27 September, 2015

RAHASIA DIPILIHNYA JAZIRAH ARABIA SEBAGAI TEMPAT KELAHIRAN DAN PERTUMBUHAN ISLAM

Sebelum membahas sirah Rasulullah saw dan berbicara tentang Jazirah Arabia, tempat yang dipilih Allah sebagai tempat kelahiran dan pertumbuhannya, terlebih dahulu kita harus menjelaskan hikmah illahiyah yang menentukan bi’tsah Rasulullah saw di bagian dunia ini, dan pertumbuhan dakwah Islam ditangan Bangsa Arab sebelum bangsa lainnya. Untuk menjelaskan hal ini, pertama, kita harus mengetahui karakteristik bangsa Arab dan tabiat mereka sebelum Islam, juga menggambarkan letak geografis tempat mereka hidup dan posisi Negara Arab diantara negara-negara disekitarnya. Sebaliknya, kita juga harus menggambarkan kondisi peradaban dan kebudayaan umat-umat lain pada waktu itu, seperti Persia, Romawi, Yunani, dan India. Kita mulai, menyajikan secara singkat kondisi umat-umat yang hidup di sekitar Jazirah Arab sebelum Islam. Pada waktu itu, dunia dikuasai oleh dua negara adidaya Persia dan Romawi, kemudian menyusul India dan Yunani.

Persia adalah ladang subur berbagai khayalan (khurafat) keagamaan dan filosofi yang saling bertentangan. Di antaranya adalah Zhoroaster yang dianut oleh kaum penguasa. Di antara falsafahnya ialah, mengutamakan perkawinan seseorang dengan ibunya, anak perempuannya atau dengan saudara perempuannya. Sehingga Yazdasir II raja Persia yang memerintah pada pertengahan abad ke-5 Masehi mengawini anak perempuannya. Belum lagi penyimpangan-penyimpangan akhlak yang beraneka ragam sehingga tidak bisa disebutkan disini. Di Persia, juga terdapat ajaran Mazdakia yang menurut Imam Syahrustani, didasarkan pada filsafat lain, yaitu menghalalkan wanita, membolehkan harta dan menjadikan manusia sebagai serikat (bisa dipakai bersama-sama) seperti perserikatan mereka dalam air, api, dan rumput. Ajaran ini memperoleh sambutan luas dari para kaum pengumbar hawa nafsu.

Sedangkan Romawi telah dikuasai sepenuhnya oleh semangat kolonialisme. Negara ini terlibat pertentangan agama, antara Romawi disatu pihak yang menganut ajarannya Paulus (aliran Nasrani Trinitas) yang menuhankan Nabi Isa as dan Nasrani (aliran Nasrani Unitarian) di lain pihak yang meng-Esakan Allah dan yang menganggap Nabi Isa as hanyalah utusan Allah. Negeri ini mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonialnya dalam melakukan petualangan naïf demi mengembangkan agama Kristen, dan mempermainkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya yang serakah. Negara Romawi ini pada waktu yang sama, tak kalah bejatnya dari Persia. Kehidupan nista, kebejatan moral dan pemerasan ekonomi telah menyebar ke seluruh penjuru negeri, akibat melimpahnya penghasilan dan menumpuknya hasil pemungutan pajak. Akan halnya Yunani, maka negeri ini sedang tenggelam dalam lautan khurafat (berkembangnya ajaran filsafat Plato, yang sekarang diadopsi oleh ajaran agama Kristen dan Katolik) dan mitos-mitos verbal yang tidak pernah memberikan manfaat. Contohnya tentang cerita fiksi penyaliban Dewa Baal yang berjudul “Passion Play of Bel” yang disadur oleh Paulus pendiri agama Nasrani Trinitas Kristen Protestan dan Kristen Katolik dan ditambahi karangannya sendiri lalu diramu menjadi kisah fiksi baru yang menarik untuk menceritakan kisah penyalibannya Yudas Iskariot yang dikira oleh orang-orang kafir itu sebagai Nabi Isa as.

Demikian pula India, sebagaimana dikatakan oleh ustadz Abul Hasan an-Nadawi, telah disepakati oleh para penulis sejarahnya, bahwa Negeri India ini sedang berada pada puncak kebejatan dari segi agama, akhlak, ataupun sosial. Masa tersebut bermula sejak awal abad ke-6 Masehi. India bersama negara tetangganya berandil dalam kemerosotan moral dan sosial. Di samping itu harus diketahui, bahwa ada satu hal yang menjadi sebab utama terjadinya kemerosotan, keguncangan dan kenestapaan pada umat-umat tersebut, yaitu peradaban dan kebudayaan yang didasarkan pada nilai-nilai materialistik semata, tanpa ada nilai-nilai moral yang mengarahkan peradaban dan kebudayaan tersebut ke jalan yang benar. Akan halnya peradaban berikut segala implikasi dan penampilannya, tidak lain hanyalah merupakan sarana dan instrument. Jika pemegang sarana dan instrumen tidak memiliki pemikiran dan nilai-nilai moral yang benar, maka peradaban yang ada ditangan mereka akan berubah menjadi alat kesengsaraan dan kehancuran. Tetapi, jika pemegang wahyu Ilahi, maka seluruh nilai peradaban dan kebudayaan akan menjadi sarana yang baik bagi kebudayaan yang bahagia penuh dengan rahmat disegala bidang.

Sementara itu, di Jazirah Arabia, bangsa Arab hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan dan peradapan Persia, yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat, keserbabolehan dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama. Mereka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi, yang bisa mendorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangganya. Mereka tidak memiliki kemegahan filosofi dan dialektika Yunani, yang menjerat mereka menjadi mangsa mitos dan khurafat. Karakteristik bangsa Arab seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain, masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan kecenderungan yang sehat dan kuat, serta cenderung kepada kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong, dermawan, rasa harga diri,menghormati tamu, menjamu tamunya dan kesucian. Hanya saja, bangsa Arab tidak memiliki ma’rifat (pengetahuan) yang akan mengungkapkan jalan ke arah itu. Karena mereka hidup dalam kegelapan, kebodohan, dan alam fitrah yang pertama. Akibatnya mereka sesat jalannya, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan tersebut. Kemudian mereka membunuh anak perempuannya sendiri dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnakan harta kekayaan dengan alasan kedermawanan dan membangkitkan peperangan diantara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan. Kondisi inilah yang diungkapkan oleh Allah Swt dengan dhalal ketika mensifati dengan firman-Nya Qur’an surat Al-Baqarah ayat 198 :
198.(“Dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang orang yang sesat”).

Suatu sifat, apabila di-nisbatkan kepada kondisi umat-umat lain pada waktu itu, lebih banyak menunjukkan kepada i’tidzar (gambaran/excuse) daripada kecaman, celaan dan hinaan kepada bangsa Arab. Ini dikarenakan umat-umat lain yaitu bangsa-bangsa selain bangsa Arab tersebut melakukan penyimpangan-penyimpangan terbesar dengan “bimbingan” sorot peradaban, pengetahuan dan kebudayaan. Mereka (bangsa-bangsa selain Arab) terjerembab ke dalam kubang kerusakkan dengan penuh kesadaran, perencanaan dan pemikiran. Jazirah Arab secara geografis terletak diantara umat-umat yang sedang dilanda pergolakkan. Bila diperhatikan sekarang, seperti dikatakan oleh ustadz Muhammad Mubarak, maka akan diketahui betapa Jazirah Arab terletak diantara dua peradaban.
Ke-1    : peradaban barat materialistis yang telah menyajikan suatu bentuk kemanusiaan yang tidak utuh.
Ke-2    : peradaban spiritual penuh dengan khayalan di ujung timur, seperti umat-umat yang hidup di India, Cina dan sekitarnya.
Jika telah kita ketahui kondisi bangsa Arab di Jazirah Arab sebelum Islam dan kondisi umat-umat lain di sekitarnya, maka dengan mudah kita dapat menjelaskan hikmah Ilahiyah yang telah berkenan menentukan Jazirah Arabia sebagai tempat kelahiran Rasulullah saw dan kerasulannya, dan mengapa bangsa Arab ditunjuk sebagai generasi perintis yang membawa cahaya dakwah kepada dunia menuju agama Islam yang memerintahkan seluruh manusia di dunia ini agar menyembah Allah swt semata.

Jadi bukan seperti dikatakan oleh sebagian orang yang karena memiliki agama bathil dan peradaban palsu, sulit diluruskan dan diharapkan oleh sebab kebanggaan mereka terhadap kerusakan yang mereka lakukan, dan anggapan mereka sebagai sesuatu yang benar. Sedangkan orang-orang yang masih hidup dimasa pencarian (bangsa Arab), mereka tidak akan mengingkari kebodohannya dan tidak akan membanggakan peradaban dan kebudayaan yang tidak dimilikinya. Dengan demikian, bangsa Arab lebih mudah disembuhkan dan diarahkan, karena pikiran mereka masih murni. Kami tegaskan, bukan hanya ini semata yang menjadi sebab utamanya, karena analisis seperti ini akan berlaku bagi orang yang kemampuannya terbatas dan orang yang memiliki potensi. Analisis seperti tersebut di atas membedakan antara yang mudah dan yang sulit, kemudian diutamakan yang pertama dan dihindari yang kedua, karena ingin menuju jalan kemudahan dan tidak menyukai kesulitan.

Jika Allah menghendaki terbitnya dakwah Islam ini dari suatu tempat, yaitu Persia, Romawi atau India, niscaya untuk keberhasilan dakwah ini, Allah swt mempersiapkan berbagai prasarana di negeri tersebut, sebagaimana Allah mempersiapkannya di Jazirah Arabia. Dan Allah tidak akan pernah kesulitan untuk melakukannya, karena Dia pencipta segala sesuatu, pencipta segala sarana termasuk sebab. Tetapi, hikmah pilihan ini (dipilihnya Jazirah Arab sebagai tempat dakwah Islam) sama dengan hikmah dijadikannya Nabi saw seorang ummi, tidak bisa menulis dengan tangan kanannya menurut istilah Allah dan tidak pula bisa membaca dengan matanya, tetapi Nabi saw membaca dengan otaknya, agar manusia tidak ragu terhadap kenabiannya dan agar mereka tidak memiliki banyak sebab keraguan terhadap kebenaran dakwahnya. Adalah termasuk kesempurnaan hikmah Ilahiyah, jika bi’ah (lingkungan) tempat diutusnya Rasulullah saw dijadikan juga sebagai bi’ah ummiyah (lingkungan ummi), bila dibandingkan dengan umat-umat yang lain yang ada di sekitarnya, yakni tidak terjangkau sama sekali oleh peradaban-peradaban tetangganya. Demikian pula sistem pemikirannya, tidak tersentuh sama sekali oleh filsafat-filsafat membingungkan yang ada di sekitar Jazirah Arabia. Mekah adalah wilayah steril dari filsafat-filsafat, khurafat-khurafat, kitab-kitab dari para nabi-nabi terdahulu, sekte-sekte, sejarah umat-umat terdahulu, dan juga steril dari semua peradaban, kebudayaan, sejarah bangsa-bangsa di sekitarnya yang memiliki peradaban dan budaya yang besar.

Seperti halnya akan timbul keraguan di dada manusia apabila mereka melihat Nabi saw seorang terpelajar dan pandai bergaul dengan kitab-kitab, sejarah umat-umat terdahulu, dan semua peradaban negara-negara di sekitarnya. Dan dikhawatirkan pula akan timbul keraguan di dada manusia manakala melihat munculnya dakwah Islamiyah diantara 2 umat yang memiliki peradaban, budaya dan sejarah, seperti negara Persia (umat bangsa timur), Yunani atau Romawi (umat bangsa barat). Sebab, orang yang ragu dan menolak Islam, mungkin akan menuduh bahwa dakwah Islam sebagai mata rantai pengalaman budaya dan pemikiran-pemikiran filosofis yang akhirnya melahirkan peradaban yang unik dan perundang-undangan yang sempurna.
Al-Qur’an telah menjelaskan hikmah ini dengan ungkapan yang jelas.
Qur’an surat Al-Jumuah ayat 2 :
2.      (“Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang ummi) buta huruf (dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka  kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”).

Allah telah menghendaki rasul-Nya seorang yang ummi dan kaum dimana rasul ini diutus juga merupakan kaum yang secara mayoritas ummi (buta huruf), agar mukjizat kenabian dan syariat Islamiyah menjadi jelas di dalam pikiran bangsa Arab, tidak ada pembauran diantara dakwah Islam dengan dakwah-dakwah manusia yang bermacam-macam agama dan aliran tersebut. Ini sebagaimana nampak jelas merupakan rahmat yang besar bagi hamba-Nya. Selain itu ada pula hikmah-hikmah yang tidak tersembunyi bagi orang yang mencarinya, antara lain :
1.      Sebagaimana telah diketahui, Allah menjadikan Baitul-Haram sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman, Al-Baqarah ayat 125 dan rumah yang pertama kali dibangun bagi manusia (Ka’bah, diciptakan Allah sebelum menciptakan Langit dan Bumi, Ka’bah merupakan pusat energi positif yang berasal dari Allah dan pusat gravitasi Bumi) untuk kiblat beribadah dan menegakkan syiar-syiar agama. Allah, juga telah menjadikan dakwah bapak para nabi, yaitu Nabi Ibrahim as dilembah tersebut (Mekkah/Bakkah). Maka semua itu merupakan kelaziman dan kesempurnaan jika lembah yang diberkahi ini juga menjadi tempat lahirnya dakwah Islam yang notabene adalah millah Nabi Ibrahim as dan menjadi tempat diutus dan lahirnya pamungkas para nabi, yaitu Rasulullah saw sedangkan dia termsuk keturunan Nabi Ibrahim as.
2.      Secara geografis, Jazirah Arabia sangat kondusif untuk mengemban tugas dakwah seperti ini. Karena jazirah ini terletak sebagai telah kami sebutkan, dibagian tengah umat-umat yang ada di sekitarnya. Posisi geografis ini akan menjadikan penyebaran dakwah Islam ke semua bangsa dan negara di sekitarnya berjalan dengan gampang dan lancar. Bila kita perhatikan kembali sejarah dakwah Islam pada permulaan Islam dan pada masa pemerintahan para khalifah yang terpimpin, niscaya kita akan mengakui kebenaran hal ini.
3.      Sudah menjadi kebijaksanaan Allah untuk menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa dakwah Islam dan media langsung untuk menerjemahkan Kalam Allah dan penyampaiannya kepada kita. Jika kita kaji karakteristik semua bahasa, lalu kita bandingkan antara yang satu dengan lainnya, niscaya akan kita temukan bahwa bahasa Arab banyak memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya.
Keistimewaan bahasa Arab itu antara lain :
1.      Sejak zaman dahulu kala hingga sekarang bahasa Arab itu merupakan bahasa yang hidup.
2.      Bahasa Arab adalah bahasa yang lengkap dan luas untuk menjelaskan tentang ketuhanan dan keakhiratan.
3.      Bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab mempunyai tasrif (konjugasi) yang amat luas sehingga dapat mencapai 3000 bentuk peubahan, yang demikian tidak terdapat dalam bahasa lain. Maka sudah sepatutnya jika bahasa Arab dijadikan bahasa pertama bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia.


Sumber : Sirah Nabawiyah oleh Dr, Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dan berbagai sumber.

06 September, 2015

MANFAAT KHUSYUK BERDOA BAGI KESEHATAN

Sikap khusyuk berarti menghadap kepada Allah disertai perasaan rendah diri, cinta, takut, dan harap kepada-Nya, dan juga disertai pengakuan terhadap keagungan dan kemahakuasaan-Nya serta kehinaan dan kelemahan dirinya sebagai hamba yang hina, penuh dosa, dan penuh keterbatasan. Karena itulah Allah memuji para nabi-Nya yang selalu menghadapkan dirinya kepada Allah dengan penuh cinta, takut dan harap.
Qur’an surat Al-Baqarah ayat 186 :
Segolongan orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah Tuhan kami dekat, maka kami akan berbisik kepada-Nya atau apakah Dia jauh, maka kami akan berseru kepada-Nya”, maka turunlah ayat berikut ini :
186.          (Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu) Muhammad (tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi pula) segala perintah-Ku (dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka berada dalam kebenaran) atau dalam petunjuk Allah.
Qur’an surat Al-A’raaf ayat 55-56 dan 180 :
55.  (Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas).
56.  (Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka Bumi, sesudah) Allah (memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut) terhadap azab-Nya (dan harapan) akan dikabulkan (Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik).
180.          (Dan Allah mempunyai Al-Asmaaul Husna) 99 nama-nama yang baik milik Allah Swt, Al-Israa’ ayat 110 dan Thaahaa ayat 8 (maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya itu….).
Qur’an surat Thaahaa ayat 7 :
7.      (Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu) ketika berdoa dan berdzikir (maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi) karena Allah mendengar semua doa itu walaupun diucapkan dengan suara rendah atau dalam hati.
Qur’an surat Al-Anbiyaa’ ayat 90 :
90.  (“Sesungguhnya mereka adalah orang yang selalu bersegera mengerjakan perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang yang khusyuk kepada Kami”).
Qur’an surat An-Naml ayat 62 :
62.  (Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian sebagai khalifah) yang berkuasa (di Bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain? Sedikit sekali kalian mengingat-Nya).
Qur’an surat Al-Mu’min ayat 60 :
60.  (Dan Tuhan kalian berfirman : “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian) akan dikabulkan doa kalian dan akan diberi pahala (Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku) tidak mau berdoa kepada Allah (akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”).
Qur’an surat Asy-Syuura ayat 26 :
26.  (Dan Dia memperkenankan) doa (orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah) pahala (kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras).

Perasaan takut yang disertai harap seperti itu misalnya terungkap dalam doa Rasulullah saw yang disebut sebagai istighfar yang paling agung (sayyid al-istighfar) :
“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada tuhan kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku berada di atas perjanjian dengan-Mu sesuai dengan kemampuanku, aku berserah diri kepada-Mu dengan seluruh nikmat yang Engkau anugerahkan kepadaku. Aku berserah diri kepada-Mu dengan dosa-dosaku. Maka, ampunilah aku, karena tidak ada lagi yang Maha Mengampuni dosa kecuali Engkau”.
Hadits riwayat Bukhari.

Khusyuk dalam shalat (shalat itu adalah doa) atau dalam doa di luar shalat berpengaruh besar terhadap kesehatan otak. Para ahli menemukan bahwa otak manusia menerima aliran gelombang elektromagnetis setiap saat, tetapi kadar gelombang elektromagnetis itu berbeda-beda sesuai dengan tingkat aktivitas otak dan aktivitas tubuh. Dalam keadaan sadar, aktif, semangat, dan konsentratif, muncul gelombang yang disebut gelombang beta, berupa getaran yang kekuatannya bervariasi antara 15 sampai 40 getaran per detik (dengan skala Hertz). Dalam keadaan istirahat dan konsentrasi biasa, muncul gelombang alfa yang getarannya berfariasi antara 9 hingga 14 getaran per detik. Dalam keadaan tidur, mimpi, konsentrasi tinggi, muncul gelombang teta yang berkisar antara 5 sampai 8 Hertz. Terakhir, dalam keadaan tidur lelap tanpa mimpi, otak hanya diliputi gelombang delta yang getarannya lebih rendah dari 4 getaran Hertz.

Dapat disimpulkan, manusia ketika berada dalam keadaan khusyuk beribadah, gelombang yang bekerja lebih rendah getarannya. Keadaan itu menguntungkan dan menguatkan fungsi otak, serta membantu perbaikan sel-sel otak yang rusak (meregenerasi sel-sel otak, insya Allah bisa mencerdaskan otak) dan lemah akibat penyakit, gangguan, tekanan kejiwaan. Karena itu, para peneliti meyakini bahwa aktivitas tubuh maupun otak dapat melelahkan otak sementara berdoa di dalam dan di luar shalat dan muhasabah dapat mengistirahatkan dan menenangkannya. Para peneliti lain dari Universitas Harvard menemukan bahwa volume otak orang yang terbiasa berpikir dan berdoa lebih besar dibanding orang yang jarang mempergunakan otaknya untuk berpikir, merenung, berdoa atau shalat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa khusyuk berdoa di dalam dan di luar shalat dapat menambah kualitas dan volume otak sehingga seseorang bisa lebih kreatif, inovatif, sehat, dan bahagia. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bagian korteks serebral mengalami penambahan kapiler jika kita secara rutin melakukan ibadah mencapai kekhusyukan. Fenomena ini menjadi jelas jika kita mengetahui bahwa sel-sel syaraf pada bagian korteks serebral berkurang dan aktivitasnya menurun seiring dengan perkembangan usia. Jadi bisa dikatakan, kekhusyukan dalam beribadah shalat. dzikir, berdoa, tadarus dan tilawah akan memperlambat penuaan, menjauhkan kita dari kepikunan dan mencerdaskan otak.

Dalam sebuah penelitian mempergunakan metode fMRI ditemukan bahwa orang yang sering bermeditasi (beribadah yang mencapai tingkat kekhusyukan) memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mengambil keputusan ketika menghadapi berbagai persoalan, termasuk masalah emosi. Mereka juga lebih mampu mengendalikan dorongan perasaan dan hasrat sehingga ia lebih bisa merasa bahagia dibanding orang lain. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa meditasi dan perenungan membantu kita mengatur emosi sehingga kita tidak mengobarkannya secara berlebih-lebihan, karena meditasi akan memperkuat sensor otak sehingga lebih aktif dan peka. Dalam Islam, kondisi meditatif seperti yang dialami oleh orang orang Barat melalui meditasi atau yoga, dapat diraih melalui doa dan shalat. Tingkat ketenangan dan kedamaian yang dirasakan oleh seorang mukmin yang mendirikan shalat atau berdoa jauh lebih besar dibanding ketenangan akibat meditasi. Dan tentu saja, jika kita bisa terus mencapai kekhusyukan, jiwa kita akan terhindar dari berbagai gangguan jiwa, seperti stress, depresi, kegelisahan, kesedihan yang berlebihan (melankolis), juga gangguan fisikal seperti radang pencernaan, radang usus besar, gangguan pankreas, dan ragam penyakit lainnya. Kekhusyukan dan ketenangan jiwa juga berpengaruh besar terhadap sistem peredaran darah, mampu mencegah penyumbatan arteri, mencegah serangan jantung, nyeri sendi, nyeri otot, menekan pertumbuhan agen kanker, dan lain-lain. Bahkan, dalam penelitian yang dilakukan para ahli otak ditemukan bahwa kekhusyukan beribadah dan ketenangan jiwa membantu penyembuhan schizophrenia (skhizofrenia).

Schizophrenia merupakan penyakit mental berat yang ditandai beberapa macam gejala termasuk kehilangan kontak dengan realitas, sering berperilaku aneh, ucapan dan pikiran ngaco, ketidakmampuan mengekpresikan emosi, dan keterasingan sosial. Biasanya, orang yang menderita penyakit ini hanya menunjukkan salah satu gejala tersebut. Kata schizophrenia berasal dari bahasa Yunani yang berarti “pikiran terbelah”. Bagaimanapun, berbeda dengan keyakinan umum, penderita schizophrenia tidak sama dengan penderita kepribadian ganda atau split personality. Schizophrenia lebih menyerupai kegilaan atau ketidaksadaran. Penderita schizophrenia sering kali tidak mampu membedakan antara pengalaman yang nyata dan tidak nyata, antara pikiran yang logis dan tidak logis, atau perilaku yang pantas atau tidak pantas. Schizophrenia marusak kepribadian seseorang baik di sekolah, di tempat kerja, maupun lingkungan sosial karena ia tidak bisa menikmati kebersamaan dengan orang lain. Penderita schizophrenia sering kali harus dirawat di rumah sakit karena sering melalukan tindakan yang membahayakan dirinya dan orang lain. Menurut penelitian, 100% dari penderita schizophrenia melakukan bunuh diri, dan sebagian lainnya pernah mencoba bunuh diri. Ketika seseorang terkena penyakit ini, biasanya ia tidak dapat menikmati sisa hidupnya dengan baik. Penelitian terakhir yang dilakukan para ahli otak menunjukkan bahwa penderita schizophrenia cenderung lebih cepat sembuh jika pikiran dan jiwa mereka senantiasa berada dalam ketenangan. Mereka menyimpulkan bahwa ketenangan jiwa dan pikiran lebih efektif menyembuhkan penyakit itu dibanding obat-obatan kimiawi, karena ketenangan jiwa seperti yang dialami oleh orang yang memerlukan ibadah khusyuk untuk mengaktifkan kerja otak depan, yang cenderung tidak banyak berfungsi pada penderita schizophrenia.

Rasulullah saw bersabda :
Ada tiga orang yang tidak akan ditolak doanya, yaitu : Imam yang adil dan orang yang berpuasa hingga berbuka dan doa orang yang didzalimi. Allah akan mengangkatnya di bawah naungan awan pada hari Kiamat, pintu-pintu Langit akan dibukakan untuknya seraya berfirman : “Demi keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu meski setelah beberapa saat”. Hadits riwayat Ibnu Majah.
Para ulama menyimpulkan, bahwa ketika seseorang sedang puasa itu adalah waktu dikabulkannya doa, maka sebaiknya seseorang berdoa di akhir puasanya, yaitu ketika berbuka atau ketika ia sedang berpuasa. Untuk itu, marilah kita gunakan waktu-waktu yang terbaik dan sebaik mungkin untuk bermunajat, memohon doa kepada-Nya dengan penuh harap dan cemas. Waktu terbaik dalam sehari semalam ada pada 1/3 malam yang akhir, selesai shalat fardhu, dan antara adzan dan iqamah. Hari terbaik dalam sepekan adalah Jumat saatnya berdoa di hari raya Jumat di masjid. Dan bulan yang terbaik untuk berdoa adalah bulan Ramadhan ini. Semoga kita dapat memaksimalkannya sebaik mungkin dan semoga Allah mengabulkan permohonan kita, Aamiin3x  Ya Rabbal‘alamin. 
Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 14 :
14.  (Hanya bagi Dia) hak mengabulkan (doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Dia tidak dapat memperkenankan sesuatupun) tidak bisa mengabulkan doa (bagi mereka, melainkan) orang-orang kafir yang berdoa kepada selain Allah (seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai kepadanya) ke mulutnya, karena telapak tangan yang terbuka tidak dapat menampung air (Dan doa orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka).

Sumber : Al-Qur’an, Mukjizat Kesehatan Ibadah oleh Dr. Jamal Elzaky dan berbagai sumber.