30 Desember, 2014

ANCAMAN BAGI PELAKU ZINA

Qur’an surat Al-Israa’ ayat 32 :
32.  (“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu merupakan perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”).
Qur’an surat Ath-Thalaaq ayat 4 :
4.      (….“Dan wanita-wanita yang hamil) karena perzinaan atau karena pernikahan secara sah, lalu bercerai mati atau cerai hidup dengan mantan suaminya, maka (waktu iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya”) setelah suci, baru boleh menikah.

Haram hukumnya menikah dengan wanita yang hamil karena perzinaan, baik yang menikahi adalah orang yang berzina dengannya, maupun orang yang tidak berzina dengannya. Harus setelah wanita tersebut melahirkan dan habis masa iddahnya dan kemudian bersuci dari nifasnya, baru kemudian boleh menikah.
1. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah saw bersabda :
Wanita hamil tidak boleh (dinikahi kemudian) dicampuri (kecuali wanita tersebut hamilnya setelah menikah secara sah dan masih dalam ikatan perkawinan yang sah), sampai ia melahirkan, sedangkan wanita yang tidak hamil (tetapi melakukan perzinahan sebelum akad nikah, maka tidah boleh dinikahi dan) tidak boleh dicampuri, sampai ia berhaid 1x ”. Hadits riwayat Abu Daud, Ahmad, Darimi, Hakim dan Baihaqi.
2. Hal ini dikuatkan dari Abu Ad-Darda, Rasulullah saw bersabda :
“Barangkali pemiliknya ingin menggaulinya?”. Para sahabat menjawab : “Benar”. Rasulullah saw bersabda : “Sungguh aku telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang akan dibawa ke kuburnya.  Bagaimana ia mewarisinya, sedangkan itu tidak halal baginya (karena masih dalam keadaan hamil) dan bagaimana ia memperbudaknya, sedang ia tidak halal baginya”. Hadits riwayat Muslim.
3. Begitu juga dalil dari Sa’id bin Musayyib : “Bahwasannya seseorang menikah dengan wanita, ketika digaulinya (dicampuri), ternyata wanita tersebut sudah hamil, kemudian hal itu dilaporkan kepada Rasulullah saw dan beliau saw langsung menceraikan keduanya”.
Bagi wanita yang sudah terlanjur menikah dalam keadaan hamil dari hasil perzinaan, solusinya harus “bangun nikah”, setelah melahirkan, yaitu setelah habis masa haid atau nifasnya. Jika tidak dalam keadaan hamil, maka bangun nikahnya, setelah haid 1x kemudian bersuci, baru boleh bangun nikah.
Rasulullah saw bersabda :
A.     “Perbuatan zina itu mendatangkan kefakiran (menghilangkan keberkahan rijeki).
Hadits riwayat Al-Qadhi dan Al-Baihaqi dari Umar bin Khattab ra.
B.     “Zina kedua mata ialah memandang wanita atau pria yang bukan muhrim (dengan perasaan zina hati atau nafsu sahwat)”. Hadits riwayat Ibnu Sa’ad Thabrani dan Abu Nu’aim dari ‘Alqamah bin Huwairits.
C.     “Jauhilah zina karena perbuatan zina mengandung 6 perkara, 3 diberikan di dunia, yaitu :
  1. Akan  dikurangi rezekinya (otomatis mengurangi umurnya).
  2. Dihilangkan keberkahan rezekinya.
  3. Jika rohnya akan keluar (akan meninggal), pandangannya terhadap Allah terhalang oleh Neraka dan Malaikat Zabaniyah (yaitu malaikat yang menyiksa orang-orang yang berdosa di dalam Neraka).
Adapun 3 hukuman di akhirat, yaitu :
  1. Allah memandangnya dengan pandangan kebencian, sehingga wajah pelaku zina menjadi hitam.
  2. Hisabannya atau hukumannya menjadi keras.
  3. Pezina akan diseret dengan rantai ke Neraka”.

Jika ada rumah dipakai untuk berzina, maka si pezina dan 40 tetangga yang ada di sekitar rumah tempat berzina tersebut akan mendapatkan laknat Allah. Dan laknat Allah itu berupa bencana, musibah, kesialan-kesialan, dan keburukan-keburukan yang lain yang akan menimpa pezina dan 40 tetangganya yang ada di sekitar rumah yang dipakai untuk berzina tersebut.
Golongan orang-orang yang berzina sbb :
1.      Pria dan wanita yang tidak ada ikatan pernikahan yang sah.
2.      Wanita yang berzina, baik wanita tersebut hamil atau pun tidak hamil, kemudian menikah dengan pria yang menzinainya atau bukan, maka pernikahannya tidak sah atau rusak, maka mereka masih dianggap berzina.
3.      Pria dan wanita yang menikah, tetapi berbeda agama.
Qur’an surat Al-Baqarah ayat 221 :
221.    (Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik) wahai kaum muslimin (sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan pria musyrik) dengan wanita-wanita mukmin (sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari pria musyrik, walaupun ia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedangkan Allah mengajak ke Surga serta ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran). Orang-orang Kristen dan Katolik, Hindu, Budha, Majusi dan para penyembah berhala adalah orang-orang musyrik karena mereka menyekutukan Allah dan mereka menyembah tuhan selain Allah.
Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 19 dan 34-35 :
19.  (Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa) memaksanya menikah atau melarangnya menikah tanpa kemauan dan kerelaan mereka (dan janganlah pula kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka) berupa mahar (kecuali jika mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata) zina atau nusyuz (dan pergaulilah mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka) maka bersabarlah (karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak).
34.  (Kaum pria menjadi pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian kamu) pria (atas sebagian yang lainnya) wanita (dan juga karena mereka) para suami (telah menafkahkan) sebagian dari (harta mereka. Maka wanita-wanita yang saleh adalah yang taat) kepada suami mereka sepanjang sang suami tidak menyimpang dari ajaran agama (lagi memelihara diri) tidak berkhianat dan memelihara rahasia dan harta sang suami (ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka) Allah mewajibkan sang suami memberikan nafkah lahir dan batin kepada istrinya dengan baik (Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz) yaitu membangkang, tidak melayani kebutuhan lahir dan batin suami, meninggalkan rumah tanpa izin suami dan sebagainya (maka nasehatilah mereka itu dan berpisahlah dengan mereka di atas tempat tidur) pisah ranjang (dan pukullah mereka) yang tidak melukai jika para istri itu masih belum taat (kemudian jika mereka telah menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari masalah dengan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar).
35.  (Dan jika kamu khawatir muncul persengketaan di antara keduanya) suami dengan istrinya (maka kirimlah seorang penengah dari keluarga pria dan seorang penengah dari keluarga wanita. Jika mereka berdua) yaitu kedua orang penengah itu (bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada mereka) suami-isteri itu (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal).
Qur’an surat Al-Maaidah ayat 5 :
5.      (Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik, dan makanan-makanan orang-orang yang diberi kitab) yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani Unitarian (itu halal bagimu) karena jika mereka menyembelih binatang, menyebut nama Allah, mereka tidak mengkonsumsi makanan dan minuman haram (Kitab Perjanjian Lama : Imamat 11:7-8, 10-22, Bilangan 6:3, Yesaya 65:3-4, Hakim-hakim 13:4 dan Daniel 1:8) dan semua yang diharamkan dalam syariat Islam, sementara orang-orang Kristen dan Katolik, Hindu, Budha, Majusi dan penyembah berhala, jika meyembelih binatang tidak menyebut nama Allah atau bahkan tidak menyebut nama-nama tuhan mereka ketika menyembelih binatang, mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Paulus yaitu nabi palsunya orang-orang Nasrani Trinitas Kristen Protestan dan Kristen Katolik Roma menghalalkan semua yang berasal dari luar tubuh orang tersebut masuk ke dalam tubuhnya, baik lewat mulut atau anggota tubuh lainnya, PB. Injil Markus pasal 7:14-23, Korintus 6:12, 10:27 dan Roma 14:2-3 (dan makananmu halal pula bagi mereka. Dan wanita-wanita yang merdeka di antara wanita-wanita mukmin serta wanita-wanita merdeka dari kalangan orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu) yaitu wanita-wanita yang beragama Yahudi dan Nasrani Unitarian saja halal pula kamu nikahi karena mereka dan kaum muslimin Tuhannya satu yaitu Allah dan hanya mengakui Allah saja sebagai Tuhan, Al-Baqarah 139, Ali-’Imran 64, Asy-Syuura 15 dan Al-’Ankabuut 46, sementara wanita-wanita Kristen menyembah Nabi Isa as dan Katolik menyembah Maryam dan tidak mengakui Allah sebagai Tuhan satu-satunya dan wanita-wanita Majusi, Hindu, Budha dan penyembah berhala tidak mengakui Allah sebagai Tuhan, mereka musyrik, jadi tidak halal untuk dinikahi, orang-orang mukmin diharamkan menikahi orang-orang musyrik (An-Nuur 3). Wanita-wanita mukmin tidak halal bagi orang-orang yang kafir dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka (Al-Mumtahanah 10). Budha itu bukan agama tetapi hanya aliran kepercayaan, karena pendirinya yaitu Pangeran Sidharta Gautama hanya seorang filsuf dan ia adalah seorang ateis, tetapi setelah ia meninggal, Pangeran Sidharta Gautama diangkat oleh pengikut-pengikutnya sebagai ‘tuhan’ (Apabila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, bukan dengan maksud berzina dan bukan pula untuk mengambil mereka sebagai gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman) murtad (maka sungguh hapuslah amalannya) sebelum murtad (dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi).
Qur’an surat An-Nuur ayat 3, 26 dan 32-33 :
3.      (Pria yang berzina tidak menikahi melainkan wanita yang berzina atau wanita yang musyrik dan wanita yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh pria yang berzina atau pria musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin) menikahi seorang pezina.
26.  (Wanita-wanita yang keji) pezina (adalah untuk pria-pria yang keji dan pria-pria yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk pria-pria yang baik dan pria-pria yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula….).
32.  (Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian di antara kalian dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahaya kalian yang pria dan hamba-hamba sahaya kalian yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas) pemberian-Nya kepada makhluk-Nya (lagi Maha Mengetahui).
33.  (Dan orang-orang yang tidak) atau belum (mampu menikah hendaklah menjaga kesuciannya) dari melakukan perbuatan zina (sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya....) sehingga mereka mampu menikah.

Jika di wilayah/kota tersebut perzinaan telah merata, maka akan terjadi banyak bencana alam, kecelakaan, kebakaran, tawuran, bentrokan dan sebagainya yang memakan korban jiwa dan banyak terjadi kematian dengan 1001 macam sebab, contoh : matinya karena bencana (musibah), tawuran, pengeroyokan, pembunuhan, wabah penyakit dan sebagainya. Semoga Allah menjauhkan kita dari laknat-laknat-Nya, Amin 3x Ya Robbal ‘alamin.
1.      Kecanduan pornografi (melihat perbuatan maksiat yaitu zina), menyebabkan kerusakan sel-sel otak secara permanen, karena sel-sel otaknya putus dan sel-sel saraf di otak yang di ujung-ujungnya ada listriknya, konslet atau mati. Hal ini menyebabkan turunnya kecerdasan orang itu, karena sel-sel dan sel-sel saraf di otak oleh Allah tidak diprogram untuk melihat kemaksiatan.
Qur’an surat Al-Baqarah ayat 228 dan 234-235 :
228.          (“Wanita-wanita yang ditalak) talak 3 (hendaknya menahan diri) untuk menikah lagi dan harus menunggu sampai haidnya selesai ( 3x suci”) bagi wanita yang dicerai hidup oleh suaminya dan tidak sedang hamil.
234.          (“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu, dengan meninggalkan istri-istri) yang tidak sedang hamil, hendaklah para istri itu (menangguhkan dirinya) untuk menikah lagi dengan pria lain, sampai mereka habis masa iddah-nya yaitu selama (4 bulan 10 hari”) Allah memberi waktu bagi para wanita yang dicerai mati oleh suaminya tersebut untuk berfikir sebelum memutuskan untuk menikah lagi .
235.          (“Dan janganlah kalian bertetap hati untuk berakad nikah) dengan wanita yang telah bercerai mati dengan suaminya (sebelum habis iddah-nya”) yaitu 4 bulan 10 hari.
Qur’an surat Al-Ahzab ayat 49 :
49.  (“Kemudian kamu ceraikan mereka) istri-istrimu (sebelum kamu mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah”) bagi istri yang diceraikan suaminya sebelum mereka bercampur, maka tidak ada iddah bagi mantan istrinya tersebut, mereka bisa langsung menikah lagi.
Qur’an surat Ath-Thalaaq ayat 4 :
4.      (“Wanita-wanita yang telah putus haidnya) menopause (di antara wanita-wanita kalian, jika kalian ragu-ragu) tentang masa iddah-nya (maka iddah mereka adalah 3 bulan, dan begitu pula wanita-wanita yang tidak haid”) bagi yang belum haid, masa iddahnya 3 bulan suci, bagi wanita-wanita yang dicerai hidup oleh mantan suaminya.

Sumber : Al-Qur’an, Tafsir Jalalain, Hadits dan berbagai sumber.

TAFSIR SURAT MARYAM AYAT 16-38

Selesai mengerjakan tugasnya di Madyan dengan bekerja menggembalakan ternak mertuanya Nabi Syu’aib as sebagai mas kawin karena menikahi putrinya selama 8 tahun dan ditambah 2 tahun lagi sebagai kebaikan Nabi Musa as kepada mertuanya, maka Nabi Musa as mengajak keluarganya untuk pulang kampung ke Mesir, Thaahaa 40 dan Al-Qashash 27-29. Di tengah perjalanan beliau as melihat api di lereng gunung, terus mendatanginya, Thaahaa 10, An-Naml 7 dan Al-Qashash 29. Sesampainya di tempat api itu, Allah memanggil dan mengangkat Nabi Musa as dan saudaranya yaitu Nabi Harun as menjadi nabi dan rasul-Nya, Maryam 51-53, Thaahaa 11-17, 19-24, 41-42, Al-Furqaan 35, An-Naml 8-12, Al-Qashash 30-31 dan An-Naazi’aat 16. Allah mengutus Nabi Musa as dan Nabi Harun as pergi ke Mesir untuk berdakwah kepada Fir’aun Merneptah dan pemimpin-pemimpin kaumnya (para pejabat kerajaan) di istananya dengan membawa tanda-tanda kekuasaan dari Allah dan mukjizat-mukjizat yang jelas, tetapi mereka menyombongkan diri dan durhaka kepada rasul-rasul-Nya bahkan menuduh Nabi Musa as sebagai tukang sihir dan ingin mendapatkan kekuasaan di Kerajaan Mesir dan mereka adalah orang-orang yang berdosa, Yunus 75-78 dan Huud 96-97. Fir’aun Merneptah mengijinkan Nabi Musa as untuk bisa bertemu dengannya karena ia mengenal Nabi Musa as yang pernah menjadi bagian dari anggota keluarga besar Kerajaan Mesir Kuno dan tinggal puluhan tahun di istana fir’aun, seandainya Nabi Musa as tidak dikenal Fir’aun Merneptah sebagai saudara angkatnya, jelas tidak mungkin bisa menemui Fir’aun Mesir yang menganggap dirinya bukan hanya seorang raja besar yang kaya raya yang luas kekuasaannya dan kerajaannya tetapi juga sebagai ‘tuhan’ bagi rakyatnya. Sebab, Nabi Musa as itu di dalam pandangan Fir’aun Merneptah dan pejabat-pejabatnya, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, hanya rakyat biasa, miskin dan tidak mempunyai jabatan apapun. Ketika bertemu dengan Fir’aun Merneptah di istananya, Nabi Musa as dan Nabi Harun as memperkenalkan diri sebagai rasul-rasul utusan Tuhan semesta alam dan meminta kepada Fir’aun Merneptah untuk membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan bebas pergi bersama Nabi Musa as kembali ke Palestina, Al-A’raaf 104-105, Asy-Syu’araa’ 17 dan Ad-Dukhaan 17-21, karena Bani Israil dipaksa menjadi budak sejak zaman Fir’aun Ramses II sampai zaman Fir’aun Merneptah, terutama pada zaman Fir’aun Ramses II untuk membangun banyak bangunan di banyak tempat dari Mesir utara sampai selatan di kerajaannya.

Bani Israil dipaksa mengerjakan proyek pengerukan Sungai Nil untuk dibuat terusan atau kanal yang akan disambungkan dengan Laut Tengah tetapi tidak berhasil, pembangunan ribuan patung, monumen, kuil besar Ramesseum termasuk di dalamnya Colossus Ramses II dan kuil di Luxor, Colossus Ramses II di Memphis, The Great Hypostyle Hall di Karnak seluas 5 ribu meter persegi dan penambahan bangunan di Kuil Luxor yang bangunan-bangunan tersebut telah hancur terkena gempa pada tahun 100 M dan sekarang sudah direnovasi oleh Pemerintah Mesir untuk pariwisata. Kota Pi-Ramses (kotanya Fir’aun Ramses II) beserta tata kotanya seluas 30 km persegi dan di dalamnya termasuk istana Ramses II, sejumlah bekas kandang kuda dengan luas yang sangat luar biasa besar dengan peralatan kuda dan kereta perangnya, dan pabrik senjata, karena Pi-Ramses adalah kota militer sehingga terdapat barak militer dan markas garnisun tentara berkuda kerajaan zaman Ramses II di Kota Qantir Delta Sungai Nil – Mesir Utara untuk kampanye militernya ke Negeri Syam. Dan pada zaman Ramsses II masih hidup, Kota Pi-Ramses merupakan daerah yang subur dan dialiri cabang Sungai Nil. Tetapi sekitar 150 tahun setelah kematian Fir’aun Ramses II, akhirnya bangunan-bangunan yang dibangun dengan tenaga budak Bani Israil tersebut dihancurkan Allah dengan dihilangkannya aliran cabang Sungai Nil Pelusiac kuno yang panjangnya 180 km, sehingga jalur cabang Nil berubah meninggalkan sungai kering berlumpur yang membuat tanah menjadi tandus dan tidak dapat menghidupi sebuah kota metropolitan. Baru ribuan tahun kemudian ditemukan oleh arkeolog-arkeolog EAO dari Mesir, misi Austria yang dipimpin oleh Manfred Bietak dan misi Jerman yang dipimpin oleh Edgar Pusch. Cabang Sungai Nil Pelusiac kuno tersebut berpindah ke jalur yang dinamai cabang Sungai Nil Tanitic di Delta.

Pemerintah saat itu tidak mau kehilangan Kota Pi-Ramses yang cantik nan agung, lalu memerintahkan rakyatnya untuk memindahkan total seluruh kota lengkap dengan patung-patung raksasa seberat ratusan ton, kuil yang dibongkar ulang dan berbagai macam bangunan lainnya dan membangunnya kembali di Tanis yang jaraknya lebih dari 30 km ke utara dari Qantir, proyek gila selanjutnya bagi rakyat Mesir saat itu.     Akhirnya kota tersebut berhasil dipindahkan ke tepian cabang Sungai Nil yang baru, sebuah Kota Pi-Ramses baru telah lahir kembali di Tanis meninggalkan pondasi aslinya di Qantir. Sekitar 50 tahun kemudian Kota Pi-Ramses yang baru itu, Allah hancurkan lagi dengan meluapnya Danau Manzala yang membanjiri kota yang membuatnya terkubur dalam lumpur, tanah dan pasir dan berubah lagi jalur atau aliran sungainya dan menjadi petaka lagi bagi Kota Pi-Ramses yang baru tersebut. Kota itu kembali ditinggalkan sumber kehidupannya yaitu aliran cabang Nil Tanitic dan sekali lagi menjadi kota yang tandus, kering dan mati yang keadaannya seperti permukaan Bulan dan ditinggalkan penduduknya lalu hilang dan lenyap dari permukaan Bumi sampai ditemukan oleh Piere Montet arkeolog berkebangsaan Perancis 3000 tahun kemudian dalam penggalian selama belasan tahun dan akhirnya kota tersebut bisa dilihat lagi pada abad ke-20, Al-A’raaf 137. Merneptah menolak permintaan Nabi Musa as untuk membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan bahkan mengungkit-ungkit budi baik orangtuanya dan keluarganya termasuk dirinya terutama ibu tirinya Nefertari yang mengadopsi dan mengasuh Nabi Musa as sejak masih bayi hingga dewasa sehingga beliau as menjadi bagian dari anggota keluarga besar Kerajaan Mesir Kuno dan hidup mewah di istana fir’aun.
Qur’an surat Asy-Syu’araa’ ayat 18-19 :
18.  (Berkatalah) Fir’aun Merneptah kepada Nabi Musa as (: “Bukankah) orangtua (kami telah mengasuhmu di dalam keluarga kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu) di istana kami.
19.  (Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu) Nabi Musa as tidak sengaja membunuh orang Qibthi, Al-Qashash 15 (dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas budi”).

Allah memerintahkan Nabi Musa as dan Nabi Harun as dengan membawa bukti yang nyata yaitu mukjizat-mukjizat dari Allah pergi ke Mesir berdakwah kepada Fir’aun Merneptah dan orang-orang yang ada di sekelilingnya termasuk pejabat-pejabat kaumnya, Al-A’raaf 103, Yunus 75, 107-108, Huud 96-97, Al-Israa’ 101-102, Thaahaa 43-44, 46-48, 50, 52-55, Al-Mu’minuun 45-46, Al-Furqaan 36, Asy-Syu’araa’ 10-11, 15-16, 24, 26, 28, 30, 32-33, An-Naml 13, Al-Qashash 32, 35, Al-Mu’min 23, Az-Zukhruf 46, Adz-Dzariyaat 38, An-Naazi’aat 17-20 dan Al-Muzzammil 15), tetapi Fir’aun Merneptah dan pemuka-pemuka kaumnya dan tentaranya zhalim, takabur dan sombong sehingga mereka mendustakan dan memfitnah kedua utusan-Nya, padahal hati mereka menyakininya bahwa itu semua mukjizat dari Allah dan bukan ilmu sihir, Al-A’raaf 109-110, Yunus 75-78, Huud 97, Al-Israa’ 101, Thaahaa 56-57, Al-Mu’minuun 46-48, Asy-Syu’araa’ 25, 27, 34, 35, An-Naml 13-14, Al-Qashash 36, Al-Mu’min 24, Az-Zukhruf 47, Adz-Dzariyaat 39, dan An-Naazi’aat 21. Fir’aun Merneptah mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain dirinya, Al-Qashash 38 dan mengaku hanya ia “tuhan”  yang paling tinggi bagi rakyatnya, An-Naazi’aat 24, maka ia mengancam Nabi Musa as benar-benar akan dimasukkan ke penjara jika menyembah Tuhan selain dirinya, Asy-Syu’araa’ 29. Kemudian Fir’aun Merneptah dan orang-orangnya mengumpulkan para tukang sihir untuk melawan Nabi Musa as dengan sihir mereka, Al-A’raaf 111-116, Yunus 79, Thaahaa 58, 60-68, Asy-Syu’araa’ 36-37, 38 41-45 dan An-Naazi’aat 22, pada hari yang maklum, yaitu pada waktu Matahari sepenggalan naik (yaitu waktu Dhuhaa) pada hari raya festival agama pagan masyarakat Mesir kuno yang dirayakan setiap tahun dengan sangat meriah, Thaahaa 59 dan Asy-Syu’araa’ 38. Di mana seluruh rakyat Mesir kuno mendatangi pusat peribadatan kerajaan di Kuil Luxor dan Karnak untuk merayakan Festival Opet, lalu Merneptah memerintahkan mengumpulkan rakyatnya untuk melihat dan memihak tukang-tukang sihirnya untuk melawan Nabi Musa as, Asy-Syu’araa’ 39-40. Ketika Nabi Musa as bisa mengalahkan Fir’aun Merneptah dengan mengalahkan semua tukang sihirnya, Al-A’raaf 117-119, Yunus 80-82 dan Thaahaa 69. Lalu semua tukang sihirnya beriman kepada Allah dan kedua utusan-Nya, Al-A’raaf 120-123, 125-126, Thaahaa 70, 72-73 dan Asy-Syu’araa’ 46-48, 50-51, maka Fir’aun Merneptah marah dan mengancam semua tukang sihirnya dan menghukum mereka, Al-A’raaf 124, Thaahaa 71 dan Asy-Syu’araa’ 49, termasuk istrinya Fir’aun Merneptah juga beriman kepada Allah dan kedua rasul-Nya sehingga Fir’aun Merneptah murka dan menyiksa istrinya sampai mati, At-Tahriim 11. Para fir’aun Mesir itu istrinya banyak, dan istri-istri mereka itu terdiri dari saudari-saudari kandungnya, saudari tirinya dan wanita lain, bahkan ayahnya Fir’aun Merneptah yaitu Fir’aun Ramses II juga menikahi 2 putri kandungnya.

Nabi Musa as berhasil mengalahkan tukang-tukang sihirnya Fir’aun Merneptah, lalu mereka dan salah satu istrinya juga masuk Islam, membuat Fir’aun Merneptah bertambah marah dan melampiaskan kemarahannya kepada Bani Israil, ia mengancam lalu membuktikan ancamannya dengan membunuhi anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak wanita mereka serta membiarkan hidup wanita-wanita Bani Israil, Al-Baqarah 49, Al-A’raaf 127, 141, Ibrahim 6 dan Al-Qashash 4. Fir’aun Merneptah dan pengikut-pengikutnya juga membunuhi semua anak-anak laki-laki orang-orang yang beriman bersama Nabi Musa as baik itu dari anaknya orang Mesir maupun Bani Israil dan membiarkan hidup wanita-wanita mereka, Al-Mu’min 25. Fir’aun Merneptah dan kaumnya berbuat sewenang-wenang dan membuat banyak kerusakan (kezhaliman) dan kedua fir’aun itu menjadikan penduduknya berpecah belah, Fir’aun Ramses II menjadikan budak golongan Bani Israil untuk membangun Kerajaan Mesir Baru dan Fir’aun Merneptah anaknya dan penggantinya tetap menindas Bani Israil dengan memaksa mereka bekerja sebagai budak di wilayah kerajaan fir’aun, Al-A’raaf 129, Yunus 83, Al-Qashash 4 dan Al-Fajr 11-12. Fir’aun Merneptah akan membunuh Nabi Musa as karena khawatir dakwah beliau as berhasil mengubah agama rakyat Mesir, Al-Mu’min 26. Sehingga menyebabkan Fir’aun Merneptah dan tuhan-tuhannya tidak disembah lagi sebagai tuhan-tuhan oleh rakyatnya. Kezhaliman Fir’aun Merneptah dan kaumnya telah melampaui batas, lalu Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa mengazab mereka dengan musim kemarau yang panjang, kekurangan buah-buahan, Allah kirimkan taufan (badai) disertai hujan es dan petir, (mengubah air menjadi) darah, nyamuk, katak, tikus datang memasuki Mesir yang menutupi permukaan tanah, penyakit yang membunuh ternaknya orang Mesir, lalat, barah (bisul) yang menimpa orang-orang Mesir yang kafir, kegelapan selama 3 hari di Mesir dan kematian semua anak-anak sulung keluarga Mesir. Fir'aun Merneptah beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk, Al-Mu’min 45, karena mereka mendustakan Allah dan rasul-Nya, semua azab tersebut menimpa seluruh Mesir, Al-A’raaf 130, 133, Qaaf 13-14, Al-Qamar 41-42 dan Al-Fajr 13. Kaum fir’aun (bangsa Qibthi) itu mendustakan Nabi Musa as dan Nabi Harun as, maka Allah membalas kekafiran mereka dengan azab-Nya karena sangat besar kebencian Allah kepada mereka, Al-Hajj 44. Daerah pemukiman Bani Israil di Kota Fayoum terhindar dari azab Allah karena Allah lindungi wilayah tersebut dengan dihijab, sehingga mereka selamat terhindar dari semua azab-Nya. Allah siksa Fir’aun Merneptah dan tentaranya lalu Allah lemparkan mereka ke dalam Laut Merah bagian Teluk Suez karena dosa-dosa mereka yang besar, Adz-Dzariyaat 40 dan Al-Haaqqah 9. Mereka mendurhakai rasul-Nya, maka Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras, Al-Haaqqah 10. Fir’aun Merneptah mendurhakai Nabi Musa as, lalu Allah siksa ia dengan siksaan yang berat, Al-Muzzammil 16 Dan karena ucapannya yang mengaku sebagai “tuhan” yang paling tinggi bagi rakyatnya dan mengaku tidak ada “tuhan” selain dirinya, maka Allah membinasakannya dengan ditenggelamkan di laut sampai tewas akibat dari sebagian perbuatan dosa-dosanya yaitu sebagai balasan atas ucapannya yang terakhir dan ucapannya yang pertama, An-Naazi’aat 25. Sesungguhnya kisah Fir’aun Merneptah itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut kepada Allah, An-Naazi’aat 26.
Qur’an surat Al-Anbiyaa’ ayat 29 :
29.  (Dan barangsiapa di antara mereka berkata : “Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain Allah”. Maka orang itu Kami beri balasan dengan) Neraka (Jahannam. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zhalim).

Ketika mereka ditimpa 10 macam azab dari Allah yang datang silih berganti dan azab Allah yang datang kemudian lebih besar dari sebelumnya, Az-Zukhruf 48. Lalu Merneptah dan kaunnya minta tolong kepada Nabi Musa as untuk memohon kepada Allah bagi mereka supaya menghilangkan azab tersebut, Al-A’raaf 134 dan Az-Zukhruf 49. Setelah Allah hilangkan azab itu dari mereka sampai batas waktunya, Merneptah dan kaumnya ingkar dan tetap menindas Bani Israil dan juga tidak mau membiarkan Bani Israil keluar dari negeri Mesir bersama Nabi Musa as kembali ke Palestina, Al-A’raaf 135 dan Az-Zukhruf 50. Dan Fir’aun Merneptah telah menyesatkan kaumnya dengan mengaku sebagai ‘tuhan’ yang paling tinggi dan tidak memberi petunjuk. Fir’aun Merneptah menyesatkan kaumnya dari jalan lurus dan menghalangi mereka dari jalan Allah serta menyombongkan diri dan kaumnya mengikuti perintahnya, padahal perintah Fir’aun Merneptah bukanlah perintah yang benar. Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang, salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas, Yunus 74, 83, Huud 97, Thaahaa 79, Al-Mu’min 35, Ad-Dukhaan 31 dan An-Naazi’aat 23-24. Fir'aun Merneptah dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah, Al-Qashash 8. Mereka adalah kaum penentang Allah dan rasul-rasul-Nya, Al-Buruuj 17-18. Maka Allah membinasakan mereka sehancur-hancurnya, Al-Furqaan 36. Neraka ditampakkan kepada mereka pada pagi dan petang di alam Barzah dan pada hari terjadinya Kiamat. Diperintahkan kepada fir'aun dan kaumnya supaya masuk ke dalam azab yang sangat keras, Al-Mu’min 46.
Qur’an surat Az-Zukhruf ayat 51-54 :
51.  (Dan Fir’aun) Merneptah (berseru kepada kaumnya seraya berkata : “Hai kaumku, bukankah Kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah) kekuasaan (ku, maka apakah kalian tidak melihat) keagungan dan kebesaranku?
52.   (Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat berbicara dengan jelas) Thaahaa 27-28, Asy-Syu’araa’ 13 dan Al-Qashash 34 sewaktu kecil Nabi Musa as pernah memakan bara api, karena jika beliau as tidak memakannya, maka akan dibunuh oleh Fir’aun Ramses II ayah Fir’aun Merneptah, sehingga lidah beliau as cacat yang menyebabkan bicaranya menjadi terdengar tidak jelas atau pelo (bhs. Jawa).
53.  (Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas) mengapa Tuhan tidak memakaikan gelang emas kepada Nabi Musa as, sebab menurut kebiasaan Kerajaan Mesir Kuno apabila seseorang akan diangkat menjadi pemimpin atau pejabat, mereka dikenakan gelang dan kalung emas kepadanya sebagai tanda kebesaran (atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?)
54.  (Maka Fir’aun) Merneptah (mempengaruhi kaumnya lalu mereka patuh kepadanya) untuk mendustakan Nabi Musa as  (karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik).

Bahkan Fir’aun Merneptah menyuruh orang-orangnya berjaga-jaga untuk mengawasi Bani Israil, Asy-Syu’araa’ 56, supaya jika Bani Israil melarikan diri, bisa segera diketahui. Setelah mukjizat-mukjizat dan risalah disampaikan Nabi Musa as dan Nabi Harun as kepada Fir’aun Merneptah dan pejabat-pejabat kaumnya, mulut mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (gengsi), padahal hati mereka menyakini kebenaran dakwah kedua utusan Allah tersebut, An-Naml 13-14 dan Al-‘Ankabuut 39. Bani Israil sudah tidak tahan lagi menghadapi kebrutalan dan kebengisan Fir’aun Merneptah, maka Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as untuk mengajak seluruh Bani Israil dan segelintir orang Mesir yang beriman untuk melarikan diri dari Mesir menuju Palestina, Thaahaa 77, Asy-Syu’araa’ 52 dan Ad-Dukhaan 23. Bani Israil meninggalkan Kota Fayoum yaitu daerah yang paling subur di Mesir dan bekas pemukiman Bani Israil zaman dahulu yang telah mereka tinggali sejak generasi pertama yaitu Nabi Ya’qub as dan istrinya Liya beserta anak-anak keturunan mereka sampai sekitar 8 generasi dan selama sekitar 500 tahun sejak zaman Nabi Yusuf as pada abad ke-17 SM, setelah berlalu 2 tahun masa musim paceklik panjang di Mesir dan di negara-negara sekitarnya termasuk Hebron (Kana’an) – Palestina. Yaitu daerah pemukiman Bani Israil sebelum pindah ke Mesir pada waktu dibawah kekuasaan Raja Apophis orang Hyksos sampai pada zaman Nabi Musa as dan Nabi Harun as dibawah kekuasaan Fir’aun Merneptah pada tanggal 10 Muharam (2 Mei 1203 SM) menuju ke tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka, yaitu Kana’an - Palestina. Kemudian Nabi Musa as dan rombongannya berangkat dari rumah mereka dengan berjalan kaki pada waktu malam hari menuju pantai Mesir sekitar 6-7 jam perjalanan dari Kota Fayoum. Setelah menerima berita bahwa Bani Israil melarikan diri dari Mesir, Fir’aun Merneptah marah, Asy-Syu’araa’ 55 dan segera mengirimkan orang-orangnya ke kota-kota untuk mengumpulkan tentara-tentaranya, Asy-Syu’araa’ 53, 56. Dan mereka meninggalkan semua keluarga, harta benda dan kedudukan mulia yang mereka miliki di Mesir hanya demi mengejar Bani Israil, Asy-Syu’araa’ 57-58 dan Ad-Dukhaan 23, 25-27, karena mereka hendak menganiaya dan menindas Bani Israil, Yunus 90. Maka Fir’aun Merneptah dan bala tentaranya mengejar mereka, Thaahaa 78 dan Asy-Syu’araa’ 52 dan hampir dapat mengejar Bani Israil yang telah sampai di tepi laut pada waktu Matahari terbit, Asy-Syu’araa’ 60. Jika Bani Israil menyeberangi Teluk Aqabah yang jaraknya masih sangat jauh sekitar 300 km dari Teluk Suez (ke-2 teluk itu adalah bagian dari Laut Merah), pasti mereka sudah tertangkap, dianiaya, ditindas lalu dibantai secara masal sampai punah oleh Fir’aun Merneptah dan pengikut-pengikutnya.

Qur’an surat Al-Baqarah ayat 50 :
50.  (Dan) ingatlah (ketika Kami pisahkan laut untukmu) Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as untuk memukul lautan yang ada di depannya dengan tongkatnya, Asy-Syu’araa’ 63, maka dalam sekejap mata lautan tersebut  terpisah dan tiap-tiap belahan laut yang ada di kiri dan kanan jalan tempat Bani Israil menyeberang adalah seperti gunung yang besar bagaikan tembok, Asy-Syu’araa’ 63, sehingga membentuk jalan yang kering (Thaahaa 77) tidak ada air sama sekali di jalan tempat penyeberangan tersebut karena mukjizat yang Allah karuniakan kepada Nabi Musa as. Artinya, lautnya tidak sedang surut, karena jika laut baru saja surut, maka masih ada air yang rata tingginya di dasar laut walau hanya sedikit dan jika laut itu hanya surut, pasti tidak membentuk gunung yang besar di sisi kiri dan kanan jalan di dasar Teluk Suez  yang telah dilalui Bani Israil pada abad ke-12 SM dahulu (lalu Kami selamatkan kamu) Allah seberangkan Bani Israil ke seberang lautan, Al-A’raaf 138 (dan Kami tenggelamkan) Fir’aun Merneptah, Haman dan semua (pengikut-pengikutnya, sedang kamu sendiri menyaksikan) laut yang sebelumnya dibelah Allah dan dibiarkan laut itu tetap terbelah sampai tentaranya Fir’aun Merneptah masuk ke dasar laut semuanya karena sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan, Ad-Dukhaan 24, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka, Thaahaa 78 karena lautnya menyatu kembali  dalam waktu yang singkat tidak perlahan-lahan seperti jika laut itu surut dan pasang, sehingga Fir’aun Merneptah dan bala tentaranya tidak berhasil mengejar Bani Israil karena Allah menenggelamkan mereka semuanya hingga tewas di dasar Laut Merah bagian Teluk Suez disebabkan dosa-dosanya, dan mereka semua adalah orang-orang yang zhalim, Al-Anfaal 54, Al-Israa’ 103, Asy-Syu’araa’ 66 dan Az-Zukhruf 55. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya, Al-Anfaal 52. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka dan Kami tidak menjatuhkan azab yang demikian itu, melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir, Sabaa’ 17.

Setelah Allah selamatkan Nabi Musa as dan orang-orang yang besertanya semuanya dari siksa yang menghinakan dari Fir’aun Merneptah dan bala tentaranya, Asy-Syu’araa’ 65 dan Ad-Dukhaan 30-31 dengan selamat menyeberangi Teluk Suez yang kedalaman lautnya rata-rata 12 meter dan yang paling dalam 18 meter, kemudian sampai di Semenanjung Sinai, Sinai - Mesir bagian Asia, karena Fir’aun Merneptah dan bala tentaranya dilemparkan ke dalam laut dan tewas tenggelam semuanya, Al-Qashash 40 dan Adz-Dzariyaat 40. Ketika Fir’aun Merneptah telah hampir tenggelam (nyawa sudah di tenggorokan), ia baru beriman kepada Allah, Yunus 90 sehingga Allah tidak menerima imannya, Yunus 91. Maka Nabi Musa as menjadikan tanggal 10 Muharam sebagai hari raya Passover yaitu hari kemerdekaannya Bani Israil karena telah terbebas dari perbudakan dan kejahatan Fir’aun Merneptah yang sangat melampaui batas, yang terbersit keinginannya untuk mengusir Bani Israil dari Bumi (Mesir), yaitu dengan membantai mereka sampai punah seperti yang pernah dilakukan oleh nenek moyangnya Ahmosis (Ahmses) pendiri Dinasti ke-18 Kerajaan Mesir Baru yang telah mengusir bangsa Hyksos dari Mesir lalu membantai mereka sampai punah pada abad ke-17 SM, maka Allah menenggelamkan Fir’aun Merneptah dan orang-orang yang bersamanya seluruhnya, Al-Israa’ 103. Sehingga Bani Israil selamat dari rencana Fir’aun Merneptah untuk membantai mereka secara masal sampai punah (Genosida). Setelah mereka selamat dari marabahaya, kemudian Nabi Musa as menganjurkan umatnya untuk puasa sunat (sunnah) pada hari itu dan juga setiap tahunnya sebagai tanda syukur kepada Allah atas karunia-Nya yang sangat luar biasa besar.

Lokasi penyeberangan Bani Israil terletak di hampir ujung utara Teluk Suez dan masih menjadi bagian dari Laut Merah karena terhubung langsung dengan laut tersebut, atau terletak di sebelah utara Uyun Musa, jaraknya tidak sampai 100 km dari pemukiman Bani Israil di Kota Fayoum, Mesir - Afrika. Allah belah laut dan membentuk jalan yang kering selebar sekitar 1 km, panjang jarak penyeberangannya sekitar 1.800 m (1,8 km) dan Bani Israil yang berlari melintas di dasar laut itu sekitar 640 ribu orang, terdiri dari pria, wanita dewasa dan orang tua, puluhan ribu anak-anak, membawa serta ternak sapi, domba, kambing dan mereka tidak bersenjata, adalah golongan yang dianggap kecil oleh Fir’aun Merneptah dalam hal kekuatan maupun jumlahnya, karena pasukan tentara yang mengejar Bani Israil lebih dari 700 ribu orang, Asy-Syu’araa’ 54, Fir’aun Ramses II dan Fir’aun Merneptah mempunyai tentara yang banyak, Shaad 12. Fir’aun Merneptah dan bala tentaranya sudah terlihat sedang mengejar Bani Israil naik kuda dan kereta kuda, karena berada di kawasan padang pasir, maka jarak 20 km tampak seperti berjarak 2 km sehingga ke-2 golongan itu bisa saling melihat yang membuat Bani Israil takut terkejar mereka, Asy-Syu’araa’ 61. Nabi Musa as menenangkan umatnya bahwa mereka tidak akan terkejar oleh musuh karena Allah bersamanya dan pasti nanti akan memberi petunjuk kepadanya, Asy-Syu’araa’ 62. Artinya, jarak golongan Bani Israil dengan Merneptah sudah dekat, kecepatan maksimal lari kuda 76 km/jam, membuat jaraknya cepat mendekat, Asy-Syu’araa’ 64.

Tidak mungkin Bani Israil menyeberangi Teluk Aqabah yang lautnya sangat dalam, yaitu kedalamannya rata-rata 1.500 m, dan di bagian tengah laut mencapai kedalaman 1.850 m, hal ini sama saja dengan naik turun gunung yang tinggi, pasti banyak yang tidak kuat, apalagi semalaman mereka telah berjalan kaki sejauh puluhan kilometer dari Kota Fayoum sampai ke tepi laut Teluk Suez, pasti tenaga mereka telah banyak terkuras. Sedangkan Bani Israil yang menyeberang tidak hanya orang muda yang fisiknya kuat, tetapi banyak orang tua, banyak orang tua yang sakit-sakitan, juga puluhan ribu anak-anak. Dan sangat mungkin jasad Fir’aun Merneptah tidak ditemukan, jika terdampar di tepi laut Teluk Aqabah - Asia, seandainya kaumnya menemukan jasadnya pun, pasti sudah rusak, karena sudah berhari-hari terdampar dan tidak bisa diawetkan menjadi mumi. Dan juga tidak mungkin Bani Israil dari Sinai – Mesir menyeberangi Teluk Aqabah (Eilat) sampai di Aqabah - Jazirah Arab lalu kembali lagi ke Sinai, karena Bani Israil dihukum Allah harus tinggal di Padang Tih – Semenanjung Sinai selama 40 tahun tidak bisa keluar dari sana, Al-Maaidah 26, sebab mereka tidak mau berjihad karena takut musuh, Al-Maaidah 22, 24. Sampai generasi tua Bani Israil yang tidak mau jihad itu mati semua, baru generasi muda Bani Israil bisa keluar dari Padang Tih. Kemudian Bani Israil dipimpin Nabi Yusya’ as pergi berjihad untuk mendapatkan lagi hak atas tanah yang dijanjikan Allah, yaitu Palestina (asalkan Bani Israil tetap beriman dan bertakwa kepada Allah saja dan taat kepada nabi-nabi-Nya, PL. Kitab Yeremia 25:5, 35:15, 2 Raja-raja 21:8 dan Kitab 2 Tawarikh 33:8. Yang pada abad ke-12 SM di wilayah itu telah dihuni bangsa-bangsa kafir (bangsa Het (Hittites), Girgasi, Amori, Kana’an, Yebus, Feris dan Hewi).

Di wilayah gurun atau padang pasir, angin darat itu sangat kencang, sehingga mempengaruhi arus laut Teluk Suez menjadi sangat kuat membawa apa saja yang ada di dalamnya terus mengalir ke Laut Merah dan sebagian bangkai-bangkai mereka oleh Allah dihanyutkan ke Teluk Aqabah termasuk kereta perangnya Fir’aun Merneptah sebagai bukti bahwa Allah Yang Maha Kuasa, Maha Perkasa dan Maha Menang pernah membelah laut dan menenggelamkan musuh-musuh-Nya supaya menjadi pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang datang kemudian, Az-Zukhruf 56, tetapi kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Maka di dasar Teluk Aqabah ditemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno, sebuah roda kereta tempur dari emas dengan 4 buah jeruji emas milik Fir’aun Merneptah, dan di lokasi yang tidak jauh ditemukan juga sebuah poros roda dari salah satu kereta kuda yang kini sudah tertutup batu karang sehingga sangat sulit untuk dikenali bentuk aslinya secara jelas. Ada juga beberapa tulang manusia dan tulang kuda yang zaman dahulu sebagian mayat bala tentara Fir’aun Merneptah dan kereta perang dan bangkai kuda-kuda mereka hanyut terbawa arus laut yang sangat kuat berbelok ke arah Teluk Aqabah dengan kedalamannya rata-rata 1.500 meter yang menyebabkan angin darat tidak berpengaruh ke dasar lautnya (angin mempengaruhi arus laut sampai kedalaman 200 m saja), sehingga mayat mereka dan bangkai kuda-kudanya yang sudah menjadi tulang belulang beserta kereta perangnya aman selama ribuan tahun tidak bisa hanyut ke mana-mana lagi, kemudian ditemukan oleh Arkeolog Ron Wyatt tahun 1988 dan diuji di Stockhlom University Swedia, yang menunjukkan struktur dan kandungan beberapa tulang yang telah berumur lebih dari 3200 tahun, seumur dengan peristiwa penyeberangan Bani Israil zaman dahulu.

Allah hukum Fir’aun Merneptah dan bala tentaranya dengan ditenggelamkan mereka semuanya di dasar laut, Az-Zukhruf 55. Beberapa waktu kemudian, Allah selamatkan badannya Fir’aun Merneptah saja dari dalam laut sehingga terhindar dari kerusakan total dan hilang. Sedangkan yang lain tenggelam semuanya di dasar Teluk Suez yang arus lautnya sangat kuat terus hanyut semuanya kecuali mayatnya Fir’aun Merneptah. Allah damparkan mayat Fir’aun Merneptah di tepi pantai Mesir – Afrika, supaya cepat ditemukan oleh orang-orang Mesir yang menyusulnya sehingga kondisi mayatnya masih terpelihara dengan sempurna dalam posisi sujud, walaupun badannya telah berubah pucat keputih-putihan karena terlalu lama terendam air laut, terus diserahkan ke kerajaan untuk dibalsem. Pada tahun 1975 Pemerintah Mesir memberi kesempatan kepada dokter ahli bedah Perancis Prof. Dr. Maurice Bucaille untuk memimpin penelitian, mempelajari dan menganalisis mumi Fir’aun Merneptah. Hasil akhir yang diperoleh dari penelitian tersebut sangat mengejutkan, yaitu sisa-sisa garam laut (NaCl) yang melekat pada badan mumi Merneptah adalah bukti terbesar bahwa ia mati karena tenggelam dan hanya mumi Fir’aun Merneptah saja yang badannya mengandung banyak garam laut. Jasadnya dikeluarkan dari laut, kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet dan muminya dimakamkan di sebuah kompleks makam keluarga KV-5 bercampur dengan mumi-mumi yang lainnya karena ia tidak disangka mati secepat itu sehingga pembalsemannya dilakukan dengan tergesa-gesa dikhawatirkan jenazahnya akan segera membusuk. Penemuannya itu masih mengganjal dalam pikiran sang professor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad mumi yang lain, padahal ia dikeluarkan dari laut? Kami sudah melakukan lebih dari itu dan menitikkan perhatian pada pencarian kemungkinan penyebab kematian Fir’aun Merneptah, dengan dilakukan penelitian medis legal terhadap mumi tersebut berkat bantuan Ceccaldi, direktur laboratorium satelit udara di Paris dan Prof. Durigon.
Qur’an surat Yunus ayat 90-91 :
90.  (Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun) Merneptah (dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas) mereka (hingga bila fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah ia : ”Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri”) kepada Allah, Fir’aun Merneptah sengaja mengulang-ulang perkataannya itu supaya diterima oleh Allah, akan tetapi Allah tidak mau menerima imannya lalu malaikat mencabut nyawanya dengan keras seraya memukul muka dan punggungnya sebagai siksa di dunia yang mengakibatkan adanya memar di bagian kepala tengkoraknya dan adanya sisa-sisa darah yang melekat pada tubuh mumi Merneptah, Al-Anfaal 50-52 dan Muhammad 27. Allah tidak menerima imannya Fir’aun Merneptah karena ia durhaka sejak dahulu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, banyak berbuat kerusakan di muka Bumi dengan melakukan perbuatan dosa-dosa yang melampaui batas dan nyawanya telah berada atau sampai di kerongkongan. Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah menerima tobat (atau iman) seseorang hamba, selama nyawanya belum sampai di kerongkongan”. Hadits riwayat At-Tirmidzi.
91.  (Apakah sekarang) baru kamu beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya (padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan) orang yang zhalim.
Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 17-18 :
17.  (Sesungguhnya tobat di sisi Allah adalah) tobatnya (bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan disebabkan kejahilan) karena ketidaktahuannya (kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana).
18.  (Dan tidaklah tobat itu) diterima Allah (dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan sampai ketika datang ajal kepada seseorang di antara mereka) dan nyawa telah sampai dikerongkongan, baru (ia mengatakan : ”Aku benar-benar bertobat sekarang”. Dan tidak pula) diterima tobat dari (orang-orang yang mati sedangkan mereka berada dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami siapkan) sediakan (azab yang pedih).
Qur’an surat Al-Mu’min ayat 84-85 :
84.  (Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata : ”Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukannya dengan Allah”).
85.  (Maka iman mereka tidak berguna) lagi (bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan disaat itu merugilah orang-orang kafir).
Qur’an surat Al-An’aam ayat 93 :
93.  (Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat kedustaan) mengada-adakan dusta (terhadap Allah) dan berkata : ”Ini dari sisi Allah”. Padahal bukan dari sisi Allah (atau yang berkata : ”Telah diwahyukan kepada saya”. Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya dan) juga (orang yang berkata : ”Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang zhalim) kafir dan fasik (berada dalam tekanan sakratul maut, sedangkan para malaikat) menyiksa mereka (memukul dengan tangannya) dan berkata dengan kasar kepada mereka (: ”Keluarkanlah nyawamu, di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”) tidak mau mengimaninya.
Qur’an surat Al-Anfaal ayat 50 :
50.  (Jika kamu melihat ketika dicabut jiwa orang-orang yang kafir oleh para malaikat seraya memukul muka dan belakang) punggung (mereka. Dan) berkata dengan kasar kepada mereka (: ”Rasakanlah oleh kalian siksa  yang membakar ini”) niscaya kamu akan menyaksikan peristiwa yang sangat mengerikan.
Qur’an surat Muhammad ayat 27 :
27.  (Bagaimanakah) keadaan orang-orang kafir dan melampaui batas dalam berbuat dosa-dosa (apabila malaikat mencabut nyawa mereka) dengan keras, An-Naazi’aat 1 (seraya memukul muka dan punggung mereka).

Dalam pengecekan itu, tim medis berupaya mengetahui sebab dibalik kematian ‘ekspress’ akibat adanya memar di bagian kepala tengkorak dan adanya sisa-sisa darah yang melekat pada tubuh mumi Merneptah akibat dipukul muka dan punggungnya oleh malaikat ketika mencabut nyawanya setelah hampir tenggelam seperti yang tertulis dalam Qur’an surat Yunus 90-91 dan Muhammad 27 adalah bukti terbesar mengakibatkan ia telah mati karena tenggelam. Jelas pada setiap penelitian ini sangat sesuai dengan kisah-kisah yang terdapat di dalam kitab-kitab suci, yang menyiratkan bahwa Merneptah sudah mati saat ombak menelannya. Awalnya Bucaille tidak menghiraukan kabar ini, sekaligus menganggapnya mustahil. Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui, kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat. Hingga laporan akhirnya ini diterbitkannya dengan judul “Les momies des Pharaons et la midecine” (Mumi Fir’aun : Sebuah Penelitian Medis Modern). Salah seorang di antara mereka berkata, bahwa Al-Qur’an yang diyakini umat Islam, telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Fir’aun Merneptah yang kemudian diselamatkannya mayatnya. Ungkapan itu semakin membingungkan Prof. Bucaille, lalu ia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bukankah mumi Fir’aun Merneptah baru ditemukan pada tahun 1898 Masehi di Lembah Raja-raja Thoba – Luxor Barat, padahal Al-Qur’an telah ada hampir 1.300 tahun sebelum penemuan muminya. Sementara dalam Kitab Taurat Yahudi PL. Kitab Keluaran pasal 14 ayat 28 membicarakan tenggelamnya Fir’aun Merneptah dan bala tentaranya di tengah laut saat mengejar Nabi Musa as dan kaumnya, tetapi tidak membicarakan tentang mayat Fir’aun Merneptah yang diselamatkan oleh Allah. Penelitian medis terhadap mumi Fir’aun Merneptah mengemukakan kepada kita, informasi penting lainnya mengenai apa kemungkinan penyebab kematian fir’aun ini. Kemudian dia membandingkan dengan Injil Yesus Kristus, ternyata, Injil tersebut tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Fir’aun Merneptah yang masih tetap utuh. Oleh karenanya, ia pun semakin bingung, setelah perbaikan terhadap mayat Fir’aun Merneptah dan pemumiannya, lalu Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Prof. Bucaille memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum muslimin, dan ilmuan muslim itu membaca Qur’an surat Yunus ayat 92 :
92.  (“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”). Sekarang mumi Fir’aun Merneptah disimpan di Museum Tahrir, Kota Kairo - Mesir dalam keadaan anggota tubuh mumi Fir’aun Merneptah masih tetap utuh, sedangkan kondisi mumi-mumi yang lain setelah diawetkan, tidak seutuh seperti mumi Fir’aun Merneptah.

Keterangan :
Garam laut (NaCl) rasanya asin berbeda dengan garam Natron (Na2CO3) yang rasanya pahit, garam Natron adalah kapur magmatik yang telah ditempa di dalam Bumi terus keluar melalui aliran lava Gunung Ol Doinyo Lengai yang terletak di selatannya yang disemburkan ke udara menjadi awan abu setinggi 15 km terus dikumpulkan oleh air hujan lalu mengalir ke Danau Natron – Tanzania. Pada zaman Mesir kuno, tubuh jenazah yang akan diawetkan, dilumuri garam Natron (natrium karbonat dekahidrat/sodium carbonate decahydrate) yang berfungsi sebagai desinfektan terhadap mikroba dan untuk mengeringkan jenazah dalam proses mumifikasi total waktunya selama 70 hari.

Sumber : Al-Qur’an, Tafsir Jalalain, Injil Barnabas, Jelajah Sungai Nil oleh Agus Mustofa dan berbagai sumber. 

15 Desember, 2014

TRADISI BERJAGA MALAM HANYA DILAKSANAKAN KAUM MUSLIMIN

Dalam agama Islam ada istilah Qiyamul Lail yang berarti “berdiri atau berjaga malam”. Maksudnya, orang yang bangun waktu malam untuk melaksanakan shalat (sambil berdiri, duduk dan sujud) menyembah Allah Yang Maha Kuasa sambil menanti waktu Subuh untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid. “Berjaga Malam” berarti menghidupkan waktu malam dengan mengisi amalan shalat tahajud, dzikir, berdoa kepada Allah sambil menanti waktu subuh untuk shalat berjamaah di masjid khususnya bagi kaum pria. Orang Islam sudah dianggap bangun/berjaga shalat malam apabila melaksanakan shalat Isya’ dan Subuh secara berjamaah.
Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda :
”Barangsiapa shalat Isya’ berjamaah, maka seolah-olah dia telah berjaga-jaga separuh malam, dan barangsiapa yang shalat Isya’ dan Fajar/Subuh berjamaah, maka seolah-olah dia telah berjaga-jaga sepanjang malam”. Hadits riwayat Malik dan Muslim.
Terhadap masalah ini, Allah telah menetapkan dalam Qur’an surat Al-Muzzammil ayat 20 :
20. (”Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari 2/3 malam atau 1/2 malam atau 1/3 nya dan demikian pula segolongan dari orang-orang yang bersamamu, Allah menetapkan ukuran malam dan siang”).

Rasulullah saw menetapkan bahwa 1/3 malam yang terakhir adalah waktu yang paling diberkati, seperti yang disebutkan dalam sabdanya : ”Pada setiap 1/3 malam yang terakhir tiba, Tuhan berfirman : “Barangsiapa bertanya kepada-Ku, maka akan Kujawab, barangsiapa berdoa, maka akan Kukabulkan, barangsiapa yang memohon ampun, maka akan Kuampuni !”. Hadits riwayat Bukhari.
Qur’an surat Adz-Dzariyaat ayat 17-18 :
17.  (Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam).
18.  (Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar).
Allah melukiskan orang-orang yang berjaga malam dalam firman-Nya Qur’an surat As-Sajdah ayat 16-17 :
16. (“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa dengan penuh cemas dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki mereka yang Kami berikan).
17. (Tak seorangpun mengetahui apa yang disembunyikan bagi mereka berupa berbagai kenikmatan yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan”).

Sehingga yang nanti akan ditemui oleh Nabi Isa as adalah kaum muslimin. Sedangkan, orang-orang kafir yang mengaku pengikut Nabi Isa as, tidak akan ditemui Nabi Isa as, karena mereka tidak mengamalkan perintah Nabi Isa as agar bangun malam untuk shalat Tahajud, dzikir, berdoa dan shalat Subuh menyembah Allah. Kaum muslimin yang akan ditemui pertama kali oleh Isa putra Maryam.
Rasulullah saw bersabda :
“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berjuang membela kebenaran dengan memperoleh pertolongan hingga datangnya hari Kiamat. Kemudian akan turun Isa putra Maryam, lalu pemimpin mereka (pemimpin umat muslim di akhir zaman adalah Imam Mahdi) berkata (kepada Nabi Isa as) : “ Silahkan Anda shalat mengimami kami”,
Nabi Isa as menjawab : ”Tidak usah, sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lain, sebagai kemuliaan dari Allah bagi umat ini”.
Nabi Isa as bersabda dalam Injil Wahyu pasal 3 ayat 2-3  kepada pengikutnya :
“Bangunlah dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu aku dapati sempurna di hadapan Allahku”.

Hal ini mengisyaratkan bahwa setelah Nabi Isa as diangkat ke Langit ke-3, semua yang mengaku pengikutnya dan yang menyembahnya, tidak akan mampu melaksanakan tugasnya (tugas dalam menjalankan ibadah agama yang diajarkan Nabi Isa as) dengan sempurna, sehingga muncul fitnah. Sebagian pengikutnya mulai menuhankannya (menganggap Nabi Isa as adalah Allah), sebagian lagi menganggap Nabi Isa as sebagai putra Allah atau salah satu dari oknum Trinitas, Hal ini merupakan tradisi bangsa Romawi yang saat itu menguasai Yerusalem/Yerusalam, bangsa Romawi selalu menganggap tuhan terhadap orang/manusia yang berjasa besar. Hal ini kemudian ditiru oleh orang Yahudi yang menjadi pengikut Nabi Isa as. Sehingga muncullah Paulus, orang Yahudi aliran Farisi palsu, yang mengaku rasul yang memperkuat ajaran bahwa Nabi Isa as adalah anak tuhan, kemudian Paulus mengangkat Nabi Isa as sebagai tuhan karena dirinya mengaku sebagai rasul. Sehingga orang Kristen tersesat sampai sekarang. Ini adalah musyrik dan syirik (dalam Injil perbuatan musryik dan syirik dilambangkan dengan percabulan, adalah amalan yang menyesatkan orang lain dan membuat mereka tidak menyembah Allah atau semua yang menggantikan Allah dalam hidup kita). Maka, tersesatlah orang yang menganggap Nabi Isa as adalah tuhan atau anak tuhan. Sedangkan Nabi Isa as sendiri mengatakan bahwa dirinya adalah anak manusia dalam : Injil Barnabas pasal 95 Pengakuan Nabi Isa as/Yesus halaman 171-173 dan Injil Barnabas pasal 96 Tentang Mesias halaman 173.

Terhadap orang-orang yang menuhankan Nabi Isa as, maka Nabi Isa as tidak akan turun kepada mereka. Mereka tidak akan ditemui Nabi Isa as, lagi pula Nabi Isa as tidak pernah mengajarkan kepada mereka ajaran agama Kristen dan Katolik, agama tersebut ciptaan Paulus nabinya orang-orang Nasrani Trinitas. Nabi Isa as itu adalah seorang muslim, dia menjalankan shalat wajib 5 waktu, shalat Tahajud serta Dhuha dan dia hanya mengajarkan kepada pengikut-pengikutnya ajaran agama Islam saja. Dalam hal ini, Nabi Isa as dalam Injil mengisyaratkan bahwa nanti banyak pengikutnya yang tidak setia (tidak beriman kepada Allah).
Nabi Isa as bersabda :
“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?
 Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu, ’Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya’. Akan tetapi, apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya, ‘Tuanku tidak datang datang’, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain (yaitu menyerang orang-orang Islam, seperti saat ini di Israil, orang-orang Yahudi dengan didukung oleh sebagian orang Amerika dan Eropa (Romawi) menyerang orang-orang Islam Palestina.

Maka, mereka yaitu Yahudi dan kafir di seluruh dunia yang akan dihukum oleh Nabi Isa as, dan mereka akan digolongkan ke dalam barisan orang-orang munafik), dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangka-sangka (Nabi Isa as akan datang dengan tidak disangka-sangka, kemudian membunuh orang-orang yang tidak setia/tidak beriman kepada Allah/tidak menjalankan ajarannya Nabi Musa as (orang Yahudi) dan Nabi Isa as (orang kafir), hal ini terjadi di medan perang Armageddon II), dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia (Dajjal) dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi (karena takut di medan Perang Armageddon)”. Matius pasal 24 ayat 45-51 Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat.
Teks di atas menjelaskan bahwa akan banyak pengikut Nabi Isa as yang tidak setia, tidak melakukan tugasnya dengan baik (tidak menjalankan ajaran Nabi Isa as dengan benar), tidak bersabar. Orang-orang munafik dalam hal ini adalah orang yang mengaku pengikut Nabi Isa as, tetapi tidak satupun ajaran Nabi Isa as yang diamalkan. Yaitu beberapa ajaran Nabi Isa as sebagai berikut :
Kesatu         : Nasehat berjaga malam (dalam tradisi Islam, orang munafik tidak akan bisa bangun/jaga malam, bangunnya selalu kesiangan sehingga tidak bisa shalat Subuh tepat waktu).
Kedua       : Nasehat agar tidak mabuk dalam pesta pora dunia (tetapi dalam kenyataannya, orang-orang Kristen serta tulisan pendeta-pendetanya selalu menganjurkan kemewahan dunia atau hedonis).
Dalam tradisi Islam, terdapat hukum kausal metafisik, yaitu bahwa orang yang tidak bisa berjaga/bangun malam (yaitu tidak bisa shalat Shubuh berjamaah) biasanya disebabkan dia banyak melakukan perbuatan dosa. Orang itu banyak melakukan dosa karena dia terlalu cinta dunia, mabuk oleh pesta pora dunia. Hatinya penuh atau sarat dengan kepentingan dunia, sehingga dia bersifat sombong atau zhalim atau sombong bercampur zhalim atau fasik, atau kufur nikmat dan lain-lain. Orang yang banyak melakukan perbuatan dosa, hatinya jadi keras, sehingga cahaya dari Allah berupa ilmu, nasehat sulit masuk ke dalam kalbunya, sulit menjalankan atau mengamalkan ilmu yang didapatnya dengan berbagai alasan, ilmu yang sudah masuk ke kalbunya mudah hilang. Karena itu orang yang biasa berjaga malam (menghidupkan malam, minimal shalat Shubuh berjamaah di masjid, khususnya bagi kaum pria) hanyalah orang-orang pilihan Allah, orang-orang yang berada dalam jaminan dan perlindungan dari Allah, Juga orang-orang yang tidak berlebihan dalam kemewahan dunia, sehingga dia dijauhkan oleh Allah dari melakukan dosa-dosa besar, Amin 3x Ya Robbal ‘alamin. Hal ini sesuai dengan nasehat Nabi Isa as yaitu agar jangan mabuk oleh kemewahan dunia sehingga dengan begitu, mampu untuk berjaga malam. Hal inilah yang tidak dipahami oleh orang kafir dan orang Yahudi yang kafir. Segala puji bagi Allah yang menunjuki kita semua menjadi seorang muslim. Hamba yang setia adalah yang taat dan melaksanakan segala perintah Allah dan rasul-Nya. Yaitu, senantiasa berjaga-jaga malam (shalat malam, shalat Shubuh berjamaah di masjid), tidak mabuk dunia (kedoyan = bhs. Jawa).

Mereka inilah yang nanti ditemui Nabi Isa as dan ditolong dari fitnah Dajjal. Kedatangan Dajjal yang masih belum cacat adalah, ketika terjadinya pendangkalan agama, yaitu sebagian besar orang tidak tahu hukum agama, meremehkan agama dan banyak yang tidak menjalankan perintah agama. Dajjal adalah seorang penyihir dan kharismatik, kata-katanya mengandung mantra sihir, Dajjal belajar sihir dari dukunnya fir’aun, jadi kalau kita mendengar ada Dajjal, kita harus menjauhinya, sambil membaca Qur’an surat Al-Kahfi ayat 1-10, memohon pertolongan kepada Allah dan membaca takbir, tasbih, tahmid dan tahlil. Wajah Dajjal sebelum terkena asap Dukhan adalah, dia berwajah tampan, sehingga wanita-wanita tergila-gila melihat ketampanan wajahnya, sampai-sampai seorang ayah mengikat anak gadisnya dan seorang suami mengikat istrinya supaya tidak lari mendekati Dajjal. Tetapi, setelah wajah Dajjal terkena asap Dukhan, wajah Dajjal menjadi rusak, diantara kedua matanya tertulis huruf Arab yang bertuliskan “KFR” atau kafir, matanya buta sebelah, akibat cacat yang diderita Dajjal terkena asap Dukhan. Surganya Dajjal adalah Nerakanya Allah, Nerakanya Dajjal adalah Surganya Allah. Dajjal bisa mendatangkan dan mencegah hujan turun. Menghidupkan dan mematikan manusia, bekerja sama dengan setan jin yang menyamar orang yang telah mati yang dihidupkan oleh Dajjal melalui tipuan dan lain-lain. Terdeteksinya kedatangan Dajjal yang sudah kelihatan cacat, yaitu hadits Nabi saw bersabda : ”Sesungguhnya Dajjal akan keluar (diketahui ciri-ciri fisiknya) karena suatu kemarahan”.

Kemarahan Allah kepada orang kafir dan munafik, dengan Allah hantamkan (jatuhkan) 3 meteor super raksasa yang menyebabkan bencana besar di Bumi, gempa bumi dan tsunami besar di 3 tempat, sehingga terjadi Asap Dukhan/Al-Malhamah Al-Kubro (lihat Ad-Dukhaan ayat 10-16). Para ahli NASA memperkirakan, meteor super raksasa jatuh menabrak Bumi tahun 2019 atau 2036 Masehi. Tanda yang menunjukkan sudah dekatnya Nabi Isa as turun ke Bumi (ke-3 kalinya) adalah hidupnya masjid pada malam hari, yaitu saat waktunya shalat Shubuh. Masjid penuh dengan orang-orang yang shalat Shubuh berjamaah, jumlahnya sama banyaknya dengan jumlah jamaah shalat Jum’at. Hari ini masih sedikit umat Islam yang memakmurkan masjid pada waktu Shubuh, apalagi orang-orang non muslim, mereka masih banyak yang tidur. Maka, berdakwah mengajak kaum muslimin agar mereka menegakkan shalat berjamaah adalah suatu pekerjaan yang bernilai besar di sisi Allah. Karena, orang-orang seperti inilah yang merupakan perintis bagi turunnya NUSRATULLAH ‘pertolongan Allah’ berupa kedatangan Nabi Isa as di akhir zaman. Orang yang mempersiapkan segala sarana yang menunjang bagi kedatangan Nabi Isa as adalah orang yang melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya dengan sempurna.
Misi kedatangan Nabi Isa as ada tiga :
  1. Untuk membunuh Dajjal laknatullah.
  2. Menegakkan kalimat Laa ilaaha illallah dengan membunuh semua orang kafir yang tidak mau masuk Islam.
  3. Menerangkan ajarannya yang telah diselewengkan jauh oleh Paulus dan para pengikut dan yang paling fatal adalah,  orang-orang kafir itu menuhankan Nabi Isa as, padahal, ajaran Nabi Isa as adalah ajaran agama Islam.
  4. Untuk menggenapi Firman Allah bahwa tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, Ali-‘Imran 185, Al-Anbiyaa’ 35 dan Al-‘Ankabuut 57, Nabi Isa as sampai sekarang belum wafat dan masih disimpan Allah di Langit ke-3.

Kedatangan Nabi Isa as (anak manusia bukan anak Tuhan) diibaratkan seperti air bah/banjir bandang zaman Nabi Nuh as, yang datang tak diduga-duga. Pada saat itu ada 2 golongan orang.
Yaitu, golongan yang setia atau beriman kepada Nabi Nuh as, sehingga mereka bersedia membangun perahu di tempat yang tidak ada airnya sama sekali. Dan golongan yang tidak bersedia melaksanakan nasehat Nabi Nuh as, bahkan menentangnya. Golongan pertama adalah mereka yang diselamatkan oleh Allah. Tetapi, golongan kedua adalah mereka yang dilenyapkan dengan banjir besar.
Dalan Injil Matius pasal 24  ayat 37-44 yang berjudul Nasehat supaya berjaga-jaga :
“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada 2 orang di ladang, yang seorang akan dibawa yang lain akan ditinggalkan; kalau ada 2 orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana tuanmu* datang”.

Dalam teks Injil Paulus disebut Tuhanmu, padahal Nabi Isa as sendiri dalam Injil Barnabas, mengatakan sebagai anak manusia bukan anak Tuhan dan bukan Tuhan, hal ini merupakan bukti bahwa banyak sekali ayat-ayat Injil yang diganti oleh penulisnya. Kadang Isa putra Maryam disebut anak manusia, kadang disebut tuhan, ini bukti adanya campur tangan pengikutnya yang tidak memahami atau tersesat dari ajaran Nabi Isa as yang sebenarnya.
 Sabda Nabi Isa as :“Tetapi ketahuilah ini. Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri datang, sudahlah pasti berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu hendaklah kamu juga bersiap sedia, karena Anak Manusia (Isa as) datang pada saat yang tidak kamu duga”.
Jadi yang dimaksud menunggu dengan sabar adalah mempersiapkan segala sarana bagi kedatangan air bah/banjir bandang, yaitu dengan membuat perahu, mengisi bahan makanan dan minuman kemudian masuk perahu untuk berjaga-jaga terhadap banjir yang datangnya tak diduga-duga. Inilah orang yang beruntung dan selamat. Sedangkan, orang yang mengira bahwa banjir tidak akan datang sehingga mereka terlena dengan pesona dunia, tidak mau berjaga-jaga, inilah orang-orang yang merugi karena mereka akan ditenggelamkan banjir yang datang dengan tiba-tiba, mereka mati semua tanpa sisa. Yang hidup hanya orang-orang dalam perahu.
Inilah realisasi doa Nabi Nuh as : ”Ya Allah jangan sisakan orang-orang kafir di muka Bumi ini!”.
Maka, Allah mengabulkan doa nabi-Nya, semua orang kafir mati tanpa sisa. Hanya orang-orang yang memakmurkan masjid yang akan diselamatkan oleh Allah. Sabagaimana orang-orang yang masuk perahunya Nabi Nuh as yang selamat. Begitu juga saran atau nasehat Nabi Isa as agar semua orang yang beriman berjaga-jaga pada malam hari. Yaitu dengan masuk masjid untuk shalat berjamaah lima waktu, khususnya bagi kaum pria, terutama shalat Subuh berjamaah, karena nanti Nabi Isa as akan datang pada waktu menjelang Subuh. Sebagaimana yang diberitakan olah Rasulullah saw bersabda dalam haditsnya :
“Kemudian turunlah Isa ibnu Maryam, lalu ia menyeru pada waktu sahur” (Nabi Isa as turun di bulan Ramadhan).
Dalam hadits yang lain Rasulullah saw bersabda :
“Bagaimana keadaanmu nanti apabila putra Maryam telah diturunkan di tengah-tengah kamu, sedangkan imam (pemimpin) kamu adalah dari antara kamu sendiri”.
Allah berfirman di dalam hadits qudsi : (“Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di atas permukaan Bumi adalah masjid-masjid dan sesungguhnya, yang menjadi tamu-tamunya adalah orang-orang yang senantiasa  memakmurkannya”).

Tidakkah orang-orang kafir dan Yahudi yang kafir memahami hal ini? Hanya kaum muslimin yang mampu memahami dan mengamalkan. Oleh karena itu, setiap kaum muslimin diwajibkan membaca Qur’an surat Al-Faatihah disetiap shalatnya. Karena kalau tidak membaca Al-Faatihah, shalatnya tidak sah, karena hati kita tidak sambung dengan Allah. Padahal shalat maknanya adalah silahturahmi/berhubungan/mi’raj/menyambungkan hati kita dengan Allah. Membaca Al-Faatihah di dalam shalat itu, berkhasiat menyambungkan hati kita dengan Allah. Maka membaca Al-Faatihah itu hukumnya wajib di dalam setiap shalat dan rakaat kita. Orang-orang Kristen yang selama ini selalu menunggu-nunggu kedatangan Nabi Isa as, ternyata tidak ditemui oleh beliau as, karena mereka tidak mengamalkan wasiat Nabi Isa as yang bersabda :
“Berjaga-jagalah kamu di malam hari, karena aku (Isa putra Maryam) akan datang seperti pencuri di malam hari”. Berjaga-jaga di malam hari maksudnya menghidupkan malam dengan amalan saleh, shalat Tahajud, dan yang terpenting minimal adalah shalat Shubuh berjamaah di masjid. Tradisi berjaga malam hanya diamalkan oleh kaum muslimin, maka beruntunglah kaum muslimin yang menjalankannya. Setelah shalat Shubuh berjamaah di masjid selesai, maka Nabi Isa as melaksanakan musyawarah dengan kaum muslimin yang saat itu dipimpin oleh Al-Mahdi pemimpin umat Islam pada waktu nanti. Setelah itu dilaksanakan persiapan bagi peperangan Armageddon II melawan Dajjal beserta pengikut-pengikutnya yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir.
Qur’an surat Az-Zukhruf ayat 61 :
61. (“Dan sungguh, ia) Nabi Isa as turunnya ke dunia untuk terakhir kalinya adalah (benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat) dalam waktu yang tidak lama (Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang Kiamat itu dan) katakan kepada mereka Muhammad (“Ikutilah aku) ajaran-ajaran tauhid yang dibawa Rasulullah saw, karena (inilah jalan yang lurus”) yaitu dengan masuk Islam dan bertakwa kepada Allah.

Sumber : Al-Qur’an dan Armageddon I dan II oleh Ir. Wisnu Sasongko M.T., Dajjal oleh Muhammad Isa Dawud