan lemak yang kemudian dikonsumsi oleh manusia dan binatang.
Semua tumbuhan diberi kemampuan untuk menyerap air dari tanah. Unsur makanan yang terdapat pada air itu dibawa melalui akar untuk kemudian didistribusikan ke semua bagian tumbuhan. Sebagaimana akar dan daun juga memiliki peran yang sangat penting bagi tumbuhan. Daun pada sebatang pohon atau tumbuhan mengandung zat pewarna terutama pewarna hijau daun atau klorofil. Bahan ini mampu menyerap beragam spektrum cahaya Matahari, kecuali spektrum hijau. Sinar Matahari itu kemudian dipergunakan oleh tumbuhan dalam proses asimilasi cahaya. Beberapa tumbuhan menggunakan zat pewarna lain selain hijau sehingga daun-daunnya berwarna merah, ungu, kuning, atau cokelat. Pada setiap permukaan daun terdapat pori-pori yang sangat kecil dan halus yang menjadi jalan masuk dan keluar beragam gas seperti karbondioksida, oksigen, dan uap air. Zat pewarna tumbuhan, baik yang hijau ataupun yang lainya, merangkap sebagian energi Matahari yang kemudian digunakan untuk menyempurnakan rangkaian reaksi kimiawi, termasuk mengekstraksi bagian-bagian air menjadi oksigen yang kemudian dilepas oleh tumbuhan itu ke udara melalui pori-pori daun. Sementara melepaskan oksigen ke udara, daun-daun itu menyerap hidrogen yang kemudian bersenyawa dengan karbondioksida yang juga diserap oleh daun dari udara. Dari proses kimiawi berbagai zat itulah tumbuhan itu menghasilkan glukosa dan oksigen.
Kemudian tumbuhan itu mempergunakan sebagian glukosa yang dihasilkan dari proses kimiawi yang pertama untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhannya. Sementara itu, sebagian glukosa lainnya diproses menjadi zat, garam-garam, dan karbohidrat yang membangun berbagai sel tumbuhan yang berbeda atau yang kemudian disimpan pada buah, daun, ranting, biji, akar, dan lain-lain yang kelak dikonsumsi oleh manusia atau hewan. Sesungguhnya di dalam tanah yang ditumbuhi berbagai tanaman, terkandung begitu banyak unsur, zat, kandungan, senyawa, dan lain-lain. Kendati demikian, setiap tumbuhan dibekali kemampuan untuk memiliki zat-zat dan unsur apa saja yang ia butuhkan dan cocok untuk pertumbuhannya. Ia menyeleksi zat-zat yang terdapat di dalam tanah itu kemudian menyerap dan mengalirkan ke daun dan bagian-bagian lainnya. Jika zat-zat atau unsur yang diserapnya itu tidak dapat diterima langsung oleh bagian-bagian tumbuhan melalui air, tumbuhan itu akan memproses unsur tanah yang dibutuhkannya melalui tekanan-tekanan osmosis sehingga masing-masing bagian tumbuhan dapat memenuhi kebutuhannya.
Air yang membawa saripati makanan itu mengalir mulai dari akar, memasuki bagian batang pohon, kemudian ke dahan, ranting-ranting kecil, lalu ke daun-daun, bunga, buah, dan terus naik mencapai bagian tertinggi dari suatu pohon. Semua bagian pohon atau tumbuhan itu mendapat porsi makanan yang mereka butuhkan untuk terus tumbuh. Setelah semua bagian tumbuhan memperoleh jatahnya, aliran itu terus membumbung kemudian dikeluarkan dalam bentuk uap air melalui dedaunan. Diperkirakan, sebatang pohon yang cukup besar akan mengeluarkan kurang lebih seribu air setiap harinya yang kemudian menguap menjadi oksigen dan uap air. Setelah saripati makanan matang dan berubah menjadi glukosa, karbohidrat, zat-zat lainnya, semua senyawa itu didistribusikan kembali ke bagian-bagian tumbuhan mulai dari puncak pohon hingga ke ujung akar, terutama ke bunga dan buah. Beberapa jenis tumbuhan yang tidak memiliki tangkai dan menjalar di permukaan tanah mendapat asupan air yang lebih banyak pada semua bagiannya, dan kadar air yang menguap pun lebih banyak dibanding jenis tumbuhan lain. Tujuan semua proses itu adalah pendistribusian berbagai unsur yang terdapat dalam tanah menjadi makanan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan tumbuhan itu dalam perkembangannya. Semua zat dan unsur itu dibagikan ke semua bagian tumbuhan, disimpan dalam bentuk buah atau biji, juga menjadi minyak dan lemak untuk kemudian menjadi sumber makanan tunas-tunas baru. Zat-zat itu pulalah yang kemudian dikonsumsi oleh manusia dan hewan, baik melalui daun, buah, ataupun bunga dan tangkai tumbuhan itu.
Setiap makhluk hidup membutuhkan aneka sari makanan yang semua berasal dari tanah. Manusia maupun hewan sangat menggantungkan suplai makananya pada tumbuhan, yang secara alami mampu mengubah berbagai unsur tanah menjadi sari makanan yang mereka konsumsi. Seandainya tidak ada proses alami seperti ini, niscaya tidak ada kehidupan di planet ini. Manusia dan hewan dapat memenuhi kebutuhannya terhadap karbohidrat, protein, vitamin, lemak, dan zat-zat lainnya dengan mengonsumsi tumbuhan yang secara alami telah memproses berbagai unsur dalam untuk menjadi makanan mereka. Semua material itu berasal dari unsur-unsur tanah, dan fakta itu menjadi membenarkan firman Allah : Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya.
Setelah menjalani kehidupan selama waktu yang ditetapkan oleh Allah, setiap makhluk hidup akan mengalami kematian dan mereka akan dikembalikan ke dalam tanah, untuk kelak dibangkitkan kembali pada hari kiamat. Kematian merupakan bukti atas adanya kehidupan. Ada banyak ayat Al-Quran yang berbicara tentang kematian, di antaranya Firman Allah.
Qur’an surat Ali Imran ayat 185 :
185. (Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan).
Qur’an surat Al-‘Ankabuut ayat 57 :
57. (Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan).
Qur’an surat Az-Zumar ayat 42 :
42. (Allah memegang jiwa) orang (ketika matinya dan) memegang (jiwa) orang (yang belum mati di waktu tidurnya. Maka, Dia menahan jiwa) orang (yang telah Dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa lain sampai waktu yang ditetapkan) yaitu orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya. Dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali tubuhnya lagi (Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir).
Ayat-ayat diatas menegaskan kebenaran yang tak terbantahkan mengenai keamatian dan kebangkitan. Semua itu menegaskan bahwa segala sesuatu akan dikembalikan ke tanah tempat pertama kali tumbuh. Ayat-ayat itu juga menegaskan bahwa kelak semua manusia akan dibangkitkan dari tanah. Semua itu membantah pandangan kaum kafir, ateis, dan kaum musyrik yang meragukan kebenaran Al-Quran. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, orang-orang kafir itu membantah pesan dan ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw tentang kematian dan kebangkitan. Mereka mengatakan, “Apakah kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)?
Alhamdulillah atas nikmat Al-Quran, Alhamdulillah atas nikmat Islam yang agung, Alhamdulillah atas diutusnya imam para nabi dan rasul yaitu Rasulullah saw, pemimpin semua mahkluk di dunia dan di akhirat, Akhir doa kita : Alhamdulillahirabbil alamin.


Sumber : Al-Qur’an dan Mukjizat Ilmiah Hadits Nabi oleh Prof. Dr. Zaghlul Raghib al-Najjar.