15 Desember, 2014

SHALAT LIMA WAKTU

Dalam beberapa ayat Al-Qur’an disebutkan bahwa perintah shalat itu sebenarnya sudah diwahyukan sejak lama kepada para nabi dan rasul sebelum diwahyukan kepada Rasulullah saw sebagai ibadah utama untuk berkomunikasi dengan Allah. Jadi bukan hanya pada saat Rasulullah saw saja shalat itu diperintahkan, tetapi sejak Nabi Adam as diciptakan.
Qur’an surat Al-Mu’minuun ayat 115, juz 18 surat-23 :
115.    (Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian hanya main-main) saja tanpa tujuan? (dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?).
Qur’an surat Adz-Dzariyaat ayat 56, juz 27 surat ke-51 :
56.  (Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan) dengan tujuan (supaya mereka beribadah kepada-Ku”) maka organ-organ tubuhnya akan bekerja dengan sempurna dan insya Allah akan menyehatkan jasmani dan rohaninya, jika orang tersebut beribadah kepada Allah dengan Lillahi Ta’ala, terutama melakukan ibadah shalat yang tepat waktu, khusyuk, tumakninah, bacaan Al-Qur’annya sesuai tajwid dan tidak mengkonsumsi segala yang haram dan menyembah Allah (bertakwa) semata-mata hanya kepada-Nya, Al-A’raaf ayat 29. Mengingat Allah dengan mendirikan shalat itu lebih besar keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain, Al-‘Ankabuut ayat 45. Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kalian, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya, Ath-Thalaaq ayat 5. Dan orang yang menunaikan zakat, infaq dan sedekah, maka Allah akan menyucikan atau membersihkan hatinya atau jiwanya dari penyakit hati, Allah mengampuni dosa-dosanya, Al-Baqarah ayat 268, Al-Maaidah ayat 9, Al-Anfaal ayat 4, At-Taubah ayat 103 dan At-Taghaabun ayat 17. Allah menghapus sebagian kesalahan-kesalahannya, Al-Baqarah ayat 271. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, pasti akan Allah hapus dosa-dosa mereka dan pasti akan Allah beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan dan benar-benar akan Allah masukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang saleh, Al-’Ankabuut ayat 7, 9. Dan membuat tubuhnya kebal dari berbagai serangan penyakit. Mengapa bisa demikian? Ketika seseorang merasa bahagia setelah menolong orang yang membutuhkan dengan menunaikan zakat, infaq dan sedekah, ternyata mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, maka di dalam tubuhnya terjadi penambahan protein jenis A (IgA = Immunoglobulin atau antibodi) yang disebut sel kekebalan yang menguatkan atau meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya, sehingga tubuhnya lebih kebal dari berbagai serangan penyakit.
Rasulullah saw bersabda : “Sedekah menghapus dosa seperti air memadamkan api”. Hadits riwayat Ahmad.
Nabi Ibrahim as berdoa kepada Allah agar anak keturunan beliau as termasuk umat mereka dijadikan Allah sebagai orang-orang yang menjaga shalatnya dan terus istiqomah untuk menegakkan shalat, termasuk di dalamnya Nabi Isa as, karena Nabi Isa as juga keturunan Nabi Ibrahim as dari garis keturunannya Nabi Daud as.
Qur’an surat Ibrahim ayat 37 dan 39-40, juz 13 surat ke-14 :
37.  (Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau yang disucikan) yaitu Mekkah (Ya Tuhan kami) yang demikian itu (supaya mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur).
39.  (“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua) ku (Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar) memperkenankan (doa”).
40.  (“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankan doaku”).
Qur’an surat Maryam ayat 54-55, juz 16 surat ke-19 :
54.  (Dan ceritakanlah) Muhammad kepada mereka tentang (kisah Ismail) yang tersebut (di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan ia adalah seorang rasul dan nabi).
55.  (Dan ia menyuruh ahlinya) kaumnya/umatnya (untuk shalat dan menunaikan zakat dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya) Nabi Ismail as dan kaumnya diperintah oleh Allah untuk shalat pula.
Qur’an Al-Anbiyaa’ ayat 73, juz 17 surat ke-21:
73.  (Kami telah menjadikan mereka) yaitu Nabi Ibrahim as, Nabi Luth as, Nabi Ishaq as dan Nabi Ya’qub as, Al-Anbiyaa’ ayat 71-72 (itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk) kepada manusia (dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah).

Ayat 71-73 secara tegas menginformasikan kepada kita bahwa Nabi Ibrahim as, Nabi Luth as, Nabi Ishaq as dan Nabi Ya’qub as telah menerima wahyu untuk mengerjakan shalat (wa iqaamash shalaati). Selain kepada ketiga nabi tersebut, Nabi Musa as, Nabi Harun as termasuk kaumnya dan Nabi Isa as ternyata juga sudah memperoleh perintah shalat. Hal ini diceritakan Allah kepada Rasulullah saw dalam ayat berikut ini :
Qur’an surat Al-Hajj ayat 26, juz 17 surat ke-22 :
26.  (“Dan) ingatlah (ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah) dengan mengatakan  (”Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang rukuk dan sujud”) shalat berjamaah.
Qur’an surat Yunus ayat 87, juz 11 surat ke-10 :
87.  (Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya) Nabi Harun as (: “Ambillah oleh kalian berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumah itu tempat untuk shalat dan dirikanlah oleh kalian shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”) karena akan mendapatkan pertolongan dari Allah dan masuk Surga asalkan mereka tetap beriman dan bertakwa.
Qur’an surat Thaahaa ayat 13-14, juz 16 surat ke-20 :
13.  (“Dan Aku telah memilihmu) Musa menjadi utusan-Ku (maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan) kepadamu. 
14.  (“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan) yang hak (selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”).
Qur’an surat Al-Maaidah ayat 12, juz 6 surat ke-5 :
12.  (Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil) yaitu menyuruh mereka beriman dan bertakwa kepada Allah saja dan beriman dan taat kepada rasul-rasul-Nya (dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin) yang mewakili setiap suku dari 12 suku Bani Israil (Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku beserta kamu. Demi jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan beriman kepada rasul-rasul-Ku dan memberikan bantuan kepada mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik) berupa infaq dan sedekah kepada orang-orang yang berhak menerimanya (maka akan Kututupi dosa-dosa kamu, dan akan Kumasukkan kamu ke dalam Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir sesudah itu di antara kamu, sesungguhnya ia telah sesat dari jalan yang lurus).
Qur’an surat Al-A’raaf ayat 170, juz 9 surat ke-7 :
170.    (Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Alkitab) Taurat (serta mendirikan shalat) di antara orang-orang Israel, akan diberi pahala (Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan).
Qur’an surat Ali-‘Imran ayat 39 dan 43, juz 3 surat ke-3 :
39.  (Kemudian ia) Nabi Zakariya as (dipanggil oleh malaikat) Jibril as (sedang ia tengah berdiri mengerjakan shalat di mihrab…).
43.  (Wahai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk) shalatlah berjamaah.
Qur’an surat Maryam ayat 30-31 dan 58, juz 16 surat ke-19 :
30.  (Berkata Isa : “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberikan Alkitab) Injil (dan Dia menjadikan aku seorang nabi).
31.  (Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku) mendirikan (shalat dan) menunaikan (zakat selama aku hidup”).
58.  (“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam dan dari orang-orang yang Kami bawa) dalam kapal (bersama Nuh dan dari keturunan Ibrahim dan Israil) Nabi Ya’qub as (dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih) menjadi utusan-Ku (Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur sujud dan menangis”).
Qur’an surat Luqman ayat 17, juz 21 surat ke-31 :
17.  Nasehat Luqman kepada anaknya (Wahai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang ditekankan untuk diamalkan).
Qur’an surat Al-A’laa ayat 14-15 dan 18-19, juz 30 surat ke-87 :
14.  (Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri) dengan beriman dan bertakwa.
15.  (Dan ia ingat nama Tuhannya, lalu ia shalat).
18.  (Sesungguhnya) perintah untuk mendirikan shalat (ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu).
19.  (Yaitu Kitab-kitab Ibrahim) Shuhuf (dan) Taurat (Musa) Al-Baqarah ayat 83.

Dan yang lebih menarik, Allah memberikan gambaran bahwa cara shalat mereka juga dengan rukuk dan sujud kepada Allah. Selain itu ditegaskan bahwa mereka tidak menyekutukan Allah, mensucikan Allah, mengagungkan Allah serta memuji-muji kebesaran Allah. Para pengikut Nabi Isa as (kaum Hawariyyin) dan para pengikutnya kaum Hawariyyin, juga menjalankan shalat 5 waktu, 1 waktu shalat ada 10x shalat, setiap 1x shalat ada 2 rakaat, jadi shalatnya 50x dan jumlah rakaatnya ada 100,  ditambah 2 shalat sunat Dhuha dan shalat Tahajud.
Qur’an surat Al-Hajj ayat 78, juz 17 surat ke-22 :
78.  (“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya) berjihad tidak hanya berperang mengangkat senjata (Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan) ikutilah (agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan) begitu pula (dalam) Al-Qur’an (ini, supaya Rasul) Muhammad saw (itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dia-lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”).

Jika kita cermati ayat di atas, kita bahkan memperoleh informasi bahwa sejak zaman Nabi Ibrahim as bahkan sejak zaman Nabi Adam as, kita memang sudah disebut sebagai orang Islam. Begitu pula pada zaman Rasulullah saw yang menjadi saksi atas keislaman kita. Maka kita memperoleh perintah dari Allah untuk mendirikan shalat sebagaimana Nabi Ibrahim as juga menjalankan shalat. Berbagai ayat dan informasi di atas, memberikan penegasan kepada kita bahwa sebenarnya shalat itu sudah menjadi bagian wahyu-wahyu Allah sejak zaman rasul-rasul sebelumnya, jadi bukan hanya kepada Rasulullah saw saja. Apalagi kalau kita baca hadits ‘shahih’ dan kuat sbb :
Rasulullah saw bersabda :
“Aku didatangi Jibril as pada awal-awal turunnya wahyu kepadaku. Dia mengajarkan kepadaku wudhu dan shalat”. Hadits riwayat Imam Hakim, Baihaqi dan Ahmad. Malaikat Jibril as pertama kali mengajari Rasulullah saw adalah shalat Shubuh. Dan Allah bersumpah demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing, At-Takwiir ayat 18, karena shalat Shubuh adalah shalat yang paling penting di antara shalat-shalat fardlu lainnya.
Qur’an surat Al-Israa’ ayat 78, juz 15 surat ke-17 :
78.  (“Dirikanlah shalat dari sesudah Matahari tergelincir) Dhuhur (Zhuhur) dan Ashar (sampai gelap malam) Maghrib dan Isya’ dan shalat sunat lainnya (dan) dirikanlah shalat (Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan”) oleh malaikat-malaikat yang bertugas pada malam dan siang hari.

Yang dimaksud ‘sesudah Matahari tergelincir’ yaitu shalat fardlu Dhuhur, Ashar dan shalat sunat Rawatib sedangkan yang dimaksud ‘sampai gelap malam’ yaitu shalat fardlu Maghrib dan Isya’, shalat sunat Rawatib, Witir, Tahajud dan shalat-shalat sunat yang lain. Dan surat Al-Faatihah adalah surat yang diturunkan di awal-awal masa kenabian Rasulullah saw. Surat Al-Faatihah diturunkan pertama kali lengkap 1 surat. Kedatangan Jibril as untuk mengajari Rasulullah saw shalat dengan turunnya surat Al-Faatihah adalah bersamaan dan saling berkaitan. Hal ini karena surat Al-Faatihah merupakan surat yang wajib dibaca di dalam shalat. Karena jika shalat tidak membaca Al-Faatihah, maka shalatnya tidak sah dan hati kita tidak menyambung dengan Allah. Padahal shalat itu artinya adalah : silahturahmi/sambung rasa/mi’raj/menghubungkan hati kita dengan Allah. Membaca Al-Faatihah itu berkhasiat menyambungkan atau menghubungkan hati kita dengan Allah, supaya kita bisa berkumunikasi dengan Allah.
Rasulullah saw bersabda :
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Faatihah”. Hadits riwayat Daruqutni.
“Sesungguhnya orang yang tidak membaca Al-Faatihah itu tidaklah shalat namanya”.H.R.Abu Dawud&Tirmidzi.
Rasulullah saw dan umat beliau saw diperintah Allah untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim as dalam firman-Nya :
Qur’an surat Al-Baqarah ayat 130-136, juz 1 dan 256, juz 3 surat ke-2 :
130.    (Dan siapakah yang benci pada agama Ibrahim) yaitu agama Islam (kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri) karena kafir dan pasti masuk Neraka (dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia) sebagai rasul dan kesayangan-Nya, An-Nisaa’ ayat 125 (dan sesungguhnya di akhirat ia benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
131.    (Ketika Tuhannya berfirman kepadanya : “Tunduk dan berserah dirilah kamu”. Jawab Ibrahim : “Aku tunduk dan berserah diri kepada Tuhan semesta alam”) Nabi Ibrahim as menyatakan diri sebagai orang Islam.
132.    (Dan Ibrahim telah mewasiatkan kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub) mewasiatkan kepada anak-anaknya dan berkata : (“Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam menganut agama Islam”) menjadi orang yang berserah diri kepada Allah.
133.    Ketika orang-orang Yahudi mengatakan kepada Rasulullah saw : “Apakah Anda tidak tahu bahwa ketika akan mati itu, Ya’qub memesankan kepada putra-putranya supaya memegang teguh agama Yahudi”, maka turunlah ayat : (“Apakah kalian menyaksikan) kata am = apakah, maksud ayat ini adalah penolakan Allah terhadap ucapan orang-orang Yahudi yang diucapkan di hadapan beliau saw yang maksudnya : Kalian tidak hadir ketika Ya’qub akan meninggal, maka betapa kalian berani menyatakan dan mengucapkan kepada Muhammad, perkataan yang tidak-tidak! (ketika maut akan menjemput Ya’qub, yaitu ketika ia menanyakan kepada anak-anaknya : “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”) setelah aku wafat? (Mereka menjawab : “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq) Nabi Ismail as dianggap bapak, karena paman = bapak (yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami tunduk serta berserah diri kepada-Nya”) Allah menurunkan Kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa as sebagai cahaya dan petunjuk dan rahmat dan pengajaran bagi Bani Israil, jadi bukan diturunkan kepada Nabi Ya’qub as dan anak-anak beliau as. Nabi Musa as adalah canggahnya Nabi Ya’qub as (generasi ke-5), agama Yahudi itu berpedoman pada Kitab Taurat dan Zabur saja, Allah menurunkan Kitab Taurat ketika Nabi Musa as berada di Gunung Jabal Musa, Semenanjung Sinai – Mesir bagian Benua Asia setelah peristiwa Bani Israil menyeberangi Laut Merah dengan selamat dari kejaran Fir’aun Merneptah dan bala tentaranya.
134.    (Itu) yaitu Nabi Ibrahim as dan Nabi Ya’qub as dan keturunannya termasuk Nabi Musa as (adalah umat yang telah lalu, bagi mereka apa yang telah mereka usahakan) yaitu balasan atas segala amal perbuatan mereka (dan bagi kamu) orang-orang Yahudi dan keturunannya (apa yang kamu usahakan dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa-apa yang mereka kerjakan) masing-masing orang bertanggung jawab atas segala amal perbuatannya yang baik maupun yang buruk, jadi tidak ada dosa waris dan penebusan dosa seperti yang ada dalam ajaran agama Kristen.
135.    (Dan kata mereka : “Jadilah kamu sebagai penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk!”) yang pertama diucapkan orang-orang Yahudi dan yang kedua diucapkan kaum Nasrani dari Najran dekat Yaman (Katakanlah) kepada mereka (tidak, bahkan) kami hanya akan mengikuti (agama Ibrahim yang lurus) yaitu agama Islam (Dan bukanlah ia dari golongan musyrik).
136.    (Katakanlah : “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami) yaitu Al-Qur’an (dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim) yaitu Shuhuf (lampiran yang sepuluh) atau kitab suci yang hanya 10 lembar (kepada Ismail dan Ishaq dan Ya’qub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa) yaitu Taurat dan Injil (begitu juga yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk kepada-Nya semata”).
256.    (Tidak ada paksaan dalam) memeluk (agama) Islam (Sesungguhnya telah jelas) perbedaan (jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Maka barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut) apa saja yang disembah selain Allah (dan ia beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada simpul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus-putus, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui) Al-A’raaf ayat 172-174.
Qur’an surat Ali-‘Imran ayat 51, 65-68, 81, juz 3 dan 95, juz 4 surat ke-3 :
51.  Nabi Isa as berkata kepada Bani Israil (“Sesungguhnya Allah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus”).
65.  (Hai Ahli Kitab) Bani Israil (mengapa kamu bantah membantah tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudahnya. Apakah kalian tidak berpikir?).
66.  (Begitulah kalian) semestinya (kalian ini bantah membantah tentang hal yang kalian ketahui, maka mengapa kalian bantah membantah tentang hal yang tidak kalian ketahui? Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui).
67.  (Ibrahim itu bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi ia adalah seorang yang hanif) lurus tidak sesat (lagi berserah diri) kepada Allah (dan sekali-kali bukanlah ia termasuk golongan orang-orang musyrik).
68.  (Sesungguhnya orang-orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya) di masanya (dan nabi ini) Rasulullah saw (beserta orang-orang yang beriman) umat beliau saw (dan Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman).
81.  (Dan) ingatlah (ketika Allah mengambil janji dari nabi-nabi) Al-Ahzab ayat 7 (: “Sungguh, apa saja yang Kuberikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul) Muhammad saw (yang membenarkan apa yang ada padamu) yaitu Kitab Taurat, Zabur, Injil dan kitab-kitab para nabi (bahwa kamu sungguh-sungguh akan beriman kepadanya dan membelanya”. Firman-Nya : “Apakah kamu berjanji dan menerima perjanjian terhadap yang demikian itu?”. Kata mereka : “Kami berjanji”. Allah berfirman : ”Maka saksikanlah) wahai para nabi dan umat kalian yang telah berjanji dengan teguh di hadapan Allah akan beriman kepada Rasulullah saw sebagai nabi akhir zaman jika nanti dibangkitkan (dan Aku turut menjadi saksi pula bersama kamu”) Allah memerintah kepada para nabi dan rasul untuk bersaksi dengan mengucapkan 2 kalimat syahadat ketika mengutus mereka sebagai tanda bahwa mereka seorang muslim, tetapi setelah datang nabi akhir zaman yang diutus oleh Allah kepada umat manusia termasuk kepada Bani Israil yang beritanya tepat seperti yang tertulis dalam kitab-kitab mereka, maka sebagian besar Bani Israil ingkar, tidak beriman, durhaka dan mendustakan Rasulullah saw karena dengki yang ternyata adalah orang Arab bukan orang Israel, demikian pula dengan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, Rasulullah saw dan Al-Qur’an. Dan tidaklah Allah mengutus Rasulullah saw, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, Al-Anbiyaa ayat 107.
95.  (Katakanlah : ”Benarlah) apa yang difirmankan (Allah”, maka ikutilah olehmu agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah ia termasuk golongan) orang-orang yang (musyrik”).
Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 125 dan 131, juz 5 surat ke-4 :
125.    (“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia pun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”).
131.    (Dan milik Allah-lah apa yang terdapat di Langit dan apa yang terdapat di Bumi. Dan sungguh, telah Kami perintahkan kepada orang-orang yang diberi Kitab) Taurat, Zabur dan Injil (sebelum kamu) wahai kaum muslimin (dan juga kepada kamu supaya ”Bertakwalah kamu kepada Allah dan jika kamu ingkar) kafir (maka) ketahuilah (bahwa apa yang terdapat di Langit dan apa yang terdapat di Bumi hanyalah milik Allah. Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji).

Qur’an surat Al-Baqarah ayat 21, juz 1 dan 252, juz 3 surat ke-2 :
21.  (Wahai manusia, sembahlah olehmu Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan) diciptakan-Nya pula (orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu bertakwa) beribadah kepada-Nya.
252.    (Itu adalah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu) Muhammad (dengan benar dan sesungguhnya engkau adalah salah seorang di antara para rasul) ayat ini turun untuk menolak ucapan orang-orang kafir yang mendustakan Rasulullah saw yang mengatakan : ”Kamu bukanlah salah seorang rasul”.
Qur’an surat Al-An’aam ayat 48, juz 7 dan 161-164, juz 8 surat ke-6 :
48.  (Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman) kepada Allah dan rasul-rasul-Nya (dan mengadakan perbaikan) dengan memohon ampun dan bertobat kepada-Nya kemudian mengerjakan amal-amal saleh (maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati).
161.    (Katakanlah : “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”).
162.    (Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam).
163.    (Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku) Muhammad (adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”).
164.    (Katakanlah : “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah) padahal (Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain) Al-Baqarah ayat 134, 141, Al-An’aam ayat 52, Yunus ayat 41, Al-Israa’ ayat 15, Maryam ayat 15, Sabaa’ ayat 25, Faathir ayat 18, Az-Zumar ayat 7 dan An-Najm ayat 38-41, tiap-tiap diri atau masing-masing orang bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, Al-Muddatstsir ayat 38. Di tempat itu yaitu Padang Mahsyar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya dan yang dilalaikannya dan datang untuk membela dirinya sendiri dan tiap-tiap diri terikat dan akan merasakan disempurnakan balasan dari apa yang telah dikerjakannya atau yang diusahakannya dahulu di dunia dan mereka tidak dianiaya atau dirugikan dan mereka dikembalikan kepada Allah pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan, Ali-’Imran ayat 25, 30, Yunus ayat 30, 52, Ibrahim 51, An-Nahl ayat 111, Az-Zumar ayat 70, Al-Mu’min ayat 17, Al-Jaatsiyah ayat 22, 28, Al-Ahqaaf ayat 19, Ath-Thuur ayat 21, At-Tahriim ayat 7, Al-Qiyaamah ayat 13, At-Takwiir ayat 14 dan Al-Infithaar ayat 5. Ajaran tentang dosa waris (PB. Roma 5:12-18 dan 1 Korintus 15:21-26) adalah bahwa setiap bayi sejak dilahirkan sudah memikul (mewarisi) dosa Nabi Adam as dan Hawa (Eva). Sebelum bertempat tinggal di dunia, keduanya digelincirkan oleh setan dari Surga dengan membisikkan pikiran jahat kepada beliau as, maka keduanya memakan buah yang terlarang, sesatlah mereka dan menjadi orang-orang zhalim karena durhaka kepada Allah dengan melanggar larangan-Nya. Kemudian Allah mengajari Nabi Adam as doa untuk bertobat, maka Allah menerima tobat mereka dan Allah turunkan mereka dari Surga, Al-Baqarah ayat 35-38, Al-A’raaf ayat 27 dan Thaahaa ayat 120-123. Maka ketika bayi berumur 3 bulan harus dibawa ke gereja untuk dibaptis supaya terbebas dari dosa waris, padahal di dalam ajaran agama Islam, setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci) dari dosa. Ajaran tentang penyaliban (Roma 5:8, 1 Korintus 1:18-23 dan 1 Timotius 1:15) dan penebusan dosa (Roma 5:18, 6:10-11, 2 Korintus 5:14 dan 1 Timotius 2:6) menurut Paulus itu adalah, semua orang harus percaya Nabi Isa as (Yesus) menyerahkan dirinya untuk berkorban hingga mati di tiang salib untuk penebus dosa seluruh manusia supaya mereka memperoleh hidup kekal di dalam Surga dan kembali pada hari kemudian, maka orang Kristen bebas atau bisa melakukan perbuatan apa saja untuk menuruti hawa nafsunya, tetapi dirinya tidak mendapatkan kemudharatan karena ia percaya kepada Kristus yang telah menebus dosa-dosanya dengan darah penyaliban tuhannya Yesus Kristus, padahal Nabi Isa as tidak pernah divonis hukuman mati di tiang salib dan tidak pernah mati disalib. Ajaran dosa waris dan penebusan dosa dalam agama Kristen hanya dogma agama buatan Paulus yang ia tulis dalam surat-suratnya kepada Timotius dan jemaatnya di Roma dan di Korintus, ajarannya itu tidak ada dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Paulus menyadur doktrin warisan kepercayaan para penyembah berhala atau paganisme lalu dijadikan bagian dari ajaran agama ciptaannya yaitu agama Kristen. Doktrin Paulus ini dengan mudah diterima oleh masyarakat pagan yang memang sebelumnya sudah memiliki sistem kepercayaan seperti itu dan doktrin Paulus tersebut hanya janji-janji dan angan-angan kosong yang dibangkitkan oleh setan, padahal semua itu tipuan (dusta) belaka, An-Nisaa’ ayat 120 (Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”) terutama dalam masalah agama, Al-Baqarah ayat 111-113.

Qur’an surat Yunus ayat 47 dan 106-107, juz 11 surat ke-10 :
47.  (Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila rasul mereka telah datang) lalu mereka mendustakan rasul-Nya (diberlakukanlah hukum bagi mereka dengan adil) Allah mengazab orang-orang yang kafir dan menyelamatkan rasul-Nya beserta orang-orang yang beriman (dan mereka sedikit pun tidak dizhalimi).
106.    (Dan janganlah kamu menyembah kepada selain Allah, yaitu apa-apa yang tidak memberi manfaat kepadamu dan tidak pula dapat memberikan mudharat kepadamu, sebab jika kamu berbuat) demikian (maka sesungguhnya kamu jika begitu termasuk orang-orang yang zhalim”).
107.    (Jika Allah menimpakan kepadamu sesuatu kemudharatan, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).
Qur’an surat Yusuf ayat 38, juz 12 surat ke-12 :
38.  (“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishaq, Ya’qub. Tidaklah patut bagi kami) para nabi (mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia) seluruhnya (tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri”) karunia-Nya.
Qur’an surat An-Nahl ayat 36, 43-44, 63 dan 120-123, juz 14 surat ke-16 :
36.  (Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat) dari Nabi Adam as sampai Rasulullah saw (untuk) menyerukan (”Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut”....) jangan menyembah selain Allah Swt atau jangan menyekutukan-Nya.
43.  (Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau) Muhammad (kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan) yaitu kaum Ahli Kitab (jika engkau tidak mengetahui).
44.  (Dengan membawa keterangan-keterangan) hujah-hujah yang jelas (dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikir) Al-Qur’an (agar engkau menerangkan pada umat manusia apa yang diturunkan kepada mereka) yang di dalamnya menerangkan yang hak, yang batil, yang halal dan yang haram (dan supaya mereka memikirkan) tentang hal-hal tersebut dan mengambil pelajaran daripadanya.
63.  (Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus) rasul-rasul Kami (kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka) yang buruk (maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih) di hari Kiamat.
120.    (Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam) yang menjadi teladan (lagi patuh kepada Allah dan hanif) yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya (Dan sekali-kali dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan).
121.    (Lagi yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus).
122.    (Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh).
123.    (Kemudian Kami wahyukan kepadamu) Muhammad (: “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif) lurus yaitu agama Islam (dan bukanlah ia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”) ayat ini untuk membantah anggapan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku-ngaku bahwa Nabi Ibrahim as itu adalah pemeluk agama mereka.
Qur’an surat Al-Anbiyaa’ ayat 25 dan 92, juz 17 surat ke-21 :
25.  (Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau) Muhammad (melainkan Kami wahyukan kepadanya : “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian”).
92.  (Sesungguhnya) agama tauhid atau agama Islam (ini adalah agama kalian, agama yang satu) sejak zaman Nabi Adam as dan umat beliau as sampai zaman Rasulullah saw dan umat beliau saw di seluruh dunia ini sampai akhir zaman (dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku).
Qur’an surat Al-Mu’minuun 52, juz 18 surat ke-23 :
52.  (Dan) ketahuilah (bahwasanya) agama Islam atau agama tauhid (ini adalah agama kalian) wahai manusia (agama yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian, maka bertakwalah kalian kepada-Ku).

Qur’an surat Shaad ayat 65-66, juz 23 surat ke-38 :
65.  (Katakanlah) Muhammad (: ”Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan).
66.  (Tuhan Langit dan Bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun).
Qur’an surat Asy-Syuura ayat 13, juz 25 surat ke-42 :
13.  (Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh) beliau as adalah nabi pertama yang membawa syariat perkara perdata dan pidana yang bermanfaat untuk melindungi kepentingan manusia yang jumlahnya telah berkembang semakin banyak dan masalahnya semakin kompleks dan sebagai alat untuk ketertiban dan keteraturan masyarakat serta sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial (dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu) Muhammad (dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : “Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya”) itulah ajaran yang telah disyariatkan, diwasiatkan dan diwahyukan kepada nabi-nabi Allah, yaitu ajaran tauhid (Amat berat bagi orang-orang musyrik agama) yang mengajarkan tentang kalimat tauhid itu, yang hanya beriman kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, tidak mempersekutukan-Nya dan bertakwa kepada-Nya saja, sungguh benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan (yang kamu seru mereka kepadanya) yaitu untuk mengesakan Tuhan, karena orang-orang musyrik itu menganut agama politeisme yang telah terbiasa percaya bahwa tuhan itu tidak satu, tetapi tuhan itu lebih dari satu atau banyak dan menurut keyakinan mereka bahwa menyembah banyak tuhan itu benar-benar suatu hal yang dikehendaki oleh Allah, bahkan yang mereka dengar dari agama yang terakhir sebelum Rasulullah saw diutus oleh Allah menjadi nabi dan rasul, yaitu agama Nasrani Trinitas Kristen Protestan mempunyai 3 tuhan : Bapa (Allah), Putra (Yesus) dan Roh Kudus dan Kristen Katolik mempunyai 4 tuhan dengan ditambah menuhankan Maryam (Maria), Shaad ayat 5-7 (Allah menarik kepada agama) Islam (itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada) agama (-Nya orang yang kembali) kepada-Nya.

Qur’an surat Az-Zumar ayat 65-66, juz 24 surat ke-39 :
65.  (Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu) Muhammad (dan kepada nabi-nabi sebelummu. “Jika engkau mempersekutukan) Allah (niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi).
66.  (Karena itu, maka hendaklah Allah) saja yang (engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur”) atas nikmat-Nya kepadamu.
Qur’an surat Az-Zukhruf ayat 28 dan 45, juz 25 surat ke-43 :
28.  (Dan) Nabi lbrahim as (menjadikannya) kalimat tauhid itu (sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya) yaitu Bani Ismail, Bani Ishaq termasuk Bani Israil dan Bani Zimran, Yoksan, Medan, Midian (Madyan), Isybak dan Suah anaknya Nabi Ibrahim as dari istri ke-3 yang bernama Ketura (Qetorah/Safura), Kitab Kejadian pasal 25 ayat 1-2 dan Kitab 1 Tawarikh pasal 1 ayat 32 (supaya mereka kembali) kepada kalimat tauhid dan tidak menjadi penyembah berhala-berhala lagi dengan memeluk agama Islam yaitu agama bapak moyang mereka.
45.  (Dan tanyakanlah) Muhammad (kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau : “Adakah Kami menentukan selain Allah Yang Maha Pemurah sebagai tuhan-tuhan untuk disembah?”) oleh kalian. Allah memerintahkan kepada semua rasul dan umat-umat mereka sebelum Allah mengutus Rasulullah saw supaya hanya menyembah kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa karena tiada Tuhan selain Allah Tuhan semesta alam.
Qur’an surat Al-Bayyinah ayat 5, juz 30 surat ke-98 : apa maksud dari agama Nabi Ibrahim as yang lurus?
5.      (Padahal mereka) Bani Israil (tidak disuruh) yang tertulis dalam Kitab Taurat Musa, Zabur dan Injil Nabi Isa as (kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam beragama dengan lurus) berpegang teguh pada agama Nabi Ibrahim as lalu disambung atau dihubungkan dengan agama Rasulullah saw yaitu dengan memeluk agama yang tidak sesat dan tidak meyekutukan Allah (dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus) tetapi setelah kedatangan Rasulullah saw kepada mereka yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, maka sebagian besar Bani Israil ingkar dan merusak janji mereka di hadapan Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan atau dilanjutkan untuk mengikuti agama yang dibawa Rasulullah saw karena mereka dengki dengan beliau saw yang ternyata bukan orang Israel dan mereka mengadakan kerusakan di Bumi dengan melakukan kekufuran dan perbuatan-perbuatan maksiat, Ar-Ra’du ayat 25. Padahal sebelumnya mereka berdoa kepada Allah karena sangat yakin bahwa nabi akhir zaman itu berasal dari golongan mereka (orang Israel) keturunan Nabi Ishaq as karena perpedoman pada Kitab Perjanjian Lama (Taurat Yahudi) Kitab Kejadian pasal 22 ayat 2 yang telah diubah kata-katanya oleh rabbi-rabbi (ulama Israel) yang tidak takut kepada Allah.
Qur’an surat Al-Baqarah ayat 89-90, juz 1 surat ke-2 :
89.  (Dan tatkala datang kepada mereka Kitab) Al-Qur’an (dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka) yakni Taurat, Zabur dan Injil (padahal sebelumnya, mereka memohon pertolongan) supaya memperoleh kemenangan (atas orang-orang kafir) dengan berdoa : Ya Allah tolonglah kami, datangkanlah nabi yang akan dibangkitkan di akhir zaman (Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui) yaitu tentang nabi di akhir zaman (mereka mengingkarinya) karena ternyata nabi tersebut bukan orang Israel, mereka tidak bisa menerima kenyataan ini, mereka dengki karena berkah dan rahmat Allah turun kepada umat manusia lewat nabi yang orang Arab bukan lewat nabi mereka, mereka takut kehilangan pengaruhnya di antara umat manusia (maka laknat Allah atas orang-orang yang kafir itu).
90.  (Alangkah buruknya) perbuatan (mereka, menjual diri mereka) maksudnya menjual pahala akhirat dengan dunia yang sedikit (Bahwa mereka kafir terhadap apa yang diturunkan Allah, disebabkan kedengkian) mereka kepada Rasulullah saw yang ternyata adalah orang Arab (Bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya) untuk diberi kitab dan kenabian (di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka) orang-orang Israel yang kafir itu (kembali dengan kemurkaan demi kemurkaan) dari Allah yang bertubi-tubi karena sebagian besar mereka selalu durhaka dan mengingkari Allah, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya (Dan bagi orang-orang kafir) ditimpakan (azab yang menghinakan).
Qur’an surat Al-Hadiid ayat 29, juz 27 surat ke-57 :
Imam Ibnul Mundzir mengetengahkan hadits lainnya melalui Mujahid yang menceritakan bahwa orang-orang Yahudi (Israel) telah mengatakan : ”Sudah dekat masanya akan turun seorang nabi dari kalangan kami (yaitu orang Israel, menurut kepercayaan mereka, dia (nabi akhir zaman itu) kelak akan (menerapkan hukum) memotong tangan dan kaki”. Lalu setelah nabi (utusan Allah yang terakhir) yang dimaksud muncul dari kalangan bangsa Arab, mereka mengingkarinya karena dengki kepada Rasulullah saw, maka Allah menurunkan firman-Nya :
29.  Kami terangkan yang demikian itu (Supaya Ahli Kitab) Bani Israil (mengetahui bahwa mereka tidak mendapat sedikitpun akan karunia Allah) jika mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw yang adalah orang Arab (dan bahwasanya karunia) kitab dan kenabian (itu berada di tangan kekuasaan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar) Ali-‘Imran ayat 73-74, Al-Anfaal ayat 29 dan Al-Jumu’ah ayat 4.

Mengapa orang-orang Arab Madinah lebih mudah menerima seruan dakwah Rasulullah saw daripada orang-orang Arab Mekkah? Yang telah mengkondisikan hati orang-orang Arab Madinah mudah untuk menerima agama Islam adalah keberadaan kaum Yahudi di negeri mereka dan kaum Yahudi dikenal sebagai suatu kaum yang ahli agama dan ilmu pengetahuan (kaum Ahli Kitab). Jika terjadi pertentangan atau perselisihan dan peperangan antara suku-suku Arab Madinah Khazraj dan Aus dengan kaum Yahudi, maka kaum Yahudi selalu berkata kepada mereka : ”Sesungguhnya sekarang telah tiba saatnya akan dibangkitkan seorang nabi (akhir zaman). Kami akan mengikutinya dan bersamanya kami akan memerangi kalian, sebagaimana pembunuhan (azab yang Allah timpakan kepada kaum) ‘Aad dan (Kota) Iram”. Kata-kata (ancaman) kaum Yahudi tersebut diucapkan selama 120 tahun sehingga orang-orang Arab Madinah hafal di luar kepala. Ketika Rasulullah saw pada tahun ke-11 kenabian berdakwah kepada sekelompok orang Arab Madinah dari kabilah Khazraj yang telah dibukakan hatinya untuk mendapat hidayah-Nya saat mereka datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, beliau saw mendatangi mereka lalu berbicara dan mengajak mereka untuk memeluk agama Islam, mereka berkata seraya saling berpandangan : “Demi Allah, ketahuilah bahwa ia (Rasulullah saw) adalah nabi yang dijanjikan oleh orang-orang Yahudi kepadamu, jangan sampai mereka mendahului kamu”. Akhirnya orang-orang Arab Madinah dengan mudah menerima dakwah Rasulullah saw dan memeluk agama Islam dan akan mengajak kabilah mereka untuk taat kepada beliau saw dan akan mengajak mereka memeluk agama Islam. Kemudian mereka pulang ke Madinah dan berjanji kepada Rasulullah saw akan bertemu lagi pada musim haji di tahun mendatang. Orang-orang Arab Madinah dengan mudah menerima dakwah Rasulullah saw karena mereka mengetahui bahwa telah tiba saatnya dibangkitkan seorang nabi akhir zaman dari ancaman kaum Yahudi yang diucapkan mereka setiap kali terjadi perselisihan antara Yahudi dan Arab Madinah selama puluhan tahun. Semua itu terjadi sebelum kaum Yahudi mengetahui bahwa nabi akhir zaman itu adalah orang Arab, sehingga mereka sangat yakin akan menjadi pengikutnya jika nabi tersebut datang dan yakin bersamanya akan memerangi orang-orang Arab sebagaimana kaum ‘Aad dan Kota Iram (Ubar), Provinsi Dhofar - Oman yang dahulu diperangi (diazab karena durhaka dan mendustakan Allah dan rasul-rasul-Nya).

Sementara orang-orang Arab Mekkah tidak tahu apapun perihal nabi akhir zaman itu, karena mereka tidak bertetangga dengan orang-orang Yahudi (Israel) yang dikenal sebagai kaum yang ahli agama dan ahli ilmu pengetahuan dan juga bukan kaum penyembah berhala tetapi dikenal sebagai kaum penyembah dan percaya kepada satu Tuhan yang tidak tampak yaitu Allah Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu yang menyebabkan sebagian besar orang Arab Mekkah yang masih percaya kepada banyak tuhan yang tampak di hadapan mereka, sangat sulit menerima dakwah Rasulullah saw yang menyeru mereka untuk menyembah kepada satu Tuhan semesta alam dan hanya beriman dan bertakwa kepada-Nya saja yaitu Allah Tuhan Yang Maha Ghaib yang tidak tampak oleh penglihatan mata mereka, Shaad ayat 4-7. Orang-orang kafir Mekkah itu memandang besar tentang diri mereka (mereka menyombongkan diri), bahkan mereka telah melakukan kezhaliman yang sangat melampaui batas karena meminta melihat Allah Swt tampak dengan nyata atau terang dihadapan mereka, lalu memberi tahu kepada mereka bahwa Muhammad adalah rasul-Nya, baru mereka akan beriman, Al-Furqaan ayat 21. Kezhaliman orang-orang kafir Mekkah itu sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang Israel yang telah meminta kepada Nabi Musa as, mereka berkata : “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata (terang)”. Maka mereka disambar petir karena kezhalimannya, Al-Baqarah ayat 55 dan An-Nisaa’ ayat 153. Kebanyakan orang-orang Mekkah itu tidak beriman, Asy-Syu’araa’ ayat 8 dan Yaasiin ayat 7, maka Rasulullah saw hanya dapat memberi peringatan kepada sebagian kecil dari mereka yang takut kepada azab Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun mereka tidak dapat melihat Allah dengan hati yang bertobat, Faathir ayat 18, Yaasiin ayat 11 dan Qaaf ayat 33. Silahkan baca : Sirah Nabawiyah ‘Bai’at Aqabah Pertama’ halaman 134-140 oleh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi.  

Qur’an surat Al-Baqarah ayat 83-84 dan 100, juz 1 surat ke-2 :
83.  (Dan) ingatlah (ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil) Al-Baqarah ayat 40-43, 63, 93, Ali-’Imran ayat 81, 187, An-Nisaa’ ayat 154, Al-Maaidah ayat 12, 70, Al-A’raaf ayat 145, 169, 171 dan Thaahaa ayat 80 yaitu perintah dan larangan Allah kepada Nabi Musa as dan Bani Israil dalam Kitab Taurat Musa yang Allah terangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 83-84 dan Al-An’aam ayat 151-154 dikenal dengan nama : The Ten Commandments atau Sepuluh (10) Perintah Allah, yang ditulis pada Kitab Imamat pasal 19 ayat 1-37 dan pasal 20 ayat 1-27 : (“Janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin) berbakti kepada orangtua dan menafkahkan sebagian rezeki karunia dari Allah dengan memberikan infaq dan sedekah kepada mereka, perintah dan larangan Allah tersebut, Allah perintahkan pula kepada Rasulullah saw dan umat beliau saw dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 177, 215, 220, An-Nisaa’ ayat 8, 36, Huud ayat 1-2, An-Nahl ayat 36, 51, 90, Al-Israa’ ayat 39, 26, Al-Hajj ayat 30-31, Al-Qashash ayat 77, 88, Al-Mu’min ayat 66, Al-’Ankabuut ayat 8, Ar-Ruum ayat 38, Al-Balad ayat 13-15, Adh-Dhuhaa ayat 9 dan Al-Maa’uun ayat 1-3, 6-7 (dan ucapkanlah kepada manusia) tutur kata (yang baik) amar ma’ruf nahi mungkar, Ali-’Imran ayat 104, 110, An-Nisaa’ ayat 8, Al-A’raaf ayat 157, 199, At-Taubah ayat 71, 112, An-Nahl ayat 125, Al-Hajj ayat 41, Luqman ayat 17, Al-Balad ayat 17 dan Al-’Ashr ayat 3 (Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat”) perintah-perintah Allah untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat itu telah dihapus atau dihilangkan dari lembaran-lembaran Kitab Taurat Yahudi (Tetapi kemudian kamu tidak memenuhi) janji itu (kecuali sebagian kecil dari kamu) yaitu nabi-nabi Bani Israil dan umat mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah termasuk Abdullah bin Salam dan orang-orang Israel yang memeluk agama Islam, Ali-’Imran ayat 113-115, 199. Yaitu orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian setelah diikrarkan dengan teguh di hadapan Allah dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan atau disambungkan dengan tetap melanjutkan untuk mengikuti ajaran agama tauhid yang dibawa Rasululullah saw sebagai rasul-Nya yang terakhir, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk, Ar-Ra’du ayat 20-21 (dan kamu) orang-orang kafir Yahudi seperti halnya nenek moyangmu (juga berpaling) ingkar janji, tidak beriman dan tidak bertakwa kepada Allah karena mereka tidak menjalankan perintah-perintah Allah dan bahkan menuduh atau memfitnah Maryam berzina, Al-Baqarah ayat 85, 100, An-Nisaa’ ayat 155-156,  Al-Maaidah 13, Maryam ayat 59 dan Al-Jumu’ah ayat 5. Nabi Isa as menyebut orang-orang Israel yang tidak mendirikan shalat itu sebagai generasi kafir, begitu pula yang dilakukan oleh orang-orang kafir Yahudi pada zaman Rasulullah saw sampai sekarang, mereka menaati dan meniru perbuatan pendahulu mereka untuk tidak mendirikan shalat dan tidak menunaikan zakat dan sebagainya.

Bani Israil adalah kaum yang diperintah oleh Allah untuk mengamalkan apa yang terkandung dalam Kitab Taurat, kemudian mereka tidak mengamalkannya, maka mereka diumpamakan seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal tetapi tidak dapat memanfaatkannya. Allah telah menurunkan banyak kitab yang dibawa oleh nabi-nabi-Nya kepada Bani Israil. Amatlah buruklah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu karena Allah menyerupakan mereka dengan simbol (lambang) binatang keledai yang dianggap bodoh yang tidak mempunyai akal pikiran sehingga tidak bisa berpikir. Hal itu disebabkan di dunia ini mata hati mereka buta, sehingga tersesat dari jalan yang lurus dan di akhirat mereka akan lebih buta lagi dan lebih tersesat jalannya karena mata lahir mereka yang buta tidak bisa melihat, baginya penghidupan yang sempit di dunia (hidupnya mengalami banyak kesulitan atau masalah) dan pada hari Kiamat mereka dikumpulkan atau dihimpunkan dalam keadaan buta, bisu dan tuli dan dilupakan oleh Allah sebagai balasan bagi orang yang melampaui batas dan tidak beriman kepada ayat-ayat-Nya, sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim, Al-Israa’ ayat 72, 97, Thaahaa ayat 124-127 dan Al-Jumu’ah ayat 5. Padahal Allah menurunkan Kitab Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa as untuk menyempurnakan nikmat-Nya kepada orang yang berbuat kebaikan dan sebagai cahaya bagi manusia terutama Bani Israil (karena menjelaskan segala sesuatu termasuk berisi hukum-hukum Allah tentang perintah dan larangan-Nya, yang dengan Kitab Taurat itu diputuskan perkara hukum orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah dan oleh orang-orang alim dan para pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan menjaga kitab-kitab Allah tersebut supaya jangan menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit dengan mengubah kata-katanya dari tempat-tempatnya dan mereka menjadi saksi terhadapnya, Al-Maaidah ayat 44, bagi yang berpedoman pada Kitab Taurat yang asli yang ditulis oleh Nabi Musa as) dan pelita bagi manusia (bagi kaum Yahudi dan Nasrani yang berpedoman pada Taurat Yahudi yang telah diubah kata-katanya dari tempat-tempatnya yang ditulis oleh para tokoh (pemuka) agama dan ulama Yahudi, maka mereka hanya mendapatkan sebagian penjelasan dari Allah termasuk tentang hukum-hukum Allah, karena orang-orang Yahudi terutama para tokoh agamanya menyembunyikan sebagian besar ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada mereka, Al-Baqarah ayat 42, 140, 146, 159, 174, Ali-‘Imran ayat 71, 187, Al-Maaidah ayat 15 dan Al-An’aam ayat 91. Sesungguhnya orang-orang Israel yang menyembunyikan ayat-ayat-Nya dari manusia apa-apa yang telah Allah turunkan berupa keterangan dan petunjuk, setelah Allah jelaskan kepada manusia dalam Alkitab Taurat Musa, mereka itu dikutuk oleh Allah dan dikutuk pula oleh makhluk-makhluk yang dapat mengutuki, yaitu dengan mendoakannya supaya mendapat kutukan dari Allah, Al-Baqarah ayat 159. Kecuali orang-orang Israel yang tobat dan mengadakan perbaikan yaitu dengan beriman (memeluk agama Islam) dan bertakwa kepada Allah saja dan memberikan penjelasan tentang ayat-ayat-Nya yang sebelum bertobat telah disembunyikannya, maka terhadap mereka Allah menerima tobatnya dan Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, Al-Baqarah ayat 160. Dan Allah berikan kepada  Nabi Musa as dan Nabi Harun Kitab Taurat yang sangat jelas dan diwariskan kepada Bani Israil yang di dalamnya ditulis tentang segala sesuatu pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu, Al-A’raaf ayat 145 juga sebagai petunjuk dan cahaya dan penerangan dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya dan pelita bagi manusia yang berpedoman pada Taurat Yahudi dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir, yaitu nabi-nabi Bani Israil dan umat mereka yang taat kepada nabi-nabi-Nya, agar mereka ingat perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya dan beriman terhadap hari pertemuan dengan Tuhan mereka, Al-Maaidah ayat 44, 46, Al-An’aam ayat 91, 154, Al-A’raaf ayat 154, Huud ayat 17, Al-Israa’ ayat 2, Al-Anbiyaa’ ayat 48, Al-Mu’minuun ayat 49, Al-Qashash ayat 43, As-Sajdah ayat 23, Ash-Shaaffat ayat 117, Al-Mu’min ayat 53-54 dan Al-Ahqaaf ayat 12.

Dalam Kitab Keluaran pasal 20 ayat 1-17 dan kitab revisiannya Kitab Ulangan pasal 5 ayat 4-22 perintah-perintah Allah kepada Bani Israil yang ditulis dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 83-84, ada beberapa ayat yang kata-katanya tetap lalu ditambahi kata-katanya, ada beberapa ayat yang banyak diubah kata-katanya, ada beberapa ayat-ayat yang palsu, ada beberapa ayat yang kata-katanya dibiarkan tetap utuh tidak diubah-ubah dan tidak tidak disembunyikan, Al-Maaidah ayat 15 dan ada beberapa ayat yang dihapus atau dihilangkan dari tempat-tempatnya dalam Kitab Taurat yang dilakukan oleh para tokoh agama dan ulama Yahudi yang tidak takut kepada Allah, Al-Baqarah ayat 75, 78-79, An-Nisaa’ ayat 46 dan Al-Maaidah ayat 13, 41 dan hal itu dilakukan oleh mereka jauh sebelum masa Nabi Zakariya as diutus oleh Allah menjadi nabi dan rasul-Nya. Contohnya ketika orang-orang Yahudi mengatakan seperti yang tertulis dalam Kitab Keluaran pasal 20 ayat 11 dan pasal 31 ayat 17 yang kata-katanya telah diubah dan ditulis berdasarkan dugaan para pemuka agama dan ulama pendahulu mereka yang tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab wahyu dari Allah yang menjelaskan segala sesuatu, Al-Hajj ayat 8, bahwa 6 hari lamanya Allah menciptakan Langit dan Bumi, laut dan segala isinya dan Allah berhenti bekerja untuk istirahat pada hari ke-7 yaitu hari Sabat (Shabbat/Sabtu), maka Allah membantahnya dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 255, Ali-’Imran ayat 2 dan Ar-Rahmaan ayat 29 :
Allah Yang Maha Hidup dan terus-menerus mengurus makhluk-makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Milik-Nyalah segala yang terdapat di Langit dan di Bumi. Kekuasaan-Nya meliputi Langit dan Bumi dan tidaklah berat bagi-Nya memelihara keduanya. Allah tidak pernah istirahat, semua yang ada di Langit dan di Bumi selalu meminta kepada-Nya, setiap waktu Dia dalam kesibukan. Setelah dibantah oleh Allah dalam ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, lalu orang-orang Yahudi generasi penerusnya yang juga tidak takut kepada Allah itu, merevisinya lagi dengan mengubah kata-katanya (yaitu menghapusnya atau menghilangkan kata-kata yang telah dibantah oleh Allah) yang ditulis oleh mereka dalam Kitab Ulangan pasal 5 ayat 15, Kitab Imamat pasal 23 ayat 3 dan Kitab Keluaran pasal 35 ayat 2.

84.  (Dan) ingatlah (ketika Kami menerima perjanjian) pula (darimu) dan Allah berfirman : (“Kamu tidak akan menumpahkan darahmu) tidak membunuh sesama manusia tanpa alasan yang benar (dan tidak akan mengeluarkan dirimu) saudara-saudara sebangsamu (dari kampung halamanmu”) dari negerimu, tetapi kemudian orang-orang Israel itu melanggarnya, Al-Baqarah ayat 85 (Kemudian kamu berjanji) akan menepatinya (sedangkan kamu mempersaksikan) janjimu itu di hadapan Allah.
100.    (Patutkah) Bani Israil ingkar kepada Allah, padahal telah banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada mereka yang tidak semua bangsa di dunia ini mendapatkan dari-Nya, yaitu diazabnya musuh-musuh Bani Israil di Mesir, diselamatkan dari kezhalimannya fir’aun dan pengikut-pengikutnya dengan Allah belah laut untuk mereka, naungan awan di gurun pasir (Padang Tih) yang gersang, kering dan panas terik di Semenanjung Sinai – Mesir bagian Benua Asia, setiap pagi Allah menurunkan roti gandum rasa madu ‘Manna’ (roti gandum adalah makanan pokok Bani Israil zaman dahulu) dan lauk daging burung ‘Salwa’ selama 40 tahun, 12 mata air Uyun Musa, Al-Baqarah ayat 40, 47, 49, 50, 57, 60, Al-A’raaf ayat 160, Ibrahim ayat 6 dan Thaahaa ayat 80, di dunia ini satu-satunya manusia yang pernah diberikan oleh Allah kerajaan yang besar (kekuasaan yang bisa menguasai angin, jin, manusia, binatang dan bahasa binatang) dan kekayaan yang melimpah tersebut hanya kepada keturunan Nabi Ibrahim as yaitu Nabi Sulaiman as, Al-Anbiyaa’ ayat 81-82, An-Naml ayat 15-44, Sabaa’ ayat 12-13 dan Shaad ayat 35-38, sehingga Bani Israil mempunyai negara yang kuat, sangat tenteram, aman dan damai, adil, makmur, mendapat ampunan, berkah dan rahmat dari Allah semasa kepemimpinan Nabi Sulaiman as sebagai nabi dan rasul-Nya bagi umat beliau as maupun semasa pemerintahan Nabi Sulaiman as sebagai raja bagi rakyat beliau as, An-Nisaa’ ayat 54, sementara negeri-negeri di sekitarnya saling rampok-merampok. Allah mengutus puluhan ribu nabi-nabi-Nya beserta kitab-kitab-Nya kepada Bani Israil sehingga mereka disebut kaum Ahli Kitab, sedangkan bangsa-bangsa lain sezamannya tidak mendapatkan semua itu dari Allah, Al-Baqarah ayat 47, 122, Al-Maaidah ayat 20, Al-A’raaf ayat 140 dan Al-Jaatsiyah ayat 16-17, kecuali setelah Allah menurunkan kitab, hikmah dan kenabian kepada Rasulullah saw lalu beliau saw mengajarkannya kepada manusia terutama kepada para sahabat dan masih banyak lagi nikmat yang Allah berikan kepada Bani Israil. Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya, Al-Baqarah ayat 211 (dan setiap kali mereka berjanji) untuk beriman dan bertakwa hanya kepada Allah saja dan taat kepada rasul-rasul-Nya (segolongan di antara mereka melemparkannya) melanggarnya, Al-Maaidah ayat 13 dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguh ia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata, Al-Ahzaab ayat 36 (bahkan sebagian besar dari mereka) Bani Israil itu (tidak beriman) kepada rukun iman, mereka menyombongkan diri dengan mendustakan, durhaka, membenci, menghina, memperolok-olok, memusuhi, menganiaya, mengingkari nabi-nabi Allah dan mendustakan kitab-kitab Allah termasuk mendustakan Kitab Injil dan Nabi Isa as, Al-Baqarah ayat 27, 61, 64, 74-76, 87-93, 100-101, Ali-’Imran ayat 21, 23, 70, 98, 112, 184, An-Nisaa’ ayat 155-156, Al-Maaidah ayat 13, 43, 64, 68, 70-71, 75, 77, Al-An’aam ayat 10, 34 dan Az-Zukhruf ayat 7.

Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yaitu bacaan dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling darinya tidak mau mendengarkan, Fushshilat ayat 2-4. Dan barangsiapa di antara mereka yang ingkar atau kafir kepada Al-Qur’an, maka Nerakalah tempat yang diancamkan baginya yaitu dimasukkan ke dalamnya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu kepadanya. Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi sebagian besar atau kebanyakan manusia tidak beriman kepada Al-Qur’an, Huud ayat 17, Ar-Ra’du ayat 1, Fushshilat ayat 4 dan Al-Haaqqah ayat 41. Dan tidak ada yang mengingkari Al-Qur’an, kecuali orang-orang yang fasik, Al-Baqarah ayat 99. Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu Langit bagi mereka dan tidak pula mereka masuk Surga untuk selama-lamanya sebagaimana unta tidak mungkin masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan, Al-A’raaf ayat 40. Barangsiapa berpaling dari Al-Qur’an, maka benar-benar ia akan memikul beban dosa yang berat, mereka kekal di dalam keadaan seperti itu dan sungguh buruk beban dosa itu bagi mereka yang tidak beriman kepada Al-Qur’an pada hari Kiamat, Thaahaa ayat 100-101. Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar tersebut atau diberitakan dalam kitab-kitab suci orang-orang dahulu yang dibawa oleh nabi-nabi mereka, termasuk diberitakan dalam Taurat dan Injil, sebagai bukti adalah bahwa Bani Israil terutama para ulamanya mengetahui jika Al-Qur’an itu akan diturunkan kepada nabi akhir zaman, Asy-Syu’araa’ ayat 196-197. Tetapi setelah Al-Qur’an itu diturunkan kepada Rasulullah saw yang ternyata beliau saw adalah orang Arab, maka sebagian besar orang-orang Israel itu mengingkari ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya dan mereka juga mendustakan, durhaka, membenci, mengolok-olok, menghina, menzhalimi, memusuhi, berencana membunuh Rasulullah saw dan menyombongkan diri tidak mau beriman karena dengki, Al-Baqarah ayat 89-91, Ali-’Imran ayat 98 dan Al-Maaidah ayat 64, 68 termasuk orang-orang kafir selain Bani Israil yang juga mendustakan Al-Qur’an, padahal seorang saksi dari Bani Israil yaitu Abdullah bin Salam yang mendalam ilmu agama dan pengetahuannya mengakui kebenaran ayat-ayat tentang perintah-perintah dan larangan-larangan Allah yang ada dalam Kitab Taurat dan kitab-kitab nabi-nabi Bani Israil yang serupa dengan ayat-ayat-Nya yang tersebut dalam Al-Qur’an lalu ia beriman. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim, Al-Ahqaaf ayat 10 dan Ash-Shaff ayat 6. Sedikit sekali orang-orang Israel yang beriman kepada Rasulullah saw, Al-Baqarah ayat 88, yaitu seperti ulama Bani Israil yang bernama Abdullah bin Salam, pengikut-pengikutnya dan orang-orang Israel lainnya, mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, Al-Qur’an dan kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka, An-Nisaa’ ayat 162. Dan mereka membaca kitab-kitab-Nya pada beberapa waktu di malam hari, sedangkan mereka juga shalat, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera mengerjakan berbagai macam kebajikan, mereka berendah hati kepada Allah dan tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, mereka itu termasuk orang-orang yang saleh dan mendapat pahala dua kali dari sisi Allah disebabkan kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka di jalan Allah. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan berkata : ”Bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian, kesejahteraan atas diri kalian, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”, Ali-’Imran ayat 113-115, 199 dan Al-Qashash ayat 52-55.

Sebelum nabi akhir zaman muncul dan sebelum Bani Israil mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw itu bukan orang Israel, mereka bersyahadat, tetapi setelah mereka mengetahui bahwa nabi akhir zaman ternyata adalah orang Arab bukan berasal dari golongan mereka, lalu kaum Ahli Kitab itu menyembunyikan 2 kalimat syahadat (menyaksikan atau mengakui) dari Allah yang ada dalam Kitab Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa as yaitu : “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah”, Al-Baqarah ayat 140. Orang-orang Israel yang kafir itu dengki kepada Rasulullah saw karena Allah memberikan kitab, hikmah dan kenabian kepada beliau saw yang orang Arab sebagai nabi akhir zaman (nabi yang terakhir), Al-Baqarah ayat 90, 105, 109, 213, Ali-‘Imran ayat 19, An-Nisaa’ ayat 54, Asy-Syuura ayat 14 dan Al-Jaatsiyah ayat 17. Dan mereka membenci dan memusuhi Malaikat Jibril as, Al-Baqarah ayat 97-98, beberapa nabi-Nya dipenjara oleh mereka dan juga mereka telah membunuh lebih dari 10 ribu nabi-nabi Allah, termasuk membunuh Nabi Zakariya as dan Nabi Yahya as, Al-Baqarah ayat 61, 87, 91, Ali-‘Imran ayat 21, 112, 181, 183, An-Nisaa’ ayat 155 dan Al-Maaidah ayat 70 dan rencana pembunuhan terhadap Nabi Yeremia as yang gagal karena dilindungi oleh Ahikam bin Safan, anak sekretaris Kerajaan Yehuda yaitu Safan bin Azalya, maka selamatlah nyawa Nabi Yeremia as, Kitab Yeremia pasal 26 ayat 24 dan pembunuhan terhadap Nabi Isa as yang juga gagal dan peristiwanya terjadi di malam hari pada tahun 34 M, karena ketika Nabi Isa as berada di luar rumah, para tentara dengan bimbingan Yudas Iskariot (murid Nabi Isa as yang mengkhianati gurunya) telah sampai di dekat tempat persembunyian beliau as di luar Kota Yerusalem, mendengar suara orang banyak yang datang mendekat, dengan perasaan cemas beliau as masuk ke dalam rumah, sedangkan ke-11 murid tengah tidur pulas. Kemudian mengingat hamba-Nya sedang berada dalam bahaya, Allah bertindak tepat pada waktunya, Allah memerintahkan Malaikat Jibril as (Gabriel), Mikail as (Michael), Israfil as (Rafael) dan Izrail as (Uriel) untuk mengambil dan mengangkat Nabi Isa as. Malaikat-malaikat suci itu datang melalui pintu rumah yang menghadap ke selatan tempat persembunyian Nabi Isa as dan para murid inti beliau as, kemudian mereka mengambil dan membawa Nabi Isa as keluar dari Bumi ini tanpa diketahui oleh murid-murid beliau as yang tengah tidur pulas, sehingga selamatlah Nabi Isa as dari kejahatan orang-orang kafir, zhalim dan fasik itu dan juga dari bahaya-bahaya yang lain lalu menempatkan Nabi Isa as di Langit ke-3, Ali-‘Imran ayat 55 dan An-Nisaa’ ayat 158 dengan kawalan rombongon besar malaikat-malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah, Al-Baqarah ayat 30, Al-A’raaf ayat 206, Ar-Ra’du ayat 13, Al-Anbiyaa’ ayat 19-20, Ash-Shaaffat ayat 166, Az-Zumar ayat 75, Al-Mu’min ayat 7, Fushshilat ayat 38 dan Asy-Syuura ayat 5. Akhirnya Yudas Iskariot yang ditangkap, dihina dan disiksa oleh orang-orang kafir itu karena dikira Nabi Isa as, lalu Yudas divonis hukuman mati di tiang salib dan mati disalib di Gunung Calvary sebagai azab dari Allah, Al-Maaidah ayat 115 atas kejahatan Yudas yang telah dilakukannya dengan menjual Nabi Isa as seperti menjual domba kepada Imam Bani Israil seharga 30 keping emas. Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. Ali-‘Imran ayat 54 dan An-Nisaa’ ayat 157. Dan kebanyakan Bani Israil itu adalah orang-orang yang fasik, Ali-‘Imran ayat 110, Al-Maaidah ayat 59, 71, 81 dan Al-Hadiid ayat 16.

