08 Maret, 2013

AURA TUBUH MANUSIA

Pada dasarnya, semua benda hidup ataupun mati, memancarkan aura. Cahaya aura itu terpancar dari struktur atom akibat terjadinya loncatan-loncatan energi dari satu tingkatan ketingkatan yang lain. Aura muncul karena adanya tegangan listrik atau energi tertentu yang dimasukkan kedalam struktur atomnya.
Dan itu juga terjadi pada manusia, badan manusia sebagai benda mati maupun mahkluk hidup, menyimpan potensial aura. Sebagai benda mati, aura menggambarkan susunan atom dan molekul yang menyusun badan manusia. Tetapi sebagai benda hidup, aura itu menggambarkan kondisi kejiwaan seseorang seiring dengan keseimbangan sistem energi didalam tubuhnya. Setidak-tidaknya ada 2 informasi yang bisa diperoleh dengan mempelajari aura seseorang. Pertama, informasi keseimbangan fisik. Dan kedua, informasi keseimbangan yang bersifat psikis. Keseimbangan kondisi fisik seseorang bisa diprediksi dari pola auranya. Penelitian tentang aura yang semakin berkembang dewasa ini, memungkinkan kita untuk memotret aura dan mempelajari pola-polanya.
Kita bisa melihat, betapa pola aura sangat berkaitan dengan kondisi kesehatan. Pada orang yang sehat, pola aura diujung-ujung jari tangannya berbentuk sempurna. Akan tetapi, pada orang yang sakit, pola auranya tidak beraturan dibeberapa bagian, tergantung pada keluhan sakitnya. Setiap penyakit memberikan pola aura yang berbeda-beda pada setiap penyakitnya. Dan prediksi atau diagnosa penyakit lewat pola aura tersebut menghasilkan kesimpulan yang sama dengan hasil laboratorium kimiawi.
Ini menunjukkan bahwa tubuh kita memiliki banyak ‘jendela’ untuk memahami sesuatu yang berada didalamnya. Bisa lewat laboratorium kimiawi, foto aura, pijat refleksi dan lain-lain. Sementara itu, pola aura diwajah seseorang bisa menggambarkan kondisi kejiwaan seseorang. Orang yang marah, memancarkan aura kemerahan, warna merahnya tergantung tingkat kemarahannya. Sedangkan orang yang sabar dan ikhlas, memancarkan warna kebiruan. Orang-orang yang mensucikan diri, auranya cenderung kearah warna-warna terang menuju kearah putih.
Dengan demikian, teknik aura bisa membantu kita untuk memahami kualitas kejiwaan maupun kesehatan fisik seseorang. Sehingga, sebenarnya kita bisa melakukan pengukuran untuk mendeteksi berhasil tidaknya ibadah seseorang lewat foto aura. Meskipun untuk itu masih diperlukan penelitian lebih jauh. Dari berbagai foto aura yang dianalisis, menemukan suatu pola yang menarik yang bisa menggambarkan kualitas kejiwaan seseorang didalam beragama. Ternyata kualitas warna aura seseorang memiliki kemiripan dengan gradasi warna pelangi didalam sinar Matahari. Seperti kita ketahui, warna pelangi memiliki gradasi warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, seluruh warna itu jika dicampur akan menghasilkan warna putih. Maka, sesuai dengan gradasi warna itu, aura seseorang juga menggambarkan tingkatan-tingkatan kualitas kondisi jiwa atau bahkan spiritualitas seseorang. Aura merah menggambarkan tipikal paling egois, pemarah, pendengki, iri, pecemburu, possessive, atau secara umum menggambarkan ‘gelora nafsu’ dan ego tinggi. Warna jingga menunjukkan pergeseran kearah warna kuning, artinya bergesernya sifat individualistik kearah sosial. Jika merah menggambarkan sifat yang sangat egois, maka jingga dan kuning menunjukkan sifat yang semakin ramah dan mudah bergaul.
Tipikal kuning adalah tipikal orang yang pandai mencari kawan, namun semua perkawanan dan persahabatannya masih ditujukan untuk kepentingan dirinya. Meskipun tujuan itu bisa disembunyikan secara rapi. Tingkatan yang lebih tinggi adalah warna hijau, warna ini menggambarkan ego yang semakin rendah, berganti dengan kepedulian dan empati kepada orang lain. Hijau adalah tipikal dermawan, pemilik aura hijau biasanya suka menolong orang. Jika punya harta, ia akan menolong orang dengan hartanya, kalau ia berilmu, maka suka mengajarkan ilmunya kepada orang lain. kalau ia berkuasa, maka akan menolong orang dengan kekuasaannya. Atau jika ia pandai mengobati, akan banyak membantu menyembuhkan orang lain.
Semakin rendah ego seseorang, maka warna auranya akan semakin kearah biru, aura ini menggambarkan karakter kontem-platif, suka merenung mencari jati diri, mencari jalan menuju kehidupan yang hakiki, hatinya cenderung kearah kesabaran dan keikhlasan dan terus mencari ilmu-ilmu ‘hakikat’ dibalik kehidupan dunia yang tampak menggiurkan kebanyakan manusia. Tipikal biru cenderung menjadi ‘guru’ sejati’ dalam kehidupan manusia, bukan sekedar guru sebagai profesi, tetapi ia mengajarkan ilmunya  karena ingin terjadinya perubahan dalam kehidupan orang-orang disekitarnya dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan dari manusia, hanya untuk mencari keridhaan dari Allah.
Meningkat lagi dari tipikal biru, yaitu nila dan ungu, aura dengan warna ini menunjukkan kepribadian yang semakin intensif dalam meninggalkan tujuan-tujuan yang bersifat pribadi/individualistik, ia menuju pada keseimbangan sosial, yaitu kemaslahatan orang banyak.
Dan dari semua tipikal warna itu, adalah tipikal manusia dengan aura putih, yang menunjukkan orang-orang yang bisa mengendalikan seluruh karakter-karakter kemanusiaannya menuju kekarakter Ketuhanan, untuk tujuan-tujuan yang bersifat ilahiah. Warna putih adalah peleburan dari seluruh warna yang ada, ini menunjukkan bahwa putih adalah tipikal orang yang mampu menggabungkan seluruh potensi kemanusiaannya dan kemudian melebur yang orientasinya hanya untuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Aura putih adalah tingkatan tertinggi dalam perjalanan kehidupan seorang manusia, yang oleh Rasulullah saw disebut sebagai kemampuan untuk menundukkan hawa nafsunya berganti dengan niat Lillaahi Ta’ala.
Rasulullah saw bersabda : “Belum Islam seseorang, sampai ia bisa menundukkan hawa nafsunya”.
Warna-warna aura diatas mengambarkan perjalanan kehidupan manusia dari sifat individual kesifat sosial dan akhirnya ketujuan yang bersifat spiritual.


Sumber : Ir. Agus Mustofa

Tidak ada komentar: