09 Juni, 2015

PUASA ADALAH DETOKSIFIKASI

Dengan puasa lebih dari 6 hari, maka jumlah neutrofil dan makrofag bertambah banyak (sel neutrofil dan sel makrofag adalah eukariota yang dimiliki sistem kekebalan tubuh bawaan, dan dianggap sebagai pembela awal utama terhadap serangan bibit penyakit), sehingga mampu menelan benda-benda asing yang masuk ke darah. Dari sini dapat kita pahami bahwa yang dimaksud dengan perisai atau pelindung (junnah) di sini bukan hanya bersifat batin, yaitu melindungi dari bahaya nafsu saja. Tetapi lebih dari itu, puasa juga perisai atau benteng dari malapetaka fisik, puasa bukan sekedar berimplikasi “nanti” di akhirat, bukan sekedar sebagai perisai manusia dari api neraka, tetapi juga perisai dari api dunia yaitu panas yang muncul akibat Armageddon. Dalam konteks ini, puasa juga menjadi benteng yang kokoh dari bahaya Armageddon yang di dalamnya muncul asap Dukhaan sebagai akibat hantaman keras meteor yang menghantam Bumi.
Menurut Andang Gunawan dalam bukunya, Food Combining: Kombinasi Makanan Serasi, Pola Makan untung Langsing dan Sehat (hlm. 90-97), detoksifikasi adalah proses pengeluaran zat-zat yang memiliki sifat toksin (racun) dari dalam tubuh. Puasa terbukti efektif dalam proses detoksifikasi yang bersifat total dan holistik. Orang yang mengerjakan puasa akan mengalami krisis detoksifikasi atau krisis penyembuhan, pembersihan fisik dan peningkatan jiwa. Efek samping dari detoksifikasi ini ditandai dengan salah satunya berupa lemes, gelisah, mual, sakit kepala, pilek, flu, demam ringan dan sebagainya selama 1-6 hari pertama, hal ini karena tubuh terlepas dari rutinitas sehari-hari dan sedang mengolah beberapa racun yang kemudian bergerak dalam aliran darah menyusuri seluruh bagian tubuh beserta seluruh sistem dan jaringannya sebelum dikeluarkan dari tubuh. Puasa untuk tujuan detoksifikasi dapat dilakukan selama 2 sampai 14 hari, tergantung pada kondisi tubuh dan tingkat aksidosis di dalam tubuh, asal tidak menjadi perokok aktif maupun pasif. Puasa sepanjang waktu itu ternyata sangat efektif untuk tujuan pembersihan bagian dalam, regenerasi sel, dan peremajaan tubuh, asalkan dilakukan secara teratur dan berkala tidak setiap hari untuk puasa sunat.
Puasa sangat membantu dalam penyembuhan berbagai penyakit, antara lain diabetes, asma, alergi, pilek, flu, bronchitis, asam urat, rematik, kanker stadium dini, insomnia, depresi, stress, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penyumbatan pembuluh darah koroner (sakit jantung), penyumbatan pembuluh darah arteri, obesitas. sariawan, maag (nyeri lambung), migraine (sakit kepala), demam, penyakit-penyakit kulit, dan ketergantungan obat, nikotin, alkohol dan narkotika. Dalam kaitannya dengan kulit dan mata, Dr. R Cinque menyebutkan bahwa puasa bisa menyebabkan kulit menjadi bersih dan halus, serta mampu menjernihkan pandangan mata. Terapi puasa mampu meningkatkan proses detoksifikasi dari dalam tubuh sendiri. Dengan aktivitas puasa Ramadhan, organ sistem eliminasi dan detoksifikasi meliputi kulit, paru-paru, ginjal, hati, getah bening, dan usus besar, maka kinerja organ-organ tersebut menjadi lebih baik dibandingkan organ-orang yang tidak berpuasa. Keutamaan puasa antara lain, dengan puasa terjadi pembaharuan (regenerasi) sel-sel tubuh serta anggota tubuh dan membersihkan tubuh dari berbagai jenis racun (detoksifikasi). Saat orang puasa Ramadhan, sekian banyak lemak yang tertimbun di dalam tubuhnya akan beralih ke hati, sehingga lemak itu dapat dimanfaatkan, lalu dari hati keluar racun yang sudah melebur di dalamnya, terus hilang sama sekali dari tubuh.
Dr.Abdul Jawad ash-Shawi menyatakan bahwa zat asam amino membentuk komposisi organik dalam sel. Saat puasa, keasaman yang berasal dari makanan, berkumpul dengan keasaman yang dihasilkan dari proses penghancuran. Saat puasa, pembentukan sel akan kembali setelah ada penghancuran dan prosesnya, kemudian disebarkan menurut keperluan sel-sel tubuh. Dengan begitu ada kesempatan untuk terjadinya komposisi baru bagi sel-sel yang memperbaikinya dan mengangkat efektivitas kerjanya, yang pada akhirnya mendatangkan kesehatan bagi tubuh manusia dan menambah kesehatannya. Puasa Islam adalah satu-satunya sistem pencernaan yang paling ideal dalam memperbaiki optimalisasi fungsi