06 Juni, 2014

KISAH DZULKARNAIN DAN DINDING GHAIBNYA

Kisah Dzulkarnain (Dzul Qarnain) bukan Iskandar Agung yang disampaikan oleh Allah kepada Nabi saw pada dasarnya merupakan ayat-ayat mutasyaabihaat yang pengertiannya masih samar-samar. Ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasyaabihaat, menurut Nabi saw termasuk dilarang untuk ditafsirkan arti maupun maknanya tanpa iman yang teguh. Sabda Nabi saw yang diriwayatkan Aisyah menyebutkan, Nabi saw membaca Qur’an surat Ali Imran ayat 7 :
7.      (Dia-lah yang menurunkan Alkitab) Al-Quran (kepada kamu, di antara) isi (nya ada ayat-ayat yang muhkamaat) adalah pokok isi dari Al-Qur’an dan dapat dipahami dengan mudah, tegas dan tetap maksudnya (Itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain) ayat-ayat (mutasyaabihaat) ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti apa yang dimaksud kecuali setelah diselidiki secara mendalam dan tentang yang ghaib-ghaib hanya Allah Yang Maha Tahu artinya. Dan sebab itulah timbul pemahaman yang berlainan menurut pengetahuan masing-masing orang. Adapun orang-orang di dalam hatinya ada kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa yang samar-samar daripada Al-Qur’an itu, untuk mencari-cari takwilnya dan memutarbalikkan maksudnya menurut yang disukainya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang tetap teguh imannya hanya kepada Allah, serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu pengetahuan dan ilmu agama (adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran) daripadanya (melainkan orang-orang yang berakal).
Setelah selesai Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda :
“Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat, yaitu ayat-ayat yang samar dari Al-Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang telah disebut oleh Allah. Oleh sebab itu, berhati-hatilah terhadap mereka.” Hadits riwayat Bukhari.

Kendati demikian, saya tetap akan mencoba menghubungkan kisah Dzul Qarnain yang terdapat di dalam Al-Qur’an dengan penjelasan saya di atas. Sebab dengan menghubungkan keduanya, maka arti dan makna dari keduanya dapat terbukti sebagai kisah yang berasal dari Allah.
Qur’an surat Al-Kahfi ayat 83-84 :
83.  (Dan mereka bertanya kepadamu) Muhammad (tentang Dzul Qarnain, katakanlah : “Akan kubacakan kepada kalian kisahnya”) Dzul Qarnain itu bukan nama raja tetapi julukan raja.
84.  (Sesungguhnya Kami telah memberikan kekuasaan kepadanya di muka Bumi ini dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai sesuatu dengan mudah) Allah karuniai dia kekuasaan sebagai raja besar.

Berdasarkan firman Allah di atas, kita dapat mengetahui bahwa Dzul Qarnain adalah seorang hamba Allah yang diberi kedudukan sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana dengan segala kemudahan untuk mencapai apa yang telah ditetapkan Allah kepadanya, ini akan menjadi petunjuk bagi kita semua. Dzul Qarnain juga disebutkan jika dia hidup sezaman dengan Nabi Khidir as. Bahkan di dalam riwayat ini disebutkan bahwa Dzul Qarnain adalah sepupu Nabi Khidir as dari garis keturunan ibu yang berdarah Rumania - Persia dan keduanya hidup pada zaman yang sama. Pernyataan ini membuktikan bila Dzul Qarnain hidup jauh sebelum zaman Kaisar Iskandar Agung yang hidup sekitar 360-332 SM yang adalah kaisar (raja) dari Macedonia - Yunani. Dzul Qarnain itu beragama Islam, sedangkan Alexander The Great (Iskandar Agung) adalah orang kafir atau penyembah berhala. Dzul Qarnain diperkirakan pendiri Kerajaan Assyria Baru (abad ke-14 sampai 10 SM). Assyria Baru kemudian menjadi kerajaan yang kuat pada tahun 1365 SM sampai 1076 SM dan yang menjadi raja besar pertama adalah Ashur-Uballit I (kemungkinan dia adalah Dzul Qarnain, Wallahu A’lam), Nabi Khidir as adalah wakil merangkap panglima perangnya, hal ini dikuatkan oleh kisah pertemuan Nabi Musa as dan Nabi Khidir as yang disebutkan Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 65-82 sekitar tahun 1200 SM dan mereka berkomunikasi dalam bahasa Aram adalah bahasa ibu Bani Israil yang bisa juga dikuasai Nabi Khidir as. Dengan demikian Dzul Qarnain merupakan tokoh pertama yang mendirikan cikal bakal Kerajaan Assyria Baru di Jazirah Mesopotamia Raya, yang kelak menjadi Kerajaan Babilonia Baru, Media dan Persia, adalah 4 kerajaan yang terbesar dan terkuat pada zaman itu. Beberapa sejarawan salah satunya Richard Nelson Frye, berpendapat bahwa Kerajaan Assyria Baru adalah kerajaan sesungguhnya yang pertama dalam sejarah manusia. Pada periode tersebut, bahasa Aram adalah bahasa Ibrani kuno serumpun dengan bahasa Arab dan bahasa percakapan sehari-hari Bani Israil pada masa itu termasuk bahasa percakapan sehari-hari Nabi Musa as dan Nabi Isa as dan juga menjadi bahasa resmi ke-2 kekaisaran di Mesopotamia bersama dengan bahasa Akkadia.

Dalam Qur’an surat Al-Kahfi ayat 85-86, 90 selanjutnya dikisahkan bahwa : (“Maka dia pun menempuh suatu jalan”) yang menunjukkan jika Dzul Qarnain pada waktu itu telah melakukan perjalanan penaklukan-penaklukan atas daerah-daerah yang jauh di sekitar kerajaannya. Allah menerangkan bahwa perjalanan Dzul Qarnain menuju 3 arah, pertama, ke barat yang menghadap langsung ke Laut Hitam di Eropa Timur dengan isyarat (“Matahari terbenam di laut yang berlumpur hitam”). Kedua, ke timur diperkirakan ke Gurun Gobi di Asia Tengah (“didapatinya suatu kaum yang belum pernah diberikan suatu pelindung dari pancaran sinar Matahari”). Ketiga, ke suatu arah yang melintang di antara timur dan barat, tepatnya di antara dua gunung yang di sekelilingnya terdapat suatu kaum yang hampir-hampir saja tidak mengerti perkataan (pembicaraan) manusia lainnya. Pada perjalanan ketiga inilah yang menjelaskan hubungan Dzul Qarnain dengan uraian di atas, yaitu pada saat membangun dinding pemisah antara timur dan barat.
Allah berfirman di dalam Qur’an surat Al-Kahfi ayat 92-96 :
92.  (Kemudian dia menempuh suatu jalan yang lain lagi) melakukan penaklukan ke negeri yang lain lagi.
93.  (Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan).
94.  (Mereka berkata : “Wahai Dzul Qarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka Bumi, maka maukah engkau kami beri upah agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?”).
95.  (Dzul Qarnain menjawab : “Apa yang telah dikuasakan Tuhan kepadaku lebih baik) daripada upah yang engkau berikan (maka bantulah aku saja dengan kekuatan, supaya aku bisa membuatkan dinding penghalang yang kokoh antara kamu dan mereka).
96.  (”Berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga ketika besi tersebut sama tingginya dengan kedua puncak gunung itu, maka Dzul Qarnain berkata : “Tiuplah api itu.” Ketika besi itu menjadi) merah seperti (api, ia berkata : “Berilah aku tembaga yang mendidih, agar aku tuangkan ke atas besi panas itu”).

Firman Allah di atas sebenarnya tidak dapat diartikan secara harfiah semata atau secara apa adanya. Untuk memahaminya diperlukan analisa, penelitian dan pengertian yang mendalam disertai dengan permohonan petunjuk kepada Allah. Ayat-ayat tersebut masih merupakan kalimat perumpamaan atau pernyataan majasi yang masih harus diterjemahkan menurut arti dan maksudnya, sehingga dapat dimengerti dengan benar, sesuai arti dan makna yang sesungguhnya. Dan firman Allah di dalam Al-Qur'an tersebut terkait erat dengan tempat yang memisahkan antara bangsa Ya’juj dan Ma’juj yang berada di sebelah utara dengan orang-orang yang meminta pertolongan kepada Dzul Qarnain. Berdasarkan keadaan geografis, masyarakat dan kondisi sosial yang ada, serta posisi kerajaan Dzul Qarnain sebagai cikal bakal Kerajaan Babilonia Baru, Media dan Persia, maka tempat atau daerah yang dimaksud itu berada di sebelah utara wilayah Mesopotamia, dan lebih tepatnya adalah utaranya Persia. Allah melalui Dzul Qarnain telah menetapkan bahwa kerajaan orang-orang Media dan Persia di kemudian hari akan menjadi tembok pemisah antara orang-orang Eropa dan bangsa-bangsa yang berada di sebelah timurnya. Inilah maksud dari apa yang disampaikan oleh Dzul Qarnain kepada orang-orang yang meminta tolong kepadanya.
Qur’an surat Al-Kahfi ayat 97 :
97.  (Maka mereka)Ya’juj dan Ma’juj (tidak dapat mendakinya dan mereka tidak dapat pula melubanginya).
Selanjutnya, karena merasa terusik oleh gangguan-gangguan bangsa Ya’juj dan Ma’juj, maka orang-orang Persia meminta pertolongan kepada seorang raja yang alim, adil dan bijaksana, yakni Dzul Qarnain yang sedang melakukan perjalanan melewati daerah mereka. Dzul Qarnain menyampaikan bahwa mereka akan aman dan tidak akan diganggu oleh bangsa Ya’juj dan Ma’juj asalkan mereka dapat membantu dengan tenaga mereka, yaitu dengan mendukung  Dzul Qarnain yang sedang membangun dan memperkuat kerajaannya.

Kerajaan Dzul Qarnain ini kelak akan menjadi cikal bakal Kerajaan Babilonia Baru, Media dan Persia di kemudian hari, kerajaan yang dilambangkan dengan “patung besar” dalam mimpi Raja Nebukadnezar II. Kerajaan Media dan Persia dalam nubuat Nabi Daniel as dilambangkan dengan “Perut dan pinggangnya dari tembaga, pahanya dari besi dengan kakinya sebagian dari besi dan sebagian dari tanah liat”. Kedua kerajaan tersebut menjadi bagian dari patung besar tersebut. Berkat bantuan orang-orang Persia, berdirilah dengan kokoh sebuah kerajaan adidaya pada zaman itu yang selanjutnya diwarisi oleh bangsa Babilonia dan Media dengan lambang tembaga kemudian dilanjutkan oleh bangsa Persia dengan perlambang besi dan besi bercampur tanah liat. Kerajaan yang kuat ini ditopang dengan keyakinan mereka yang menyembah hanya kepada Allah semata, Tuhan Yang Maha Esa dan berpedoman pada Kitab Zaratushtra yang asli dan di dalam kitab tersebut mengabarkan tentang akan datangnya Rasulullah saw dengan Islamnya dan tentang akan bangkitnya orang-orang Arab yang sedang mereka tunggu (tetapi kemudian orang-orang Persia menjadi penyembah api atau umat Majusi). Inilah petunjuk tersebut, yang membuktikan bahwa orang-orang Persia dan Kerajaan Persia menjadi negara adidaya yang sangat kuat pada zaman itu yang menjadi dinding ghaib atau dinding penghalang yang kokoh antara barat (bangsa Ya’juj dan Ma’juj) dan timur (negara-negara di sebelah timur Kerajaan Persia) dan merupakan keunggulan mereka di hadapan Allah. Mengapa bangkitnya orang-orang Arab dinanti-nantikan oleh orang-orang Persia? Maksudnya tidak lain adalah berkaitan dengan janji Allah kepada Dzul Qarnain bahwa kerajaan yang menjadi dinding pemisah antara timur dan barat itu akan hancur sesuai waktu yang telah ditetapkan Allah, yaitu pada saat orang-orang Arab bangkit dan menguasai orang-orang Persia.

Dan peristiwa itu merupakan pertanda atas hilangnya fungsi dinding penghalang tersebut. Hal ini sesuai firman Allah kepada Raja Persia Koresy (Cyrus Agung), yang disampaikan-Nya melalui Nabi Yesaya as, nabi bangsa Israel (Yahudi) di dalam Perjanjian Lama. Di sini Allah telah menjanjikan harta terpendam kepada Raja Koresy II tatkala pintu tembaga dan palang besi yang menjadi penutup pintu tersebut telah terbuka pada saat hancurnya Kerajaan Persia di tangan orang-orang Arab. Harta terpendam tersebut berarti agama Islam yang dapat menyelamatkan mereka, di dunia maupun di akhirat kelak dan masuk Surga dengan penuh keridhaan Allah. Yang jelas, pada kenyataannya di kemudian hari agama Islam telah menjadi agama dan keyakinan orang-orang Persia dan Mesir. Mereka beribadah menurut syariat yang sama, yakni syariat Islam. Dan dengan syariat Islam, mereka juga dapat beribadah secara bersama-sama tanpa mengalami kesulitan, sekalipun dengan adanya berbagai perbedaan. Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang telah berfirman kepada Koresy melalui Nabi Yesaya as pasal 45 ayat 1-3 :
45:1  :  Beginilah firman Tuhan : “Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresy (Raja Cyrus II Agung dari Kekaisaran Persia) yang tangan kanannya Kupegang, supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja. Supaya Aku membuka pintu-pintu (dinding) di depannya, dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup.
45:2  :  Aku sendiri hendak berjalan di depanmu dan hendak meratakan gunung-gunung, hendak memecahkan pintu-pintu) dinding (tembaga dan hendak mematahkan palang-palang besi.
45:3  :  Aku hendak memberikan kepadamu harta benda (agama Islam) yang terpendam dan harta kekayaan yang tersembunyi berupa (Surga di akhirat kelak) Supaya engkau tahu, Aku-lah Tuhan, Allah Israel yang memanggil engkau dengan namamu.

Kenyataan yang terjadi kemudian setelah Kerajaan Persia jatuh ke dalam kekuasaan tentara Islam pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, bahwa orang-orang Persia dengan senang hati menerima ajaran Islam sebagai agama dan keyakinannya, sesuai dengan petunjuk kitab agama mereka sebelumnya. Dinding ghaib yang memisahkan antara dunia barat dan dunia timur secara otomatis akan hancur luluh dan tidak berfungsi lagi.
Qur’an surat Al-Kahfi ayat 98 :
98.  (Dia) Dzul Qarnain (berkata : ”Dinding ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, maka Dia akan menjadikannya hancur luluh dan janji Tuhanku itu adalah benar”).
Janji Allah tentang hancurnya dinding pemisah itu dapat dipastikan terjadi pada saat kedatangan Rasulullah saw. Zainab binti Jahsi ra, istri Rasulullah saw berkata : ”Rasulullah terbangun dari tidurnya dengan wajah beliau saw memerah seraya bersabda : “Laa ilaaha illallaah, celaka bangsa Arab oleh kejahatan yang telah dekat. Pada hari ini telah dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini ....”
Dan Sufyan ibn Uyainah membuat (angka) 90 atau 100 dengan jari-jarinya. Dikatakan : “Apakah kami binasa sedang di tengah-tengah kami adalah orang-orang saleh?”
Rasulullah saw bersabda : “Ya, apabila kekotoran telah banyak.” Hadits riwayat Bukhari.

Jika kejahatan, kefasikkan dan kemaksiatan merajalela yang membuat Ya’juj dan Ma’juj memasuki negara-negara di Timur Tengah (Abad 10 +18 + 20 + 21 dan akhir zaman) dan Asia (Abad 16+18) untuk menjajah mereka.
Kedatangan Rasulullah saw sebagai pembawa agama Islam merupakan petunjuk bahwa Kerajaan Persia yang berfungsi sebagai dinding penghalang telah terbuka, seperti pernyataan Rasulullah saw di atas itu. Hilangnya fungsi Kerajaan Persia sebagai dinding penghalang bisa berarti bahwa Ya’juj dan Ma’juj atau orang-orang Eropa akan bebas memasuki daerah-daerah yang ada di sebelah timurnya untuk menjajah, membunuh dan merampok harta negara-negara yang dijajah mereka kemudian di bawa ke negara mereka. Dan yang telah terbukti datang untuk berperang ke wilayah Timur Tengah adalah bangsa-bangsa barat dari ras Nordik dan ras Slavia (Rusia). Tetapi hal ini tidak perlu mereka takutkan lagi, sebab mereka sekarang ini telah menerima harta terpendam dari Allah, seperti yang telah dijanjikan, yakni agama Islam. Maha Suci Allah yang telah memberitahukan semua ini kepada kita.
Qur’an surat At-Taubah ayat 51 :
51.  (Katakanlah) Muhammad kepada mereka (: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah) yaitu takdir yang telah tertulis dalam Kitab Lauhul Mahfudz (untuk kami. Dia-lah pelindung kami dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman harus bertawakal”).
Qur’an surat Yunus ayat 61 :
61.  (Dan tidaklah engkau) Muhammad (berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an) mengenai perkara tersebut (dan tidak pula engkau melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika engkau melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah) atom (baik di Bumi ataupun di Langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil) dari zarrah yaitu partikel-partikel terkecil dinamakan quarks dan leptons (dan yang lebih besar daripada itu) yaitu elektron dan inti atom yang terdiri dari partikel-partikel proton dan neutron yang terikat bersama pada pusat atom, elektron bersama-sama dengan inti atom membentuk atom, atom adalah suatu satuan dasar materi yang terdiri dari inti atom dan awan elektron bermuatan negatif yang mengelilingi inti atom (melainkan semua tercatat dalam kitab yang nyata) Lauhul Mahfudz.
Qur'an surat Al-An’aam ayat 38 dan 59 :
38.  (“...Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab) Lauhul Mahfudz yang mencatat semua kejadian atau takdir ciptaan-Nya di alam semesta (sedikit pun, kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan”).
59.  (Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan Bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata”) Lauhul Mahfudz.
Qur’an surat Al-Israa’ ayat 58 :
58.  (Tidak ada suatu negeri pun) yang penduduknya tidak beriman, tidak bertakwa dan durhaka kepada Allah dan rasul-rasul-Nya (melainkan Kami membinasakannya sebelum hari Kiamat atau Kami mengazabnya dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab) Lauhul Mahfudz.
Qur’an surat Al-Hajj ayat 70 :
70.  (Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di Langit dan di Bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab) Lauhul Mahfudz (Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah).
Qur’an surat An-Naml ayat 75 :
75.  (Tidak ada sesuatu pun yang sangat ghaib) di mata manusia (di Langit dan di Bumi, melainkan terdapat) telah tertulis (dalam kitab yang nyata) Lauhul Mahfudz.
Qur’an surat Saba’ ayat 3 :
3.      (Dan orang-orang yang kafir berkata : “Hari Kiamat itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah) Muhammad kepada mereka (: “Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang ghaib, sesungguhnya Kiamat itu pasti akan datang kepada kalian. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah, baik yang ada di Langit dan yang ada di Bumi dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar) dari itu (melainkan semuanya tercatat dalam kitab yang nyata”) Lauhul Mahfudz.
Qur’an surat Faathir ayat 11 :
11.  (Dan Allah menciptakan kalian dari tanah) Nabi Adam as (kemudian dari air mani) keturunan beliau as (kemudian Dia menjadikan kalian berpasang-pasangan) An-Najm ayat 45, Allah yang menentukan takdir jodohnya antara pria dan wanita (Dan tidak ada seorang wanita pun mengandung dan tidak pula melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan) telah ditetapkan (dalam Kitab) Lauhul Mahfudz (Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah).
Qur’an surat Yaasiin ayat 12 :
12.  (Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan) Allah menuliskan takdir secara terperinci (di dalam Kitab Induk yang nyata) Lauhul Mahfudz.
Qur’an surat Al-Qamar ayat 53 :
53.  (Dan segala urusan yang kecil maupun yang besar) semuanya (tertulis) dalam Kitab Lauhul Mahfudz.
Qur’an surat Al-Hadiid ayat 22 :
22.  (Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di Bumi dan tidak pula pada diri kalian sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab) Lauhul Mahfudz (sebelum Kami menciptakannya) Langit, Bumi, semua isinya termasuk penghuni-penghuninya dan apa yang ada di antara keduanya (Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah).

Sumber : Al-Qur’an, Tafsir Jalalain, Perang Islam vs Barat oleh Muhammad A dan berbagai sumber.

Tidak ada komentar: