27 September, 2015

RAHASIA DIPILIHNYA JAZIRAH ARABIA SEBAGAI TEMPAT KELAHIRAN DAN PERTUMBUHAN ISLAM

Sebelum membahas sirah Rasulullah saw dan berbicara tentang Jazirah Arabia, tempat yang dipilih Allah sebagai tempat kelahiran dan pertumbuhannya, terlebih dahulu kita harus menjelaskan hikmah illahiyah yang menentukan bi’tsah Rasulullah saw di bagian dunia ini, dan pertumbuhan dakwah Islam ditangan Bangsa Arab sebelum bangsa lainnya. Untuk menjelaskan hal ini, pertama, kita harus mengetahui karakteristik bangsa Arab dan tabiat mereka sebelum Islam, juga menggambarkan letak geografis tempat mereka hidup dan posisi Negara Arab diantara negara-negara disekitarnya. Sebaliknya, kita juga harus menggambarkan kondisi peradaban dan kebudayaan umat-umat lain pada waktu itu, seperti Persia, Romawi, Yunani, dan India. Kita mulai, menyajikan secara singkat kondisi umat-umat yang hidup di sekitar Jazirah Arab sebelum Islam. Pada waktu itu, dunia dikuasai oleh dua negara adidaya Persia dan Romawi, kemudian menyusul India dan Yunani.

Persia adalah ladang subur berbagai khayalan (khurafat) keagamaan dan filosofi yang saling bertentangan. Di antaranya adalah Zhoroaster yang dianut oleh kaum penguasa. Di antara falsafahnya ialah, mengutamakan perkawinan seseorang dengan ibunya, anak perempuannya atau dengan saudara perempuannya. Sehingga Yazdasir II raja Persia yang memerintah pada pertengahan abad ke-5 Masehi mengawini anak perempuannya. Belum lagi penyimpangan-penyimpangan akhlak yang beraneka ragam sehingga tidak bisa disebutkan disini. Di Persia, juga terdapat ajaran Mazdakia yang menurut Imam Syahrustani, didasarkan pada filsafat lain, yaitu menghalalkan wanita, membolehkan harta dan menjadikan manusia sebagai serikat (bisa dipakai bersama-sama) seperti perserikatan mereka dalam air, api, dan rumput. Ajaran ini memperoleh sambutan luas dari para kaum pengumbar hawa nafsu.

Sedangkan Romawi telah dikuasai sepenuhnya oleh semangat kolonialisme. Negara ini terlibat pertentangan agama, antara Romawi disatu pihak yang menganut ajarannya Paulus (aliran Nasrani Trinitas) yang menuhankan Nabi Isa as dan Nasrani (aliran Nasrani Unitarian) di lain pihak yang meng-Esakan Allah dan yang menganggap Nabi Isa as hanyalah utusan Allah. Negeri ini mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonialnya dalam melakukan petualangan naïf demi mengembangkan agama Kristen, dan mempermainkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya yang serakah. Negara Romawi ini pada waktu yang sama, tak kalah bejatnya dari Persia. Kehidupan nista, kebejatan moral dan pemerasan ekonomi telah menyebar ke seluruh penjuru negeri, akibat melimpahnya penghasilan dan menumpuknya hasil pemungutan pajak. Akan halnya Yunani, maka negeri ini sedang tenggelam dalam lautan khurafat (berkembangnya ajaran filsafat Plato, yang sekarang diadopsi oleh ajaran agama Kristen dan Katolik) dan mitos-mitos verbal yang tidak pernah memberikan manfaat. Contohnya tentang cerita fiksi penyaliban Dewa Baal yang berjudul “Passion Play of Bel” yang disadur oleh Paulus pendiri agama Nasrani Trinitas Kristen Protestan dan Kristen Katolik dan ditambahi karangannya sendiri lalu diramu menjadi kisah fiksi baru yang menarik untuk menceritakan kisah penyalibannya Yudas Iskariot yang dikira oleh orang-orang kafir itu sebagai Nabi Isa as.

Demikian pula India, sebagaimana dikatakan oleh ustadz Abul Hasan an-Nadawi, telah disepakati oleh para penulis sejarahnya, bahwa Negeri India ini sedang berada pada puncak kebejatan dari segi agama, akhlak, ataupun sosial. Masa tersebut bermula sejak awal abad ke-6 Masehi. India bersama negara tetangganya berandil dalam kemerosotan moral dan sosial. Di samping itu harus diketahui, bahwa ada satu hal yang menjadi sebab utama terjadinya kemerosotan, keguncangan dan kenestapaan pada umat-umat tersebut, yaitu peradaban dan kebudayaan yang didasarkan pada nilai-nilai materialistik semata, tanpa ada nilai-nilai moral yang mengarahkan peradaban dan kebudayaan tersebut ke jalan yang benar. Akan halnya peradaban berikut segala implikasi dan penampilannya, tidak lain hanyalah merupakan sarana dan instrument. Jika pemegang sarana dan instrumen tidak memiliki pemikiran dan nilai-nilai moral yang benar, maka peradaban yang ada ditangan mereka akan berubah menjadi alat kesengsaraan dan kehancuran. Tetapi, jika pemegang wahyu Ilahi, maka seluruh nilai peradaban dan kebudayaan akan menjadi sarana yang baik bagi kebudayaan yang bahagia penuh dengan rahmat disegala bidang.

Sementara itu, di Jazirah Arabia, bangsa Arab hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan dan peradapan Persia, yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat, keserbabolehan dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama. Mereka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi, yang bisa mendorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangganya. Mereka tidak memiliki kemegahan filosofi dan dialektika Yunani, yang menjerat mereka menjadi mangsa mitos dan khurafat. Karakteristik bangsa Arab seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain, masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan kecenderungan yang sehat dan kuat, serta cenderung kepada kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong, dermawan, rasa harga diri,menghormati tamu, menjamu tamunya dan kesucian. Hanya saja, bangsa Arab tidak memiliki ma’rifat (pengetahuan) yang akan mengungkapkan jalan ke arah itu. Karena mereka hidup dalam kegelapan, kebodohan, dan alam fitrah yang pertama. Akibatnya mereka sesat jalannya, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan tersebut. Kemudian mereka membunuh anak perempuannya sendiri dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnakan harta kekayaan dengan alasan kedermawanan dan membangkitkan peperangan diantara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan. Kondisi inilah yang diungkapkan oleh Allah Swt dengan dhalal ketika mensifati dengan firman-Nya Qur’an surat Al-Baqarah ayat 198 :
198.(“Dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang orang yang sesat”).

Suatu sifat, apabila di-nisbatkan kepada kondisi umat-umat lain pada waktu itu, lebih banyak menunjukkan kepada i’tidzar (gambaran/excuse) daripada kecaman, celaan dan hinaan kepada bangsa Arab. Ini dikarenakan umat-umat lain yaitu bangsa-bangsa selain bangsa Arab tersebut melakukan penyimpangan-penyimpangan terbesar dengan “bimbingan” sorot peradaban, pengetahuan dan kebudayaan. Mereka (bangsa-bangsa selain Arab) terjerembab ke dalam kubang kerusakkan dengan penuh kesadaran, perencanaan dan pemikiran. Jazirah Arab secara geografis terletak diantara umat-umat yang sedang dilanda pergolakkan. Bila diperhatikan sekarang, seperti dikatakan oleh ustadz Muhammad Mubarak, maka akan diketahui betapa Jazirah Arab terletak diantara dua peradaban.
Ke-1    : peradaban barat materialistis yang telah menyajikan suatu bentuk kemanusiaan yang tidak utuh.
Ke-2    : peradaban spiritual penuh dengan khayalan di ujung timur, seperti umat-umat yang hidup di India, Cina dan sekitarnya.
Jika telah kita ketahui kondisi bangsa Arab di Jazirah Arab sebelum Islam dan kondisi umat-umat lain di sekitarnya, maka dengan mudah kita dapat menjelaskan hikmah Ilahiyah yang telah berkenan menentukan Jazirah Arabia sebagai tempat kelahiran Rasulullah saw dan kerasulannya, dan mengapa bangsa Arab ditunjuk sebagai generasi perintis yang membawa cahaya dakwah kepada dunia menuju agama Islam yang memerintahkan seluruh manusia di dunia ini agar menyembah Allah swt semata.