liver, yang menambahinya dengan fatty acid dan amino organic selama rentang waktu antara buka puasa dan sahur, sehingga kemudian membentuk inti protein, cairan phosphate, cholesterol, dan lain-lain untuk pembentukan sel-sel baru. Pembersihan sel hati atau hepar (liver) dari lemak yang berkumpul di dalamnya setelah makan, juga dapat terjadi pada siang hari saat puasa. Maka, dengan begitu liver tidak akan terserang cirrhosis liver (gangguan pada jaringan hati). Manfaat lain, tidak akan terjadi ketimpangan fungsional karena tidak terbentuknya materi yang dapat mengalihkan lemak darinya, yaitu lemak yang bertumpuk-tumpuk yang pembentukannya dapat dihindari karena mengosongkan perut atau memakan makanan yang tidak berlemak.
Dr.Bahar Azwar, Sp.B.Onk. di dalam bukunya yang berjudul “Puasa Menurut Ilmu Kesehatan” menyebutkan, bahwa puasa berfungsi sebagai pembersihan tubuh. Di saat tubuh kekurangan energi karena puasa, maka otak yang paling banyak membutuhkannya mulai bereaksi, rangsangannya memaksa kelenjar pankreas mengeluarkan hormon glukagon. Hormon ini bekerja membakar glikogen yang tersimpan di hati menjadi glukosa, sehingga energi tercukupi dan hati menjadi ringan. Bila masih belum cukup, dimulailah pembakaran lemak yang menumpuk di berbagai bagian tubuh, seperti pembuluh koroner, yang mendarahi jantung, hati, usus, dan ginjal. Bersama dengan pengurangan bebannya, organ-organ tersebut bertambah kuat, sesak napas akan berkurang, usus akan lebih bergairah, buang air besar menjadi lancar, selain itu, berat badan akan berkurang dan tubuh menjadi enteng. Dr. Bahar menyebutkan manfaat puasa, yaitu berkurangnya lemak dan kolesterol sehingga mencegah penyakit jantung, pikiran menjadi tenang, pekerjaan jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh menjadi ringan, tekanan darah yang tinggi akan berkurang, sehingga sakit kepala yang biasa diakibatkannya akan hilang, beban ginjal yang mengeluarkan racun-racun tubuh dalam air kemih juga berkurang, sakit pinggang karena ginjal akan berkurang, terjadi pembaharuan (regenerasi) sel-sel organ-organ tubuh dan anggota tubuh (jantung semakin muda, napas menjadi lapang, ginjal hemat dan sebagainya, jadi akan menghambat penuaan, artinya puasa Ramadhan membuat kita menjadi awet muda dan cerdas).
Dari sini dapat dipahami bahwa aktivitas puasa Ramadhan mampu mencegah dan membersihkan kandungan lemak dalam hati. Sehingga, puasa mampu meningkatkan kinerja hati dalam menetralisir toksin (racun-racun) yang masuk ke dalam tubuh. Bahkan Hippocrates, yang dianggap sebagi bapak kesehatan modern, menyebutkan, “If you feed a cold you will have to starve a fever” (jika kamu merasa demam, sebaiknya kamu berpuasa). Begitu juga Benjamin Franklin menyebutkan, “The best of all medicine are rest and fasting” (obat terbaik dari segala obat adalah istirahat dan puasa). Jika suatu penyakit ditemui, ada cara jitu yang dapat diambil untuk mengurangi lamanya dan gejala rasa sakit. Kunci dalam permasalahan ini adalah menopang dan mendukung kemampuan tubuh dalam detoksifikasi. Cara ini merupakan langkah terbaik untuk dilaksanakan yaitu melalui puasa dan istirahat fisik. Puasa pada intinya adalah suatu “istirahat kimiawi” (chemical rest) bagi organ dalam tubuh. Dengan penyederhanaan makanan, hal itu akan mempermudah dan mempercepat proses detoksifikasi organ utama, yaitu ginjal dan hati. Herbert M. Shelton, penulis buku The Hygienic System, menyebutkan bahwa keuntungan yang didapat setelah melakukan ‘puasa’ (yang membedakan dengan starving ‘kelaparan’) adalah sebagai berikut : Pernafasan yang selama berpuasa telah begitu ofensif menjadi bersih dan manis, lidah menjadi bersih, temperatur tubuh yang tidak normal menjadi normal, denyut nadi menjadi normal waktu dan iramanya, reaksi kulit dan reaksi organ lainnya menjadi normal, bau yang tidak sedap di mulut jadi berhenti, air ludah menjadi normal, mata menjadi terang dan pengelihatan mata menjadi meningkat, air seni menjadi bersih.
Puasa adalah sebuah proses pembersihan dan sebuah istirahat fisiologis yang menyiapkan tubuh untuk kehidupan masa datang yang lebih baik. Begitu juga dalam situs Anti Aging disebutkan tentang manfaat puasa dalam mencegah dan menyembuhkan infeksi. Puasa telah menunjukkan adanya peningkatan respon kekebalan (immune) untuk menghindarkan dan menghapuskan infeksi. Para peneliti telah menyatakan bahwa setelah berpuasa selama 14 hari, maka kandungan immunoglobin dalam tubuh meningkat bersamaan dengan meningkatnya *monocytes dan **lymphocyte.
*Monocyte (monosit) adalah sejenis leucosit (sel darah putih) dengan satu inti, bersifat fagositik = mampu menelan dan menghancurkan bakteri dan benda asing,
**Lymphocyte (limfosit) adalah sejenis leucosit dengan inti tunggal tak bersegmen, berperan dalam proses kekebalan tubuh.
Berkaitan dengan penyakit infeksi pula, DR. Otto Buchinger seorang dokter di Jerman, menyebutkan jika ada orang yang tengah menderita radang selaput paru, telinga dan bisul, kesembuhannya akan lebih cepat bila orang tersebut berpuasa. Puasa juga mempengaruhi hati, setelah glikogen habis, maka hati meruntuhkan lemak sehingga kinerja hati menjadi lebih baik. Puasa yang teratur dan terjadwal, sebagaimana puasa 1 bulan di bulan Ramadhan yang terjadwal setiap tahun, mampu membuat pelakunya mempunyai ketahanan atau imunitas yang optimal. Sehingga aman dari ancaman penyakit dan epidemik dibandingkan orang yang tidak berpuasa. Hal ini sesuai dengan pendapat puasa Dokter Tilden yang mengatakan :
“Semua penyakit yang akut bisa dicegah jika diantisipasi dengan puasa dengan jangka waktu yang cukup. Hal tersebut mampu menurunkan akumulasi toksin di bawah batas toleransi. Suatu antisipasi puasa mampu membentuk suatu kekebalan yang dapat bertahan dari segala penyakit. Jika suatu kasus epidemi (wabah penyakit) terlambat diketahui, maka hal ini akan memperburuk kondisi. Jika hal ini terjadi dalam lingkup kota, maka perlu dianjurkan kepada penduduk kota tersebut untuk segera berpuasa selama beberapa hari, serta melaksanakan petunjuk puasa dengan sungguh-sungguh. Hal tersebut menyebabkan wabah dapat dikurangi penyebarannya”.
Bila terjadi merebaknya epidemi paska hantaman meteor ke Bumi pada bulan Ramadhan, maka orang-orang yang saat itu sedang berpuasa Ramadhan akan selamat dari ancaman wabah tersebut. Berikut ini manfaat puasa :
Dari berbagai pendapat di atas terdapat benang merah tentang puasa dan hubungannya dengan kekebalan tubuh dan kesehatan. Hal inilah yang akan menjadi perisai bagi setiap orang yang mengamalkannya. Bahwa orang-orang yang berpuasa Ramadhan dan disertai dengan shalat malam (tarawih, tahajud dan sebagainya) maka seluruh sel organ di dalam tubuhnya yang telah aus akan berganti dengan sel-sel baru, sehingga laksana seorang bayi yang baru lahir. Sel-sel yang baru tersebut menyebabkan kinerja organ tubuh bertambah baik dan mampu bertahan dari segala serangan penyakit (kebal). Sebuah hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad mengisyaratkan tentang bergantinya organ orang dewasa laksana organ bayi yang baru dilahirkan.
Rasulullah saw bersabda :
Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan puasa Ramadhan dan aku mensunnahkan shalat di malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharapkan pahala (keridhaan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya”. Hadits riwayat Imam Ahmad.
Dalam kaitannya dengan asap global Dukhaan yang diprediksi akan muncul di pertengahan bulan Ramadhan, maka setiap orang yang saat itu menjalankan puasa dengan sempurna, akan mendapat perlindungan dari dahsyatnya petaka asap Dukhaan. Bagi orang Islam yang sedang puasa Ramadhan ketika meteor jatuh, maka dia hanya akan mengalami gejala seperti flu. Sedangkan bagi setiap orang yang saat itu tidak berpuasa pada bulan Ramadhan bukan karena sedang haid, maka asap Dukhaan itu akan menyulitkan dirinya. Dia akan mengalami gangguan pada pernapasannya, radang sinus (sinusitis) yang menyebabkan wajah membengkak serta mata terganggu, radang pada telinga (yaitu orang kafir dan orang Islam KTP). Hal ini terjadi karena pada saat itu dia tidak mempunyai sistem kekebalan yang optimal. Puasa Ramadhan adalah obat terbaik dari segala obat. Bagi wanita yang sedang haid, dia akan selamat, jika seorang wanita haid sejak hari pertama Ramadhan, dia tidak puasa maksimal 7 hari, maka dia sudah dapat puasa 8 hari ketika meteor jatuh, hal itu sudah cukup bagi tubuhnya untuk membentuk imunitas yang optimal, sehingga selamatlah dia dari petaka asap global Dukhaan yang terjadi di masa yang akan datang. 


Sumber : Armageddon 2 oleh Ir. Wisnu Sasongko M.T. 

PUASA ITU PERISAI

Dalam bab ini, kita ingin mengkaji betapa ibadah puasa Ramadhan mempunyai fadhilah (keutamaan yang besar) bagi yang mengamalkannya. Dengan amalan inilah, maka Allah berkehendak menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari malapetaka Armageddon (peristiwa jatuhnya meteor ke Bumi). Ibadah puasa Ramadhan mampu menyelamatkan hamba Allah dari petaka asap Dukhaan Armageddon. Berkaitan dengan hal ini, kita perlu merujuk aspek kesehatan bagi orang yang berpuasa.
Rasulullah saw bersabda : “Puasa itu perisai”. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.
Bahkan, dalam hadits Rasulullah saw yang lain disebutkan :
“…puasa merupakan benteng”. Hadits riwayat Bukhari.
Berkaitan dengan ini, ada baiknya kita merujuk paparan Ahmad Syarifuddin, tentang puasa dalam bukunya yang berjudul Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis , berikut pemaparannya :
“Bentuk perisai yang tumbuh dari aktivitas puasa menurut para pakar kesehatan ialah bertambahnya sel darah putih (leucosit/leukosit) dan diblokirnya suplai makanan untuk bakteri, virus dan sel kanker yang bersarang pada tubuh. Hal ini menjadikan orang-orang yang berpuasa memiliki daya tahan dan kekebalan tubuh yang meningkat. Karena itu, mereka kelihatan lebih sehat dan tidak mudah terserang penyakit seiring dengan ibadah puasa yang dijalaninya dengan baik”.

Sebuah penelitian di Universitas Osaka Jepang yang dilaksanakan pada tahun 1930 menyebutkan bahwa ada keterkaitan antara puasa dengan meningkatnya kekebalan tubuh. Lebih jauh penelitian itu menyebutkan :
“Setelah berpuasa memasuki hari ke-7, jumlah sel darah putih dalam darah orang-orang yang berpuasa meningkat. Pada minggu pertama (hari ke-1 sampai ke-6) berpuasa, tidak ditemukan pertumbuhan sel darah putih. Namun pada hari ke-7 sampai ke-10, penambahan jumlah sel darah putihnya pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih ini secara otomatis meningkatkan kekebalan tubuh. Sel-sel darah putih ini berfungsi melawan peradangan yang ada dalam tubuh, sehingga banyak penyakit radang yang dapat disembuhkan dengan berpuasa, seperti radang tenggorokan, radang hidung, radang amandel, radang lambung yang kronis, radang usus kronis dan radang persendian”.

Rekomendasi hasil penelitian tersebut dapat dipahami bahwa semua orang yang melaksanakan puasa berturut-turut sampai lebih dari 7 hari, maka dia akan memiliki cadangan sel darah putih yang banyak dalam jumlah yang aman bagi tubuh (karena jika tubuh kelebihan sel darah putih, maka akan menyebabkan menderita penyakit kanker darah/leukemia). Bertambahnya sel darah putih akibat aktivitas puasa tersebut menjadi petunjuk bahwa sistem imunitas atau kekebalannya meningkat. Kekebalan inilah yang merupakan perisai bagi tubuh dari serangan penyakit, bahkan mampu menyembuhkan radang (inflammation).

Sel darah putih merupakan komponen utama dalam sistem kekebalan tubuh kita. Ada beberapa jenis sel darah putih, beberapa diantaranya adalah neutrofil, makrofag dan limfosit. Ketiga jenis sel darah putih tersebut memiliki mekanisme yang berlainan untuk melindungi tubuh. Neutrofil dan makrofag melindungi tubuh terhadap organisme penyusup seperti kuman-kuman virus, bakteri atau partikel asing lain dengan cara menelan subtansi tersebut. Sel-sel ini juga dapat menelan jaringan rusak atau mati yang ada di dalam tubuh. Proses menelan organisme itu dikategorikan sebagai fagositosis, dengan demikian makrofag dan neotrofil dikategorikan sebagai fagosit. Selain sebagai fagositosis, bakteri yang sudah ditelan oleh makrofag atau neutrofil kemudian akan dicerna. Tampaknya, fagosit harus selektif dalam memilih materi yang ditelan, karena jika tidak, beberapa sel atau struktur normal dalam tubuh akan ikut ditelan, seperti bakteri baik.

Sel dan partikel asing (antigen) tidak dikenali sebagai “diri” sehingga memperbesar kemungkinannya untuk ditelan. Begitu masuk ke dalam tubuh, bakteri akan ditempeli suatu antibodi, sehingga menjadikannya sangat rentan terhadap fagositosis. Sebuah neutrofil biasanya dapat menelan 5 sampai 20 bakteri sebelum menjadi inaktif dan mati. Makrofag jauh lebih kuat daripada neutrofil dan mampu menelan sampai 100 bakteri. Makrofag juga mampu menelan partikel yang jauh lebih besar, seperti parasit malaria dan jaringan tubuh yang rusak, sedangkan neutrofil tidak mampu menelan partikel yang ukurannya melebihi bakteri. Dengan puasa lebih dari 6 hari, maka jumlah neutrofil dan makrofag bertambah banyak, sehingga mampu menelan benda-benda asing yang masuk ke dalam darah yang membuat tubuh kita memiliki kekebalan terhadap serangan bibit penyakit dan partikel asing yang semakin baik.

Sumber: Armageddon 2 oleh Wisnu Sasongko