Maka Allah azab orang-orang Israel yang kafir itu melalui tangan-tangan bangsa asing untuk menghukum mereka karena mereka durhaka kepada Allah dan nabi-nabi-Nya dan melampaui batas dalam berbuat dosa-dosa Al-Baqarah ayat 61, 95, Ali-’Imran ayat 112, An-Nisaa’ 160-161, Al-Maaidah ayat 32, 63, 78-79, An-Nahl ayat 118 dan Al-Jumu’ah ayat 6-7 dengan Allah datangkan malapetaka yaitu : paceklik, Bani Israil dibawah kekuasaan penguasa asing penyembah berhala yang zhalim dan fasik yang sangat menindas mereka, sehingga mereka melakukan pemberontakan yang menyebabkan Kaisar Romawi Vespasianus memerintahkan tentara-tentara Romawi yang dipimpin Jenderal Titus Flavius anaknya sendiri untuk menumpas pemberontakan Bani Israil dengan menyerang dan mengepung Kota Yerusalem selama 5 bulan, dari bulan Maret sampai Agustus. Tetapi di antara Bani Israil terjadi perpecahan di kalangan orang Zelot sendiri tentang siapa yang seharusnya menjadi pimpinan tertinggi mereka, maka orang Zelot di dalam kota terbagi menjadi 3 grup. Mereka terus bertikai dan bahkan saling bunuh di antara sesama mereka. Bahkan ketika mereka berebut makanan dari gudang perbekalan, maka terjadilah kekacauan di antara mereka yang berujung dengan dibakarnya gudang makanan itu. Akibat dari itu, di seluruh Yerusalem terjadi bencana kelaparan yang hebat dan ini menguntungkan Titus. Selain itu karena ketakutan yang luar biasa, sebagian orang Israel menyarankan agar sebaiknya mereka menyerah saja. Tetapi sebagian orang menolak dan yang menolak menyerah ini lalu membunuh semua saudara mereka yang menyuruh mereka menyerah. Sehingga sebenarnya tanpa Titus menyerang pun, Yerusalem sebenarnya sudah hancur, hancur karena perpecahan dan perang saudara. Selama 5 bulan pengepungan, kelaparan di dalam Kota Yerusalem begitu hebatnya, bahkan istri Imam kepala yang biasa menikmati kemewahan, turun ke jalan untuk memungut sisa makanan, seluruh kota penuh dengan penduduk yang mati dengan perut bengkak karena kelaparan hebat yang meluas sehingga terjadi kanibalisme yang sangat mengerikan, orang membunuh orang untuk dimakan walaupun itu anaknya sendiri yang masih bayi sekalipun,  Kitab Yeremia pasal 19 ayat 9. Peristiwa tersebut telah dinubuatkan oleh Nabi Yeremia sekitar 7 abad sebelumnya, Allah mengazab mereka dengan membuat mereka mengalami kelaparan yang sangat hebat sehingga mereka tega membunuh lalu memakan daging anak-anak mereka sendiri dan setiap orang memakan daging temannya, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan oleh musuhnya dan sesama orang-orang Israel sendiri yang saling bunuh-membunuh. Jika waktu malam tiba, setiap harinya kurang lebih 500 orang keluar kota secara sembunyi-sembunyi untuk mencari sesuatu yang dapat dimakan, tetapi pada tengah malam mereka tertangkap dan dibunuh dengan sadis oleh tentara-tentara Romawi yaitu dipaku di atas kayu salib dan digantungkan dengan posisi menghadap ke Yerusalem dan penyakit sampar mewabah. Keadaan yang menyayat hati ini belum pernah terjadi di dalam sejarah sebelumnya. Sampai-sampai Jendral Titus sendiri pun tak sanggup menahan air matanya. Ia memohon Tuhan menjadi saksi baginya bahwa semua ini bukanlah hal yang mau ia lakukan. Jenderal Titus menyarankan agar orang Israel segera menyerah tetapi mereka tidak mau.

Akhirnya benteng-benteng Kota Yerusalem yang berlapis 3 bisa dirobohkan oleh tentara-tentara Romawi setelah 5 bulan pengepungan, Titus mengadakan serangan ke dalam Kota Yerusalem dan terjadi pertempuran yang tidak seimbang antara tentara Romawi melawan orang-orang Israel yang sedang sangat kelaparan, kemudian seluruh kota bisa ditaklukkan tentara-tentara Romawi dan sekutu-sekutunya dengan mudah. Setelah Yerusalem jatuh, dalam emosi yang meluap-luap, tentara-tentara Romawi dan sekutu mereka yaitu Syria dan Yunani memasuki kota lalu menyebar sampai ke jalan-jalan kecil dan membunuhi siapa saja yang mereka temui tanpa pandang bulu dari anak-anak sampai orang jompo dan mereka membakar rumah-rumah penduduk beserta orang-orang Israel yang berlindung di dalamnya, mereka membantai orang-orang Israel sekitar 1,1 juta jiwa, membuat Kota Yerusalem banjir darah yang mengalir seperti sungai sehingga memadamkan benda-benda yang terbakar, menangkap sekitar 97 ribu jiwa sisa-sisa orang Israel yang masih hidup dan gagah untuk disimpan oleh Jenderal Titus sebagai bukti kemenangan, sisanya dibagi-bagi ke provinsi-provinsi Romawi untuk diadu dengan binatang buas, di Kaesarea Philippi (sekarang Dataran Tinggi Golan), Jenderal Titus menyaksikan ribuan tahanan Yahudi saling bertempur melawan binatang buas sampai mati, yang lainnya dikirim ke Mesir untuk bekerja, dijual sebagai budak dan sebagainya. Hari itu 4 Agustus tahun 70 M, Yerusalem yang berarti damai benar-benar seperti Neraka. Masih kurang puas dengan itu, Jenderal Titus menyuruh untuk merobohkan seluruh tembok Kota Yerusalem yang besar dan tebal itu. Dan mereka memang merobohkan tembok-tembok kota, kecuali tembok Masjidil Aqsha kedua bagian barat yang diberi nama “Western Wall” sepanjang 60 meter yang tidak dirobohkan oleh para legiun Romawi, tembok asli Masjidil Aqsha (Bait Suci) kedua yang telah direnovasi dan diperluas oleh Raja Herodes Agung mulai awal tahun 19 M – 64 M panjangnya sekitar 485 meter. Hal itu memang sengaja dilakukan untuk ditinggalkan sebagai tanda kebesaran (keperkasaan) Romawi yang pernah menghancurkan tembok sebesar dan setebal itu. Western Wall inilah yang sekarang disebut sebagai “Tembok Ratapan” tempat di mana orang Yahudi meratap dan berdoa untuk pemulihan Kota Yerusalem dan tiga menara Benteng Herodes yang dibiarkan utuh oleh Jenderal Titus sebagai ”perlambang nasib baiknya”. Jenderal Titus benar-benar ingin memusnahkan hampir seluruh Yerusalem, maka ia memerintahkan tentara-tentaranya untuk menebang seluruh pohon dan tanaman yang ada di Yerusalem sampai rata dengan tanah. Dan tidak boleh ada satu benda pun yang berdiri tegak lebih dari permukaan tanah. Dan juga Jenderal Turnus Rufus (anak buah  Jenderal Titus), memerintahkan tentara-tentara Romawi untuk ‘membajak’ Yerusalem seperti ladang dengan menghancurkan pondasi bekas Bait Suci kedua dan Yerusalem, karena itu mereka menggali bangunan-bangunan yang sudah runtuh sampai ke pondasi-pondasinya dan seluruh puing itu dipakai untuk mengubur kembali Yerusalem sehingga menjadi sebuah dataran.

Selanjutnya para tentara Romawi itu disuruh mengambil cabang-cabang muda dari pohon-pohon yang sudah ditebang itu untuk ditanam secara teratur di atas puing-puing itu sehingga diharapkan dikemudian hari tempat itu akan menjadi hutan. Tentara Roma juga membakar habis Bait Suci itu dan mengambil semua emas yang melapisi batu-batu Bait Suci itu dan mengangkut semua benda milik masjid, seperti tabut perjanjian, kandil emas (kaki lampu), meja roti emas dan sebagainya, lalu dibawa ke Roma. Bukan hanya itu, hampir seluruh Yerusalem dan bangunan di dalam Kota Yerusalem juga mereka bakar dan dihancurkan termasuk Gunung (Bukit) Bait Suci (Haikal Sulaiman/Al-Haram Asy-Syarif/Al-Masjid Al-Aqsha (Masjidil Aqsha) kedua/Bait Allah/Bait Suci/Beit HaMikdash) sampai rata dengan pondasi dan tanah tempat berdiri pusat peribadatan dan kiblat shalat Bani Israil dan kiblat shalat pertama kaum muslimin sebelum Ka’bah di Masjidil Haram dijadikan kiblat shalat (selama 13 tahun sebelum hijrah di Mekkah dan 17 bulan setelah hijrah di Madinah). Nabi Mikha as telah menubuatkan dalam Kitab Mikha pasal 3 ayat 12 sekitar 8 abad sebelum terjadi peristiwa dibajaknya Bukit Sion seperti ladang, Yerusalem menjadi timbunan puing dan Gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan, sehingga tidak ada yang tersisa yang membuat orang-orang yang lewat atau berkunjung ke Yerusalem tidak mengira bahwa di situ pernah menjadi suatu tempat pemukiman penduduk. Nubuat Nabi Mikha as itu dikutip dalam Kitab Yeremia pasal 26 ayat 18 oleh tetua-tetua Kerajaan Yehuda ketika mereka membela Nabi Yeremia as di depan sekumpulan rakyat Yehuda yang kafir, zhalim dan durhaka kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan melampaui batas dalam berbuat dosa-dosa.
Kitab Perjanjian Lama, Kitab Yeremia pasal 26 ayat 18 :
”Mikha, orang Moresyet itu, telah bernubuat pada zaman Hizkia, Raja (Kerajaan) Yehuda. Dia (Nabi Mikha as) telah berkata kepada segenap bangsa Yehuda : Beginilah firman Tuhan semesta alam : (Gunung) Sion akan dibajak seperti ladang dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing dan Gunung Bait Suci (kedua yang telah direnovasi dan diperluas oleh Raja Herodes Agung) akan menjadi bukit yang berhutan”.
*Yerusalem berada di dataran tinggi Pegunungan Yudea, kota ini didirikan di atas Gunung Moria dan Gunung Sion (Zion) dan Kota Lama (Tua) Yerusalem/Baitul Maqdis/Al-Quds di Yerusalem Timur didirikan di atas Gunung Moria.
Qur’an surat Al-Israa’ ayat 7, juz 15 surat ke-17 :
7.      (Jika kalian) Bani Israil (berbuat baik, berarti kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri dan jika kalian berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi diri kalian sendiri. Dan apabila datang saat hukuman) bagi kejahatan yang (kedua) tahun 70 M Allah datangkan Jenderal Titus dan tentara-tentara Romawi beserta sekutu mereka (untuk menyuramkan muka-muka kalian dan mereka masuk ke dalam masjid) untuk menjarah benda-benda berharga milik Masjidil Aqsha dan menghancurkannya (sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama) pada tahun 605 SM tahun ke-3 pemerintahan Raja Yoyakim, Raja Nabukadnezar II dan bala tentaranya dari Kerajaan Babilonia Baru (sekarang Irak dan sekitarnya) menyerbu Kota Yerusalem ibukota Kerajaan Yehuda (Yahuda/Yudea) untuk pertama kalinya dan berhasil merebut Yerusalem dan menaklukkan Raja Yoyakim lalu mereka masuk ke Masjidil Aqsha untuk pertama kalinya pula dan menjarah sebagian benda-benda berharga milik masjid dan dibawa ke Babilonia lalu dimasukkan ke dalam kuil Dewa Marduk yaitu dewa utama mereka (dan untuk menghancurkan terhadap apa saja yang mereka kuasai dengan penghancuran) Agustus 586 SM tahun ke-11 pemerintahan Raja Zedekia terjadi penjarahan harta benda dan pembakaran seluruh Yerusalem termasuk Masjidil Aqsha (Bait Suci) untuk pertama kalinya (sehabis-habisnya) setelah sebelumnya tentara-tentara Raja Nebukadnezar II menyerang, mengepung selama 18 bulan, menaklukkan dan merebut Kota Yerusalem.

Qur’an surat Al-Baqarah ayat 87, juz 1 surat ke-2 :
87.  (Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Alkitab) Taurat (kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya setelah) Nabi Musa as dan Nabi Harun as wafat (itu dengan rasul-rasul) berturut-turut tanpa putus, Kitab Yeremia pasal 25:4-5, pasal 26:4-6, pasal 35:15 dan pasal 44:4 (dan telah Kami berikan kepada Isa putera Maryam bukti-bukti kebenaran) yaitu mukjizat-mukjizat sebagai bukti bahwa beliau as adalah benar-benar utusan Allah (Dan Kami memperkuat dia dengan Ruhul Qudus) Malaikat Jibril as yang selalu menyertai Nabi Isa as berdakwa kepada Bani Israil (Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu) membawa (sesuatu) pelajaran (yang tidak kamu inginkan) karena tidak sesuai dengan hawa nafsumu lalu (kamu menyombong diri) tidak mau beriman (maka sebagian) di antara rasul-rasul-Ku (kamu dustakan dan sebagian lagi kamu bunuh).
Qur’an surat Al-Maaidah ayat 71, juz 6 surat ke-5 :
71.  (Dan mereka) orang-orang Israel yang kafir itu (mengira bahwa tidak akan terjadi bencana) apapun terhadap mereka sebagai balasan dari perbuatan mereka karena mendustakan dan berani membunuh rasul-rasul-Nya, maka (sebagai akibatnya mereka menjadi buta dan tuli) tidak bisa melihat dan mendengar perkara yang hak karena Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir, fasik dan zhalim, dan setelah Allah timpakan azab kepada Bani Israil disebabkan kejahatan (dosa-dosa) yang telah diperbuat oleh tangan-tangan ­­­mereka sendiri, Al-Baqarah ayat 95 dan Al-Jumu’ah ayat 7, baru mereka menyadari akibat perbuatan dosa-dosa mereka dan terus memohon ampun dan bertobat kepada Allah (kemudian Allah menerima tobat mereka, kemudian kebanyakan di antara mereka kembali menjadi buta dan tuli) lagi (dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan). Peristiwa dibunuhnya Nabi Zakariya as dan Nabi Yahya as dan percobaan pembunuhan terhadap Nabi Isa as, jaraknya adalah puluhan tahun dari kedatangan azab Allah kepada orang-orang Israel yang kafir, fasik dan durhaka kepada Allah dan rasul-rasul-Nya itu.
Qur’an surat Al-’Ankabuut ayat 4, juz 20 surat ke-29 :
4.      (Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari) azab (Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu!).

Qur’an surat Ali-’Imran ayat 178, juz 4 surat ke-3 :
178.    (Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka) adalah (lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami menangguhkan) untuk mengazab (mereka itu hanyalah supaya dosa mereka bertambah-tambah dan bagi mereka azab yang menghinakan) An-Nisaa’ ayat 151 dan Al-Ahzab ayat 57.
Qur’an surat Al-A’raaf ayat 182-183, juz 9 surat ke-7 :
182.    (Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur) ke arah kebinasaan (dengan cara yang tidak mereka ketahui).
183.    (Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh) teguh dan tidak ada yang bisa menghalangi.
Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 32, juz 13 surat ke-13 :
32.  (Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum engkau) Muhammad (maka Aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu, kemudian Aku binasakan mereka. Maka alangkah hebatnya siksaan-Ku itu).
Qur’an surat Al-Hajj ayat 48, juz 17 surat ke-22 :
48.  (Dan berapa banyaknya kota yang Aku tangguhkan) penghancuran (nya, karena penduduknya berbuat zhalim, kemudian Aku azab mereka) sehingga terjadi bencana yang menghancurkan kota tersebut beserta penduduknya (dan hanya kepada Aku-lah tempat kembali) segala sesuatu.
Qur’an surat Ali-’Imran ayat 56, juz 3 surat ke-3 :
56.  (Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Kusiksa mereka dengan azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak mempunyai penolong).
Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 14, juz 5 surat ke-4 :
14.  (Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar aturan-aturan-Nya) hukum-hukum-Nya (maka akan dimasukkan-Nya ke dalam api Neraka, kekal ia di dalamnya dan baginya azab yang menghinakan) Al-Jin ayat 23.
Qur’an surat Al-Jin ayat 17, juz 29 surat ke-72 :
17.  (....Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya) yaitu mendustakan ayat-ayat-Nya yang dibawa rasul-rasul-Nya (niscaya Kami akan memasukkannya ke dalam azab yang amat berat) di dunia dan di akhirat.

Catatan Sejarah Masjidil Aqsha :   
Kehancuran seluruh Yerusalem termasuk Masjidil Aqsha pertama terjadi pada tahun 586 SM oleh tentara-tentara Raja Nebukadnezar II dari Kerajaan Babilonia Baru, 48 tahun kemudian yaitu tahun 538 SM Allah memerintahkan Raja Cyrus/Koresh/Koresy Agung dari Kerajaan Persia membangun lagi Yerusalem dan Masjidil Aqsha kedua. Maka ia memberi izin Bani Israil pulang ke negeri mereka dari pembuangan di Babel untuk membangun kota dan pusat peribadatan umat dan ia juga menyuruh mengeluarkan benda-benda suci perlengkapan ibadah milik masjid yang dahulu telah diangkut Raja Nebukadnezar II dari Yerusalem yang kemudian ditaruhnya di dalam Kuil Dewa Marduk, untuk dikembalikan lagi ke Yerusalem sebagai perlengkapan ibadah di masjid, Kitab 2 Tawarikh pasal 36:22-23, Yesaya pasal 44:26, 28, pasal 45:13, dan Ezra pasal 1:1-11, akan tetapi pada tahun 70 M benda-benda suci untuk perlengkapan ibadah milik masjid tersebut dijarah lagi oleh Jenderal Titus dan tentara-tentaranya lalu dibawa ke Kota Roma. Peristiwa Yerusalem termasuk Masjidil Aqsha dibakar dan dihancurkan lagi untuk kedua kalinya terjadi tanggal 4 Agustus tahun 70 M oleh tentara-tentara Kaisar Vespasianus dari Kekaisaran Romawi. Setelah pemberontakan Bar Kokhba yaitu perang besar antara bangsa Yahudi melawan Kekaisaran Romawi yang ke-3 pada tahun 132-135 M, mulai tahun 135 M, Kaisar Hadrianus melarang orang-orang Israel tinggal dan memasuki Kota Yerusalem, jika melanggar mendapat konsekuensi hukuman mati dengan disalib, kecuali untuk satu hari pada setiap tahunnya mereka diperbolehkan memasuki Yerusalem saat peringatan Tisha B’Av yaitu hari berkabung bagi orang-orang Israel. Baru pada tahun 324 M ketika Kaisar Konstantin dari Kekaisaran Byzantium menjadi pemimpin seluruh wilayah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi, orang-orang Israel itu diperbolehkan lagi memasuki Yerusalem setiap saat. Kemudian Kaisar Romawi Hadrianus menggabungkan Provinsi Yudea dengan provinsi-provinsi di sekitarnya dengan nama baru yaitu Syria Palaestina untuk menggantikan nama Yudea. Yerusalem diganti namanya menjadi Aelia Capitolina (Ilya) dan dibangun kembali dengan gaya seperti kota-kota Romawi pada umumnya, termasuk mendirikan Kuil Dewa Yupiter di bekas berdirinya Masjidil Aqsha kedua pada tahun 136 M selesai tahun 140 M. Pada tahun 1190 M, Shalahuddin Al-Ayyubi mengambil alih Yerusalem dari pendudukan Tentara Perang Salib setelah berhasil mengalahkan mereka dan menghapus larangan Bani Israil tinggal di sana, sehingga mereka bisa bertempat tinggal kembali di Yerusalem.

Pada tahun 331-363 M Kaisar Romawi Julianus pernah mengizinkan orang-orang Yahudi membangun kembali Bait Suci ketiga, tetapi kemudian dibatalkan, sebagai bagian dari programnya di seluruh kekaisaran untuk menghidupkan kembali agama-agama setempat. Ada alasan untuk menduga bahwa Julianus ingin membangun kembali Bait Suci ketiga untuk tujuannya sendiri yaitu mengangkat dirinya menjadi dewa bukan untuk peribadahan menyembah Allah orang Yahudi. Rabbi Hilkiyah, salah seorang rabbi terkemuka pada masa itu, menolak uang Julianus, dengan mengatakan bahwa orang non Yahudi tidak boleh ikut serta di dalam pembangunan kembali Bait Suci. Bani Israil tidak membangun Bait Suci ketiga, karena orang-orang Kristen mencegah orang-orang Israel membangunnya kembali, kaum Kristen menganggapnya hal itu tidak penting sehingga tidak perlu membangun Bait Suci ketiga secara fisik serta ritual-ritualnya di masa depan. Kaum Kristen menganggap gereja-gereja mereka adalah Bait Suci dan ritual agama mereka jauh lebih baik daripada ritual agama Yahudi. Ketika Khalifah Rasyidin Umar bin Khattab dan kaum muslimin menyerang dan mengepung Baitul Maqdis dalam waktu yang singkat, kemudian menaklukkan dan merebutnya dari kekuasaan Kekaisaran Byzantium pada tahun 638 M (15 H), di sana sudah berdiri banyak bangunan seperti Gereja Makam Kudus dan sebagainya. Kemudian Khalifah Umar bin Khattab menemukan lokasi batu Ash-Shakhrah dengan bantuan Kaab Al-Ahbar orang Yahudi yang telah masuk Islam, seorang Imam Tabi’in yang awalnya adalah seorang rabbi Yahudi. Beliau diceritakan bercakap-cakap dengan Ka'ab Al-Ahbar yang ikut datang bersamanya dari Madinah, mengenai di mana tempat terbaik untuk membangun sebuah masjid, Al-Ahbar menyarankan supaya masjid dibangun di belakang batu Ash-Shakhrah. Saat mengunjungi bekas lokasi Bait Suci kedua, beliau mendapati tempat itu berantakan tidak terurus penuh dengan sampah dan puing-puing bekas Gereja Bunda Kita yang dibangun pada tahun 530 M oleh Kaisar Yustinianus dari Kekaisaran Byzantium yang dipersembahkan bagi perawan Maria yang sebelum didirikan gereja, dahulunya adalah Kuil Dewa Yupiter, tetapi telah menjadi reruntuhan, kemudian pada tahun 614 M Gereja Bunda Kita itu dihancurkan oleh tentara-tentara Raja (Shah) Kisra/Khosrau II dari Kerajaan Persia Sassania setelah mereka menaklukkan dan merebut Yerusalem dari Kekaisaran Byzantium, tetapi pada tahun 629 M Yerusalem kembali ditaklukkan dan direbut Kekaisaran Byzantium lagi. Segera setelah percakapan itu, Khalifah Umar dengan jubahnya mulai membersihkan tempat yang telah dipenuhi dengan sampah dan puing-puing, demikian pula ratusan kaum muslimin turut serta membersihkan tempat itu, beliau dan kaum muslimin kemudian mendirikan shalat Dhuhur.

Dan Khalifah Umar di tempat itu membacakan ayat-ayat Al-Qur'an surat Shaad dan Al-Israa’, maka Khalifah Umar dianggap telah menyucikan kembali situs tersebut, sehingga tempat itu segera bisa didirikan masjid yang baru sebagai Masjidil Aqsha ketiga di Baitul Maqdis (Kota Tua Yerusalem). Khalifah Umar membangun Masjidil Aqsha yang baru di tempat yang dipercaya merupakan area bekas tempat yang paling suci dari Bait Suci (Allah) pertama dan Bait Suci kedua yang dahulu pernah berdiri. Masjidil Aqsha yang baru awalnya dibangun dengan bahan dari kayu dan bangunannya berbentuk persegi panjang yang bisa menampung 3.000 jamaah yang lokasinya berada di sebelah paling selatan dari bangunan Masjidil Aqsha sekarang. Pada tahun 690 M Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Bani Umayyah membangun dan memperluas secara permanen masjid itu, tetapi luasnya hanya 1/6 dari luas sebelum dibakar dan dihancurkan oleh tentara-tentara Romawi dahulu. Gempa bumi tahun 746 M telah menghancurkan bangunan Masjidil Aqsha seluruhnya, kemudian dibangun kembali oleh Khalifah Abu Jafar Abdullah bin Muhammad Al Mansur dari Kekhalifahan Bani Abbasiyah pada tahun 754 M, lalu diperluas oleh penggantinya Khalifah Muhammad bin Mansur Al-Mahdi pada tahun 780 M. Gempa bumi pada tahun 1033 M telah menghancurkan sebagian besar Masjidil Aqsha, tetapi dua tahun kemudian Khalifah Ali Azh-Zhahir dari Bani Fatimiyyah membangunnya kembali dan bangunannya masih tetap berdiri hingga kini. Dalam berbagai renovasi, perbaikan dan penambahan lebih lanjut secara berkala antara lain pada bagian kubah, fasad, mimbar, menara, interior bangunan dan sebagainya yang dilakukan oleh para penguasa AyyubiyahMamlukUtsmaniyah, Mesir, Majelis Tinggi Islam dan Negara Yordania terhadap Masjidil Aqsha dan kawasan Al-Haram Asy-Syarif.

Masjidil Aqsha tempat yang aman dari kejahatan Dajjal, Rasulullah saw bersabda :
”Dajjal akan hidup di Bumi selama 40 hari, kekuasaannya mencapai setiap sudut Bumi, akan tetapi ia tidak akan bisa memasuki 4 masjid suci : Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha dan Masjid Ath-Thur (lokasinya di Bukit Thursina dekat biara St. Catherine tempat Nabi Musa as menerima wahyu)”. Hadits riwayat Ahmad.

Shalat di Masjidil Aqsha dapat membersihkan dosa-dosa. Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash, Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya , ketika Sulaiman bin Dawud (Nabi Sulaiman as) membangun Masjidil Aqsha, (ia) meminta kepada Allah Swt tiga perkara. (Yaitu) supaya (diberi taufiq) dalam memutuskan hukum yang sesuai dengan ketetapan hukum-Nya, lalu dikabulkan dan meminta kepada Allah Swt dianugerahi kerajaan yang tidak patut diberikan kepada seseorang setelahnya, lalu dikabulkan serta memohon kepada Allah Swt setelah selesai membangun masjid, siapa saja yang datang ke masjid ini, tidak memiliki tujuan lain kecuali untuk (mendirikan) shalat, maka ia akan terbebas dari dosa-dosanya sebagaimana ketika ia dilahirkan oleh ibunya”. Lalu beliau saw bersabda : ”Dua perkara telah dikabulkan untuknya, dan aku berharap permintaan yang ketiga pun dikabulkan (oleh Allah)”. Hadits riwayat An-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Al-Baihaqi.

Qur’an surat Al-An’aam ayat 151-154, juz 8 surat ke-6 :
151.    (Katakanlah) Muhammad kepada orang-orang Yahudi itu (: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu) yaitu perintah dan larangan Allah dalam Kitab Taurat Musa kepada Nabi Musa as dan Bani Israil (yaitu : janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan apapun dan berbuat baiklah kepada orangtua) perintah dan larangan Allah tersebut, Allah perintahkan pula kepada Rasulullah saw dan umat beliau saw dalam Al-Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 36, An-Nahl ayat 51, 74, Al-Israa’ ayat 22-24, Asy-Syu’araa’ ayat 68, 213, Al-Qashash ayat 87-88, Al-‘Ankabuut ayat 8, Ar-Ruum ayat 31, Luqman ayat 13-15, Al-Ahqaaf ayat 15, 21, Adz-Dzariyaat ayat 51 dan Al-Jin ayat 20 (dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kami yang akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji) apalagi berzina, jelas haram hukumnya karena zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruknya jalan (baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya melainkan dengan sesuatu alasan yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahaminya”).
152.    (Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berbicara) dalam masalah hukum dan sebagainya (maka bicaralah sejujurnya) jangan menipu, jangan bersumpah/bersaksi palsu, jadilah saksi dengan adil (sekalipun ia adalah kerabat) mu (dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat) perintah-Nya dan larangan-Nya kepada Bani Israil dalam Taurat yang tersebut dalam Al-Qur’an surat Al-An’aam ayat 151-152 dan Al-A’raaf ayat 169, Allah perintahkan pula kepada Rasulullah saw dan umat beliau saw dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 286, Ali-’Imran ayat 76, An-Nisaa’ ayat 2, 5-6, 10, 58, 92-93, 127, 135, Al-Maaidah ayat 8, 32, 42, Al-A’raaf ayat 29, 33, 42, 169, Huud ayat 84-86, Ar-Ra’du ayat 20, An-Nahl ayat 90-92, 94-95, Al-Israa’ ayat 31-35, 39, Al-Hajj ayat 30-31, Al-Mu’minuun ayat 5-8, 62, Al-Furqaan ayat 68-69, 72-73, Asy-Syu’araa’ ayat 68, 181-183, Al-Ahzab ayat 58, 70, An-Najm ayat 32, Ar-Rahmaan ayat 7-9, Ath-Thalaaq ayat 7, Al-Ma’aarij ayat 29-34 dan Al-Muthaffifiin ayat 1-9.
153.    (Dan sungguh) apa yang Allah perintahkan kepada kamu (inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Janganlah kamu ikuti jalan-jalan) yang lain (karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya) agama-Nya (Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa).
154.    (Kemudian Kami telah memberikan Alkitab) Taurat (kepada Musa untuk menyempurnakan) nikmat Kami (kepada orang-orang yang berbuat kebaikan) agar mengamalkan perintah-perintah Allah yang ada di dalamnya (dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka) Bani Israil (beriman akan adanya hari pertemuan dengan Tuhan mereka).
Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 14, juz 4 surat ke-4 :
14.  (Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar aturan-aturan-Nya, maka akan dimasukkan-Nya ke dalam api Neraka, kekal ia di dalamnya dan baginya siksa yang menghinakan).
Qur’an surat Al-A’raaf ayat 179, juz 9 surat ke-7 :
179.    (Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk) isi (Neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata) tetapi (tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga) tetapi (tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai).
Qur’an surat As-Sajdah ayat 22, juz 21 surat ke-32 :
22.  (Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan balasan) berupa azab di dunia dan di akhirat (kepada orang-orang yang berdosa).
Qur’an surat Maryam ayat 59, juz 16 surat ke-19 :
59.  (“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti) yang jelek (yang menyia-nyiakan shalat) yaitu keturunan mereka yang tersebut dalam Qur’an surat Maryam ayat 58 yang kafir, termasuk orang-orang kafir Yahudi yang tidak mendirikan shalat (dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”).

Kalimat ‘menyia-nyiakan shalat’ di bagian terakhir ayat di atas menunjukkan kepada kita, bahwa para nabi itu adalah hamba-hamba Allah yang sangat taat menegakkan shalat. Karena digambarkan, banyak orang sesudah mereka yaitu keturunan mereka yang tidak saleh telah menyia-nyiakan shalat dan bermalas-malasan dalam mengerjakannya. Maka, lantas turun rasul baru sampai Rasulullah saw untuk memompa kembali semangat ketaatan umat dalam menegakkan shalat. Imam*, para tokoh (pemuka) agama dan ulama Yahudi (orang-orang alimnya) tidak mau mendirikan shalat karena alasan malas dan sebab yang lain, mereka merasa berat mendirikan shalat sehingga umatnya Bani Israil yang menjadi pengikut-pengikut mereka, meniru perbuatan para tokoh agama dan ulama mereka yang kafir yang tidak mendirikan shalat.
*Imam besar (pemimpin ulama/rabbi dan umat) harus dari keturunan Nabi Harun as, Allah memilih Nabi Harun as dan keturunannya untuk diberi tugas memegang jabatan Imam besar dan Imam kepala yang mengurusi urusan hukum dan ritual keagamaan Bani Israil ketika mereka dalam perjalanan ke Kana’an – Palestina, juga ditugaskan untuk menjaga dan memelihara Masjidil Aqsha (Bait Suci) di Kota Yerusalem, Kitab Bilangan pasal 3:3, 10, 32, 38, pasal 4:5-17, 19, Kitab 1 Tawarikh pasal 6:49, pasal 23:13, dan Kitab 2 Tawarikh pasal 26:18.
Di dalam Injil tulisan Paulus, ia melarang umatnya Nabi Isa as untuk shalat dalam PB. Roma pasal 7 ayat 6 :
“Tetapi sekarang kita sudah terlepas daripada hukum Torat (Taurat), sedang kita sudah mati lepas daripada hukum (Taurat) itu, yang di dalamnya kita berpegang sehingga kita berbuat ibadat (ibadah) baru yang lebih rohani, bukannya ibadat lama yang menurut sebagaimana *rukun saja”.
Maksudnya *rukun di sini adalah rukun-rukun shalat yang terdiri dari : takbirratul ikhram, rukuk, iktidal, sujud, duduk tawarruk, duduk iftirasi, salam. Dengan tidak adanya Nabi Isa as yang di dalam ajarannya adalah menyuruh umatnya untuk shalat menyembah Allah sesuai dengan Kitab Taurat Musa. Paulus melarang shalat mengikuti ajarannya Nabi Musa as, Nabi Isa as dan para nabi dari Bani Israil, yang aturannya ada dalam Kitab Suci Taurat Musa dan ditulis oleh Nabi Musa as sendiri. Paulus tidak beriman kepada Nabi Musa as dan Nabi Isa as serta menolak menjalankan syariat Allah yang ada dalam Kitab Taurat dan Kitab Injil (lihat surat Paulus kepada jemaatnya di Roma yaitu : PB. Roma pasal 7 ayat 1-4), karena Paulus menyatakan dirinya adalah hukum itu sendiri yang ia katakan di dalam suratnya kepada jemaatnya di Korintus – Yunani, PB. Korintus pasal 7 ayat 12 :
Segala sesuatu adalah boleh bagiku, bahkan aku tidak akan berada di bawah kekuasaan siapapun dalam menyampaikan ajaran-ajarannya kepada manusia. Jelas banyak orang yang tidak bisa menerima hal ini, maka Paulus menanggapinya dengan mengatakan di dalam suratnya kepada jemaat di Roma – Italia, Roma pasal 3 ayat 7-8 :
Tetapi jika kebenaran Allah semakin melimpah melalui dustaku untuk kemuliaan-Nya (Justru karena kebohongan Paulus inilah yang menyebabkan sebagian besar orang-orang Kristen dan Katolik tidak mengenal Allah dan tidak memuliakan-Nya sebagai Tuhan yang disembah oleh mereka. Dan kebohongan Paulus yang paling fatal adalah menuhankan Nabi Isa as dan mengangkat dirinya sebagai “rasul” dan mengaku mendapatkan wahyu langsung dari Nabi Isa as, dan ini juga yang menyebabkan orang-orang kafir itu tersesat dengan menyembah Nabi Isa as dan berhukum kepada kitab-kitab tulisan Paulus dan para pengikutnya, sehingga mereka tidak menyembah Allah dan tidak berhukum kepada syariat Allah), lalu mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai seorang pendosa?”.

Paulus dalam menyebarkan ajaran-ajarannya banyak sekali melakukan kebohongan untuk menyesatkan manusia. Walaupun berdusta, Paulus merasa bahwa tujuannya menghalalkan segala cara melalui Injil Yesus Kristus yang ditulis olehnya, surat-surat tulisannya dan tulisan pengikut-pengikutnya untuk menyesatkan orang dari jalan yang lurus dengan berdusta itu adalah benar. Paulus dikuasai setan, karena ia seorang pendusta dan banyak berbuat dosa, Asy-Syu’araa’ ayat 221-222.  Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, Al-Jaatsiyah ayat 7. Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, yaitu orang-orang yang terbenam di dalam kebodohannya lagi lalai akan perkara akhirat, Adz-Dzariyaat 10-11. Dan setan membuat Paulus menganggap baik perbuatannya yang buruk, lalu ia menyakini perbuatannya itu baik, Faathir ayat 8. Padahal Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk jujur walaupun itu pahit (Hadits riwayat Ahmad). Allah Maha Benar melarang berbohong atau berdusta, kebohongan tetaplah merupakan suatu dosa dan tidak ada kebohongan yang baik dan benar di mata Tuhan. Allah tidak memerlukan kebohongan untuk mengungkapkan ke Maha Muliaan-Nya, tanpa kebohongan Paulus, Allah tetap Maha Mulia selama-lamanya, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Perkasa, Maha Kaya tidak membutuhkan ibadah makhluk-makhluk-Nya, tetapi makhluk-makhluk-Nyalah yang membutuhkan beribadah kepada-Nya. Contoh, ibadah shalat yang bermanfaat untuk jasmani dan rohani di dunia dan di akhirat.
Qur’an surat Ali-‘Imran ayat 97, juz 4 surat ke 3 :
97.  (…maka sesungguhnya Allah Maha Kaya) tidak memerlukan sesuatu (dari semesta alam)Al-‘Ankabuut ayat 6.
Qur’an surat Faathir ayat 15, juz 22 surat ke-35 :
15.  (Wahai manusia, kalianlah yang berkehendak kepada Allah) mempunyai permohonan atau permintaan supaya dikabulkan oleh Allah (dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya) tidak membutuhkan segala sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya, Al-Baqarah ayat 263, Ali-‘Imran ayat 97, Al-An’aam ayat 133, Yunus ayat 68, An-Naml ayat 40 dan Muhammad ayat 38 (lagi Maha Terpuji) atas segala perbuatan-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya, Al-Baqarah ayat 267, An-Nisaa’ ayat 131, Ibrahim ayat 8, Al-Hajj ayat 64, Luqman ayat 12, 26, Al-Hadiid ayat 24, Al-Mumtahanah ayat 6 dan At-Taghaabun ayat 6.

Kitab Perjanjian Lama (Taurat Yahudi) sumbernya dari Kitab Suci Taurat Musa yang ditulis Nabi Musa as tetapi tidak asli lagi karena telah diubah kata-katanya atau dihapus dari tempat-tempatnya. Ada beberapa ayat dan kisah palsu yang ditulis untuk disesuaikan dengan hawa nafsu dan tradisi-tradisi para tokoh agama dan ulama (rabbi) Yahudi yang palsu, zhalim dan munafik, Samiri alias Dajjal Laknatullah dan pengikutnya Paulus. Kitab Perjanjian Baru adalah Injil Yesus Kristus yang lebih dari 80% palsu, sebagian besar ditulis oleh Paulus dan sebagian tulisan pengikutnya, yaitu Injil Markus, Lukas dan Matius dan kitab-kitab tulisan para pengikutnya, yaitu Injil Yohanes dan Kisah Para Rasul. Paulus menulis Injilnya yang sumbernya mengambil dari ajaran Unitarianisme Yahudi yang kata-katanya banyak yang diubah dan menambahkan ke dalamnya filsafat dan kepercayaan dari para penyembah berhala Mediterania, Yunani dan Romawi, karena Paulus dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan Hellenisme dan paganis politeisme di Tarsus – Turki, maka hal itu mempengaruhi pemikirannya dan ajarannya. Lalu adonan Injilnya Paulus tersebut dicampur dengan sebagian dari ajaran Nabi Isa as, sebagian kecil Injil Barnabas, ajaran Budha, ajaran Hindu dan dari ajaran yang diklaim Paulus bahwa ia menerima wahyu langsung dari Yesus Kristus yang telah menemui Paulus dengan menampakkan dirinya dalam bentuk bayangan. Paulus mengaku telah mendapat wahyu dari Nabi Isa as yang dipertuhankannya, maka Paulus mengangkat dirinya sendiri sebagai rasulnya Nabi Isa as. Padahal Nabi Isa as tidak pernah bisa memberikan wahyu kepada siapapun karena beliau as bukan tuhan, ‘wahyu palsunya’ Paulus itu sebenarnya adalah filsafat Plato yang didapatkannya sewaktu belajar di Alexandria (Iskandariah) - Mesir selama 3 tahun serta ajaran atau karangan Paulus sendiri. Maka terciptalah ajaran agama sintetis Kristen, yang secara logika kabur (rancu) tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, secara pembuktian kesejarahan palsu, tetapi secara psikologis menarik. Di dalam kuil agama yang megah yang diperjuangkan Paulus secara mati-matian, ia telah membangun pintu-pintu di segala sisinya. Akibatnya, orang-orang kafir pengikut Paulus yang masuk gereja Kristen untuk pertama kali, terkesan bahwa mereka menyembah kepada ‘tuhan’ yang telah mereka sembah selama ini, perbedaannya hanyalah nama dan patung dewa yang menjadi tuhan mereka sebelumnya diganti dengan nama dan patung Yesus sebagai tuhan mereka yang baru. Karena kesalahan konsepsi dasar yang diperkenalkan oleh Paulus telah berkembang dan mapan di tengah masyarakat yang tidak pernah mengetahui ajaran Nabi Isa as yang sebenarnya, maka tanpa disadari, seseorang mengira bahwa ia telah mengikuti ajaran Nabi Isa as, padahal sebenarnya ia mengikuti ajaran agama ciptaan Paulus yaitu menjadi orang Kristen Protestan atau Kristen Katolik Roma. Ayah Paulus itu orang Yahudi dari suku Benyamin dan ibunya orang Romawi, Paulus adalah warga negara Romawi dan ia bisa berbahasa Yahudi, Yunani dan Romawi, sehingga ia bisa mengajarkan agama ciptaannya di kalangan orang-orang Yunani maupun orang-orang Romawi.

Qur’an surat Al-Baqarah ayat 75 dan 78-79, juz 1 surat ke-2 :
75.  (Apakah kamu) Muhammad (masih mengharapkan mereka akan beriman kepadamu padahal segolongan dari mereka) yaitu para tokoh agama dan ulama Yahudi (mendengar firman Allah, lalu mengubah) kata-katanya dari tempat-tempat (nya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui) bahwa mereka berdusta untuk disesuaikan dengan hawa nafsu dan tradisi-tradisi mereka.
78.  (Dan di antara mereka) orang-orang awam Bani Israil (ada yang buta huruf, tidak mengetahui Alkitab) Taurat dan kitab-kitab para nabi mereka yang sebenarnya (kecuali kebohongan belaka) dari ceramahnya para pemuka agama dan ulama mereka yang umatnya dengar lalu mereka terima dan percayai begitu saja (dan mereka hanya menduga-duga) yaitu dugaan yang tidak berdasarkan ilmu.
79.  (Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab) Perjanjian Lama dan  Perjanjian Baru (dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya : “Ini dari Allah”) dengan maksud (untuk memperoleh keuntungan) dunia (yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan).
Qur’an surat Ali-‘Imran ayat 78, juz 3 surat ke-3 :
78.  (Sesungguhnya di antara mereka) orang-orang Yahudi (ada segolongan) contohnya Ka’ab bin Asyraf (yang memutar-mutar lidah mereka membaca Alkitab) Taurat (supaya kamu menyangkanya) yang dibacanya itu (sebagian dari Alkitab, padahal ia itu bukan) bagian (dari Alkitab dan mereka mengatakan : “Hal itu) yang dibacanya datang (dari sisi Allah”. Padahal hal itu bukan dari sisi Allah dan mereka berkata dusta terhadap Allah sedangkan mereka mengetahui) bahwa mereka memang berdusta kepada kaum muslimin dan Rasulullah saw dan kaum muslimin tidak mengetahui jika ditipu oleh orang-orang Yahudi itu karena Taurat Yahudi memakai huruf dan berbahasa Yahudi dan kaum muslimin baru mengetahuinya setelah Allah memberi tahu lewat wahyu.
Qur’an surat Al-Maaidah ayat 13 dan 41, juz 6 surat ke-5 :
13.  (Maka disebabkan mereka melanggar janji itu, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras) yaitu dikunci mati sehingga hati mereka tidak bisa dimasuki oleh cahaya iman (mereka ubah perkataan-perkataan) Allah dengan menambahi, mengurangi dan menghilangkan (dari tempat-tempatnya, dan mereka melupakan sebagian dari peringatan-peringatan yang telah disampaikan kepada mereka…).
41.  Para tokoh agama dan ulama Yahudi (….Mereka mengubah-ubah kata-kata) dalam kitab-kitab mereka (dari tempat-tempatnya). Awal kisah, terjadi peristiwa perzinaan dari warga mereka yang telah berumah tangga, karena mereka berat menghukum rajam kedua pelaku zina tersebut, lalu mereka mengirim warganya menghadap Rasulullah saw untuk menanyakan kepada beliau saw tentang hukuman bagi mereka yang telah melakukan perzinaan (Kata mereka) kepada orang-orang Yahudi Quraizhah yang diutus menghadap Rasulullah saw (: “Jika yang diberikan kepadamu itu ialah ini) yang telah di ubah-ubah oleh mereka, dari kata hukum rajam diganti dengan kata hukum pukulan dan masih banyak lagi kata-kata yang telah diganti, dihilangkan dan ditambahi dalam Kitab Taurat dan kitab-kitab yang lainnya yang Allah turunkan kepada Bani Israil (maka terimalah, tetapi jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah”) untuk menerimanya (Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka kamu sekali-kali tidak akan dapat menguasai) menolak (sesuatupun yang datang dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang sudah tidak dikehendaki Allah untuk menyucikan hati mereka. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan di akhirat akan mendapat azab yang besar).
Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 46, juz 5 surat ke-4 :
46.  (Di antara orang-orang Yahudi) yaitu para tokoh agama dan ulamanya yang tidak takut kepada Allah (mereka mengubah perkataan-perkataan) di dalam Kitab Taurat, Zabur dan Nubuat dari nabi-nabi mereka (dari tempat-tempatnya...) disesuaikan dengan hawa nafsu dan tradisi-tradisi mereka.

Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 49-50, juz 5 surat ke-4 :
49.   (Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka bersih) yaitu kaum Ahli Kitab (Israel) dan kaum Nasrani, Al-Baqarah ayat 80, 111 dan Al-Maaidah 18 (Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan sedangkan mereka tidak dianiaya sedikitpun).
50.  (Perhatikanlah, betapa mereka mengada-adakan kedustaan terhadap Allah dan cukuplah itu menjadi dosa yang nyata) bagi mereka.
Qur’an surat Al-An’aam ayat 21, 93, juz 7 dan 144, juz 8 surat ke-6 :
21.  (Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan).
93.  (Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat kedustaan) mengada-adakan dusta (terhadap Allah) dan berkata : ”Ini dari Allah”. Padahal bukan dari Allah (atau yang berkata : ”Telah diwahyukan kepadaku”. Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya dan) juga (orang yang berkata : ”Aku akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang zhalim) kafir dan fasik (berada dalam tekanan sakratul maut, sedangkan para malaikat) menyiksa mereka (memukul dengan tangannya) dan berkata dengan kasar kepada mereka (: ”Keluarkanlah nyawamu, di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”) tidak mau mengimaninya.
144.    (….Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim”).
Qur’an surat Yunus ayat 17 dan 70, juz 11 surat ke-10 :
17.  (Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tidaklah beruntung orang-orang yang berbuat dosa) Yunus 69.
70.  Bagi mereka (kesenangan) sementara (ketika di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka azab yang berat disebabkan kekafiran mereka).
Qur’an surat Huud ayat 18-21, juz 12 surat ke-11 :
18.  (Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka dan para saksi) yaitu malaikat, nabi-nabi dan anggota badannya sendiri (akan berkata : ”Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”. Ingatlah, kutukan Allah ditimpakan atas orang-orang yang zhalim) Al-Kahfi ayat 15.
19.  (Yaitu orang-orang yang menghalangi) manusia (dari jalan Allah dan menghendaki supaya jalan itu bengkok. Dan mereka adalah orang-orang yang tidak percaya terhadap hari kemudian) Kiamat.
20.  (Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi) Allah untuk mengazab mereka (di Bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah. Azab itu dilipatgandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar) kebenaran (dan mereka selalu tidak dapat melihat) kebenaran itu.
21.  (Mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan).
Qur’an surat An-Nahl ayat 105 dan 116, juz 14 surat ke-16 :
105.    (Sesungguhnya yang mengada-adakan kedustaan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta).
116.    (Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian secara dusta : ”Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan) membuat-buat (kedustaan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah tidaklah beruntung).
Qur’an surat Al-’Ankabuut ayat 13, juz 20 surat ke-29 :
13.  (Dan mereka benar-benar akan memikul dosa mereka dan dosa-dosa yang lain bersama dosa-dosa mereka sendiri) karena sesat dan menyesatkan orang lain (dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari Kiamat tentang apa-apa) yaitu kedustaan mereka terhadap Allah (yang selalu mereka ada-adakan).
Qur’an surat Az-Zumar ayat 32 dan 60, juz 24 surat ke-39 :
32.  (Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya. Bukankah di Neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?) tentu saja tersedia.
60.  (Dan pada hari Kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat) mengada-adakan (dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam Neraka Jahannam itu ada tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri?) yaitu orang-orang yang tidak mau beriman.
Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa yang berdusta dengan mengatasnamakan diriku, maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya di Neraka”. Hadits riwayat Bukhari.
Qur’an surat Al-Maaidah ayat 48, juz 6 surat ke-5 :
48.  (Dan Kami telah menurunkan kepadamu) Muhammad (Kitab) Al-Qur’an (dengan membawa kebenaran, yang  membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjadi patokan) ukuran atau acuan untuk meralat dan menjelaskan pasal-pasal dan ayat-ayat yang salah dan sesat yang ada di dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) dan Kitab Perjanjian Baru (PB), supaya manusia terutama kaum muslimin mengetahui ayat-ayat Allah yang sebenarnya, karena banyak sekali pasal dan ayat yang kata-katanya telah diubah atau dihapus dari tempat-tempatnya dan ada beberapa ayat dan kisah dusta dalam Taurat Yahudi yang ditulis oleh para tokoh agama dan ulama-ulama Yahudi dan para pengikutnya yang tidak takut kepada Allah, mereka berbuat (membuat-buat atau mengada-adakan) dusta terhadap Allah dengan mengatakan bahwa ayat-ayat ini datang dari sisi Allah, padahal bukan dari sisi Allah (maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu) manusia sejak umatnya Nabi Adam as sampai umatnya Rasulullah saw (Kami berikan aturan dan jalan) yang terang yang tertulis dalam kitab-kitab yang dibawa oleh nabi-nabi mereka (Jika Allah menghendaki, tentulah kamu dijadikan-Nya satu umat) saja (tetapi) dijadikan kamu beberapa umat (untuk mengujimu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semua, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang kamu perselisihkan itu) terutama dalam masalah agama.

Bab 124. Guru Spiritual Yang Asli Dan Guru Spiritual Yang Palsu. Nabi Isa as bersabda :
”Segala sesuatu yang bersesuaian dengan Kitab Musa (Taurat), yang telah engkau terima adalah benar, dengan menyadari bahwa Tuhan itu Esa, kebenaran itu satu. Atas dasar ini, yang hendaknya diikuti adalah bahwa ajaran (agama) itu satu (yaitu Islam) dan makna ajaran itu satu dan oleh karena itulah keimanan itu satu. Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu bahwa jika kebenaran belum dihapus dari Kitab Musa, (jika Kitab Taurat itu masih asli belum tercemar atau belum diubah kata-katanya dari tempat-tempatnya dan belum ditambahi ayat-ayat dan kisah-kisah dusta (palsu) yang ditulis tanpa petunjuk atau wahyu dari Allah yang isinya memfitnah Allah, nabi-nabi Bani Israil, istri-istrinya dan anak-anaknya yang ditulis oleh orang-orang Israel yang tidak takut kepada Allah) maka Tuhan (Allah) tidak akan memberi Daud leluhur kita, kitab-Nya yang kedua (yaitu Zabur). Dan jika Kitab Daud (Zabur) ini belum tercemar, Tuhan tidak akan memberikan Kitab Injil kepadaku, mengingat bahwa Tuhan itu tidak berubah dan hanya memfirmankan satu pesan (yaitu kalimat tauhid, Al-Baqarah ayat 131-133, 135-136, 256, Ali-’Imran ayat 51, 67-68, 95, An-Nisaa’ ayat 125, Al-An’aam ayat 48, 161-164, Yusuf ayat 38, An-Nahl ayat 36, 123, Al-Anbiyaa’ ayat 25, 92, Al-Mu’minuun ayat 52, Asy-Syuura ayat 13, Az-Zukhruf ayat 28, 45 dan Al-Bayyinah ayat 5) kepada seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ketika utusan Tuhan (Rasulullah saw) akan datang (dengan membawa Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan Allah kepada beliau saw), ia akan datang untuk membersihkan semua noda-noda syirik (yang ditulis oleh Paulus dan para pengikutnya dalam Injil Yesus Kristus (Injil Markus, Lukas, Matius, Yohanes dan surat-surat Paulus) yang menyebutkan bahwa Nabi Isa as sebagai ’tuhan’ selain Allah atau ’Allah’ itu sendiri) yang telah mencemari Kitab (Injil) ku” (dengan turunnya surat Al-Faatihah ayat 1-7, Al-Baqarah ayat 21-22, 29, 163-164, 255, Ali-‘Imran ayat 6, 18, 26, 27, 49-51, 59-64, 83-84, 109, 129, 189-191, An-Nisaa’ ayat 1, 36, 126, 131-134, 87, 171-172, Al-Maaidah ayat 17, 72-77, 116-118, 120, Al-An’aam ayat 1-3, 17-19, 45-46, 73, 85-87, 100-103, Al-A’raaf ayat 54, 57, 59, 65, 73, 85, 158, 172, 189, At-Taubah ayat 30-31, 116, 128, Yunus ayat 3-6, 18, 22, 31-36, 55-56, 66-68, 104-107, 109, Huud ayat 4-7, 14, 50-52, 56-57, 61, 123,  Yusuf ayat 38-40, Ar-Ra’du ayat 2-4, 8-19, 30, 33, 36, 39, 41-42, Ibrahim ayat 2, 19-20, 32-34, 48, 52, Al-Hijr ayat 16-29, 40-50, 85-86, An-Nahl ayat 1-19, 22, 36, 48-52, 65-72, 77-81, Al-Israa’ ayat 39, 42-44, 66, 99, 111, Al-Kahfi ayat 4-5, 7-8, 26, 37, 44, 110, Maryam ayat 30-36, 88-93, Thaahaa ayat 4-8, 14, 98, 110, 114,Al-Anbiyaa’ ayat 16-33, 92, 112, Al-Hajj ayat 6, 30-31, 34, 61-62, 65-66, Al-Mu’minuun ayat 14, 17, 23, 52, 78-80, 84-89, 91-92, 116, An-Nuur ayat 42-45, Al-Furqaan ayat 2, 45-54, 58-59, 61-62, An-Naml ayat 59-65, Al-Qashash ayat 68-73, 88, Al-‘Ankabuut ayat 44, 60-63, Ar-Ruum ayat 20-28, Luqman ayat 9-10, 20, 25-31, 34, As-Sajdah ayat 4-9, 27, Sabaa’ ayat 1-2, 23-24, Faathir ayat 9-13, 27-28, 38-39, 41, Ash-Shaaffat ayat 4-7, 182, Shaad ayat 65-66, Az-Zumar ayat 21, 38, 42, 44, 46, 52, 62-63, 66-67, Al-Mu’min ayat 2-3, 13-16, 20, 61-62, 64-68, 79-81, Fushshilat ayat 6, 9-12, 21, 37, 39, 53, Asy-Syuura ayat 4-6, 9-13, 15, 17, 19, 25-26, 28-29, 32-34, 49-50, Az-Zukhruf ayat 9-14, 59, 63-64, 87, Ad-Dukhaan ayat 8, Al-Jaatsiyah 3-5, 12-13, 26-27, 36-37, Al-Ahqaaf ayat 3, 33, Muhammad ayat 19, Al-Fath ayat 4, 7, 14, Qaaf ayat 6-11, 38, 43, Adz-Dzariyaat ayat 23, 47-49, 58, Ath-Thuur ayat 43, An-Najm ayat 42-54, 62, Ar-Rahmaan ayat 1-7, 10-32, Al-Hadiid ayat 1-6, 17, Al-Hasyr ayat 22-24, Al-Jumu’ah ayat 1, At-Taghaabun ayat 1-4, 13, Ath-Thalaaq ayat 12, Al-Mulk ayat 1-5, 14-17, 19, 23-24, 29, Nuh ayat 14-20, Al-Jin ayat 3, 26-27, Al-Muzzammil ayat 9, Al-Muddatstsir ayat 56, Al-Qiyaamah ayat 38-40, An-Nabaa’ ayat 6-16, An-Naazi’aat ayat 27-33, ’Abasa ayat 18-22, 25-32, Al-Infithaar ayat 6-8, Al-Buruuj ayat 8-9, 13-16, Al-A’laa ayat 1-5, At-Tiin ayat 4, 8, Al-’Alaq ayat 1-5, Quraisy ayat 3, 4, Al-Ikhlash ayat 1-4, Al-Falaq ayat 1 dan An-Naas ayat 1-3 yang menjelaskan kepada umat manusia siapa Tuhan Allah Swt dan siapa Nabi Isa as itu). Injil Barnabas halaman 225-226.

Qur’an surat Ali-’Imran ayat 79-80, juz 3 surat ke-3 :
79.  (Tidak pantas) dan tidak mungkin (bagi seseorang manusia) nabi (yang Allah berikan kepadanya Alkitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia) umatnya (: ”Hendaklah kamu menjadi hamba-hambaku) penyembah-penyembahku (dan bukan hamba-hamba Allah”. Akan tetapi) seorang nabi pasti berkata kepada umatnya (: ”Hendaklah kamu menjadi rabbani”) hamba yang beriman dan bertakwa hanya kepada Allah saja yang mendalam ilmu agama dan pengetahuannya dan mengamalkannya (karena kamu mengajarkan Alkitab) kepada orang lain (dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya).
80.  (Dan tidak) mungkin (dia) nabi utusan-Nya (menyuruhmu menjadikan malaikat dan nabi-nabi itu sebagai Tuhan. Patutkah dia menyuruhmu berbuat kekafiran setelah tadinya kamu menganut Islam?”) kecuali nabi palsu Paulus yang menyuruh manusia beriman dan menyembah Nabi Isa as yang diutus Allah kepada Bani Israil.
Qur’an surat Al-Maaidah ayat 116-118, juz  :
116.    (Dan) ingatlah (ketika Allah berfirman) di akhirat kelak (: Wahai Isa putera Maryam, Adakah engkau mengatakan kepada manusia : ”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Dia) Nabi Isa as (menjawab : ”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku mengatakannya, jika aku pernah mengatakan, maka tentulah Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”).
117.    (Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakannya) yaitu (”Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan atas segala sesuatu).
118.    (Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

Kesimpulan Shalat Lima Waktu :
Shalat dari wudlu, takbirratur ikhram sampai salam berkhasiat menyehatkan jasmani dan rohani. Tidak sah shalat kalau tidak membaca Al-Faatihah, karena hati kita tidak sambung dengan Allah, padahal arti shalat adalah menyembah-Nya dengan menyambungkan hati kita kepada-Nya supaya kita bisa berkumunikasi dengan Allah. Rasulullah saw dan umatnya diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim as yang hanif (lurus). Jika Rasulullah saw hanya menyembah kepada Allah, berarti beliau saw telah mengikuti agamanya Nabi Ibrahim as sesuai dengan perintah Allah dan para nabi itu selalu taat kepada Tuhan yang telah mengutusnya. Dan jika Rasulullah saw di setiap shalatnya membaca Al-Faatihah karena hukumnya wajib dan beliau saw mengikuti agamanya Nabi Ibrahim as, berarti Nabi Ibrahim as juga membaca Al-Faatihah di setiap shalatnya, berarti surat Al-Faatihah tidak hanya diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah saw saja, tetapi juga kepada para nabi sebelum Rasulullah saw. Jadi rukun-rukun shalat Rasulullah saw sama dengan rukun-rukun shalat para nabi sebelumnya. Seperti ucapan Paulus, yaitu nabi palsunya orang-orang Nasrani Trinitas Kristen Protestan dan Kristen Katolik Roma yang tidak mau mengikuti ibadat atau ibadah shalat yang rukun-rukunnya tertulis dalam Kitab Taurat Musa yang Allah turunkan dan dibawa oleh Nabi Musa as sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia. Di dalam Kitab Perjanjian Lama terdapat ayat-ayat tentang wudhu dan rukun-rukun shalat walaupun isinya tidak 100% benar, karena kata-kata dalam ayat-ayatnya sudah banyak yang diubah-ubah dengan cara dihapus, disisipi, dikurangi dan ditambahi dari tempat-tempatnya, tetapi masih ada sebagian kata-kata dalam ayat-ayatnya yang benar tidak diubah-ubah dan tidak disembunyikan, yaitu :
Kisah-kisah nabi-nabi dan kaum muslimin Bani Israil yang wudhu dan shalat dan ayat tentang berdoa dengan menadahkan tangan dalam Kitab Perjanjian Lama :
1.      Kitab Keluaran pasal 29 ayat 4, pasal 30 ayat 18-21, pasal 40 ayat 12, 31-32 (ayat-ayat tentang wudhu).
2.      Kitab Ulangan pasal 9 ayat 25, Kitab Mazmur (Zabur) pasal 26 ayat 12, pasal 28 ayat 2, pasal 35 ayat 18, pasal 63 ayat 4, pasal 95 ayat 9, Kitab Yeremia pasal 26 ayat 2 (ayat-ayat tentang shalat).
3.      Kitab Mazmur pasal 44 ayat 20 dan Kitab Ezra pasal 9 ayat 5 (ayat tentang berdoa dengan menadahkan tangan).

Sumber : Al-Qur’an, Tafsir Jalalain, Misteri Nabi Isa as dalam Sejarah oleh Dr. M. Ataur Rohim, Perang Islam vs Barat oleh Muhammad A dan berbagai sumber.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Tulisan juz nya hanya 3 yg benar. Yaitu adz dzariyaat juz 27, ali imran juz 3 dan yusuf juz 12. Selain itu semua keterangan juz pada masing-masing surat salah. Tp lebih tepatnya itu angka untuk urutan surat dalam al quran. Al anbiyaa yg benar juz 17, thahaa yg benar juz 16, ibrahim yg benar juz 13, maryam yg benar juz 16, al hajj yg benar juz 17, al israa' yg benar juz 15, an nahl yg benar juz 14. Terima kasih.