Jadi bukan seperti dikatakan oleh sebagian orang yang karena memiliki agama bathil dan peradaban palsu, sulit diluruskan dan diharapkan oleh sebab kebanggaan mereka terhadap kerusakan yang mereka lakukan, dan anggapan mereka sebagai sesuatu yang benar. Sedangkan orang-orang yang masih hidup dimasa pencarian (bangsa Arab), mereka tidak akan mengingkari kebodohannya dan tidak akan membanggakan peradaban dan kebudayaan yang tidak dimilikinya. Dengan demikian, bangsa Arab lebih mudah disembuhkan dan diarahkan, karena pikiran mereka masih murni. Kami tegaskan, bukan hanya ini semata yang menjadi sebab utamanya, karena analisis seperti ini akan berlaku bagi orang yang kemampuannya terbatas dan orang yang memiliki potensi. Analisis seperti tersebut di atas membedakan antara yang mudah dan yang sulit, kemudian diutamakan yang pertama dan dihindari yang kedua, karena ingin menuju jalan kemudahan dan tidak menyukai kesulitan.

Jika Allah menghendaki terbitnya dakwah Islam ini dari suatu tempat, yaitu Persia, Romawi atau India, niscaya untuk keberhasilan dakwah ini, Allah swt mempersiapkan berbagai prasarana di negeri tersebut, sebagaimana Allah mempersiapkannya di Jazirah Arabia. Dan Allah tidak akan pernah kesulitan untuk melakukannya, karena Dia pencipta segala sesuatu, pencipta segala sarana termasuk sebab. Tetapi, hikmah pilihan ini (dipilihnya Jazirah Arab sebagai tempat dakwah Islam) sama dengan hikmah dijadikannya Nabi saw seorang ummi, tidak bisa menulis dengan tangan kanannya menurut istilah Allah dan tidak pula bisa membaca dengan matanya, tetapi Nabi saw membaca dengan otaknya, agar manusia tidak ragu terhadap kenabiannya dan agar mereka tidak memiliki banyak sebab keraguan terhadap kebenaran dakwahnya. Adalah termasuk kesempurnaan hikmah Ilahiyah, jika bi’ah (lingkungan) tempat diutusnya Rasulullah saw dijadikan juga sebagai bi’ah ummiyah (lingkungan ummi), bila dibandingkan dengan umat-umat yang lain yang ada di sekitarnya, yakni tidak terjangkau sama sekali oleh peradaban-peradaban tetangganya. Demikian pula sistem pemikirannya, tidak tersentuh sama sekali oleh filsafat-filsafat membingungkan yang ada di sekitar Jazirah Arabia. Mekah adalah wilayah steril dari filsafat-filsafat, khurafat-khurafat, kitab-kitab dari para nabi-nabi terdahulu, sekte-sekte, sejarah umat-umat terdahulu, dan juga steril dari semua peradaban, kebudayaan, sejarah bangsa-bangsa di sekitarnya yang memiliki peradaban dan budaya yang besar.

Seperti halnya akan timbul keraguan di dada manusia apabila mereka melihat Nabi saw seorang terpelajar dan pandai bergaul dengan kitab-kitab, sejarah umat-umat terdahulu, dan semua peradaban negara-negara di sekitarnya. Dan dikhawatirkan pula akan timbul keraguan di dada manusia manakala melihat munculnya dakwah Islamiyah diantara 2 umat yang memiliki peradaban, budaya dan sejarah, seperti negara Persia (umat bangsa timur), Yunani atau Romawi (umat bangsa barat). Sebab, orang yang ragu dan menolak Islam, mungkin akan menuduh bahwa dakwah Islam sebagai mata rantai pengalaman budaya dan pemikiran-pemikiran filosofis yang akhirnya melahirkan peradaban yang unik dan perundang-undangan yang sempurna.
Al-Qur’an telah menjelaskan hikmah ini dengan ungkapan yang jelas.
Qur’an surat Al-Jumuah ayat 2 :
2.      (“Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang ummi) buta huruf (dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka  kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”).

Allah telah menghendaki rasul-Nya seorang yang ummi dan kaum dimana rasul ini diutus juga merupakan kaum yang secara mayoritas ummi (buta huruf), agar mukjizat kenabian dan syariat Islamiyah menjadi jelas di dalam pikiran bangsa Arab, tidak ada pembauran diantara dakwah Islam dengan dakwah-dakwah manusia yang bermacam-macam agama dan aliran tersebut. Ini sebagaimana nampak jelas merupakan rahmat yang besar bagi hamba-Nya. Selain itu ada pula hikmah-hikmah yang tidak tersembunyi bagi orang yang mencarinya, antara lain :
1.      Sebagaimana telah diketahui, Allah menjadikan Baitul-Haram sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman, Al-Baqarah ayat 125 dan rumah yang pertama kali dibangun bagi manusia (Ka’bah, diciptakan Allah sebelum menciptakan Langit dan Bumi, Ka’bah merupakan pusat energi positif yang berasal dari Allah dan pusat gravitasi Bumi) untuk kiblat beribadah dan menegakkan syiar-syiar agama. Allah, juga telah menjadikan dakwah bapak para nabi, yaitu Nabi Ibrahim as dilembah tersebut (Mekkah/Bakkah). Maka semua itu merupakan kelaziman dan kesempurnaan jika lembah yang diberkahi ini juga menjadi tempat lahirnya dakwah Islam yang notabene adalah millah Nabi Ibrahim as dan menjadi tempat diutus dan lahirnya pamungkas para nabi, yaitu Rasulullah saw sedangkan dia termsuk keturunan Nabi Ibrahim as.
2.      Secara geografis, Jazirah Arabia sangat kondusif untuk mengemban tugas dakwah seperti ini. Karena jazirah ini terletak sebagai telah kami sebutkan, dibagian tengah umat-umat yang ada di sekitarnya. Posisi geografis ini akan menjadikan penyebaran dakwah Islam ke semua bangsa dan negara di sekitarnya berjalan dengan gampang dan lancar. Bila kita perhatikan kembali sejarah dakwah Islam pada permulaan Islam dan pada masa pemerintahan para khalifah yang terpimpin, niscaya kita akan mengakui kebenaran hal ini.
3.      Sudah menjadi kebijaksanaan Allah untuk menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa dakwah Islam dan media langsung untuk menerjemahkan Kalam Allah dan penyampaiannya kepada kita. Jika kita kaji karakteristik semua bahasa, lalu kita bandingkan antara yang satu dengan lainnya, niscaya akan kita temukan bahwa bahasa Arab banyak memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya.
Keistimewaan bahasa Arab itu antara lain :
1.      Sejak zaman dahulu kala hingga sekarang bahasa Arab itu merupakan bahasa yang hidup.
2.      Bahasa Arab adalah bahasa yang lengkap dan luas untuk menjelaskan tentang ketuhanan dan keakhiratan.
3.      Bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab mempunyai tasrif (konjugasi) yang amat luas sehingga dapat mencapai 3000 bentuk peubahan, yang demikian tidak terdapat dalam bahasa lain. Maka sudah sepatutnya jika bahasa Arab dijadikan bahasa pertama bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia.


Sumber : Sirah Nabawiyah oleh Dr, Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dan berbagai sumber.

Tidak ada komentar: