20 Maret, 2013

MENGAPA BUMI HARUS BERPUTAR PADA POROSNYA

Bukan hanya gerakan Bumi mengelilingi Matahari saja yang menimbulkan kekaguman. Sebab, selain berputar mengelilingi Matahari yang disebut revolusi, Bumi juga berputar mengelilingi dirinya sendiri yang disebut rotasi. Bumi sebenarnya berputar seperti gasing, tetapi sumbu putarnya tidak tegak lurus. Bumi berputar dengan posisi miring 23,5 derajat. Mengapa Bumi harus berputar pada dirinya sendiri atau ber-rotasi, dan mengapa mesti miring posisinya? Jika Bumi ini tidak berputar pada dirinya sendiri, maka di permukaan Bumi ini dipastikan tidak akan pernah terjadi kehidupan seperti adanya kini. Mengapa begitu? Karena akan ada bagian Bumi yang menghadap Matahari terus-menerus, dan juga akan ada bagian yang membelakangi Matahari terus-menerus. Memangnya mengapa? Karena belahan Bumi yang menghadap Matahari akan mengalami siang terus-menerus, sehingga dipastikan akan mengalami pemanasan yang berlebihan. Sedangkan bagian yang tidak memperoleh cahaya Matahari, akan mengalami malam terus, bagian ini akan mengalami pendinginan terus-menerus.

Jika ada bagian Bumi yang mengalami siang terus-menerus, maka belahan Bumi tersebut akan mengalami pemanasan yang akan sangat terbayangkan tingginya. Diperkirakan dalam waktu 100 jam saja, air di permukaan Bumi yang menghadap ke Matahari tersebut akan mendidih. Dan 100 jam berikutnya, air yang ada akan menguap, sehingga tidak akan ada kehidupan di belahan Bumi yang mengalami siang terus-menerus itu. Sebaliknya, di bagian yang malam terus akan mengalami pendinginan secara berlebihan pula. Sehingga, diperkirakan dalam waktu 100 jam, belahan Bumi tersebut akan mengalami pembekuan, seluruh air menjadi es. Dan 100 jam berikutnya, dipastikan tidak akan ada kehidupan di sana. Karena itu, Bumi perlu berputar pada dirinya sendiri alias ber-rotasi. Jika Bumi tidak ber-rotasi, maka konsekuensi dari pertanyaan Allah dalam ayat berikut ini akan terjadi pada kita.
Qur’an surat Al-Qashash ayat 71-72 :
71.  (Katakanlah ) Muhammad (: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untuk kalian malam itu terus-menerus sampai hari Kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepada kalian? Maka apakah kalian tidak mendengar?”).
72.  (Katakanlah ) Muhammad (: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untuk kalian siang itu terus-menerus sampai hari Kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepada kalian yang kalian beristirahat padanya? Maka apakah kalian tidak memperhatikan?”).
Qur’an surat Al-Anbiyaa’ ayat 33 :
33.  (Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang) dengan Allah menjadikan Bumi ber-rotasi dan ber-revolusi atau dalam posisi miring berputar mengelilingi dirinya sendiri dan mengelilingi pusatnya yaitu Matahari (Matahari dan Bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya) berjalan mengelilingi pusatnya, Matahari mengelilingi pusat galaksi, Bulan mengelilingi Bumi. Matahari yang dikelilingi oleh sejumlah planet termasuk Bumi dan Bumi yang dikelilingi oleh Bulan, mereka semua bersama-sama berjalan/beredar mengelilingi pusat galaksi.
Qur’an surat Luqman ayat 29 :
29.  (Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam) dengan Allah menciptakan Bumi ber-rotasi dan ber-revolusi (dan Dia menundukkan Matahari dan Bulan masing-masing beredar) berjalan pada garis edarnya mengelilingi pusatnya (sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan).
Qur’an surat Yaasiin ayat 37 :
37.  (Dan suatu tanda) kekuasaan Allah (bagi mereka adalah malam, Kami tanggalkan siang dari) malam (itu, maka seketika mereka) berada dalam (kegelapan).

Qur’an surat Az-Zumar ayat 5 :

5.      (Dia menciptakan Langit dan Bumi dengan) tujuan (yang benar, Dia menggulungkan malam atas siang dan menggulungkan siang atas malam) kata Arab kawwiru’ artinya ‘menggulung/melilit’ atau ‘bertumpang-tindih’ seperti melilitnya kain serban mengelilingi kepala, jadi kata menggulung/melilit menunjukkan bahwa Bumi itu bulat. Bertumpang-tindih atau melilitnya siang dengan malam hanya dapat terjadi jika Bumi berbentuk bulat. Bumi tidak tepat bulat seperti bola, melainkan agak gepeng pada kedua Kutubnya. Jika malam dan siang dapat saling menggulung, pastilah karena keduanya berada pada satu tempat yang bulat secara bersama-sama. Bagaimana mungkin keduanya dapat saling menggulung jika berada pada tempat yang datar? Dari keterangan ayat tersebut juga dapat diperoleh kesimpulan bahwa, pada permukaan Bumi ini setiap saat, separuh permukaannya senantiasa malam hari dan separuh lagi permukaannya adalah senantiasa siang hari. Karena Allah menciptakan/menjadikan Bumi dalam posisi miring berputar pada sumbunya/porosnya/dirinya sendiri/ber-rotasi dalam posisi miring dan mengelilingi Matahari/ber-revolusi, Al-Anbiyaa’ ayat 33, maka di daerah tropis (Khatulistiwa/Ekuator) mengalami 2 musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau dan di daerah subtropis mengalami 4 musim dan belahan Bumi Utara yang paling dekat dengan Kutub Utara, seperti Kota St. Petersburg di ujung utara Rusia dan di Islandia, pada waktu musim panas akan mengalami siang lebih panjang daripada malam dan ketika puncak musim panas 22 - 23 Juni pada tengah malam ada Matahari, Matahari bersinar terus tidak tenggelam sehingga daerah-daerah tersebut mengalami siang terus-menerus selama 24 jam. Tidak ada batas antara malam dan siang, jam 10 malam Matahari masih bersinar, jam 11 malam juga masih ada, jam 12 malam pun masih ada, dan jam 1 dini hari Matahari masih bersinar, walhasil, hari-hari hanya ada siang, tanpa ada malam. Sementara Kutub Selatan pada waktu yang sama, mulai dari pantai barat Australia sampai Antartika mengalami musim dingin, malamnya lebih panjang daripada siang dan ketika sedang puncak musim dingin di Kutub Selatan malamnya terus-menerus selama 24 jam karena Langitnya gelap seperti malam hari. Begitu sebaliknya, jika daerah subtropis belahan Bumi Selatan di daerah yang paling dekat dengan Kutub Selatan dan di Kutub Selatan sedang mengalami puncak musim panas, maka belahan Bumi Utara di daerah yang paling dekat dengan Kutub Utara dan di Kutub Utara pada waktu yang sama sedang mengalami puncak musim dingin, dimana Matahari tidak bersinar sehingga waktu malamnya terus-menerus selama 24 jam karena Langitnya gelap seperti malam hari juga. Bagi kaum muslimin yang bertempat tinggal atau sedang berada di negara-negara yang dekat dengan Kutub Utara, mereka mengalami kesulitan untuk menentukan masuk waktu shalat dan waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan ketika menjalani ibadah puasa, maka jadwal waktu shalat yang mereka ikuti ada yang berdasarkan waktu Mekkah atau waktu di negara mana ia sebelumnya tinggal paling lama (dan menundukkan Matahari dan Bulan, masing-masing berjalan) beredar pada tempat peredarannya/garis edarnya (menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun).

Qur’an surat Al-Muzzammil ayat 20 :
20.  (”… Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kalian sekali-kali tidak dapat menentukan batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepada kalian, karena itu bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an…’’) di dalam shalat, yaitu surat-surat pendek yang kalian hafal ayat-ayatnya.

Selain perputaran Bumi tersebut, kemiringan sumbu putar juga memiliki arti yang sangat penting. Karena jika tidak ada kemiringan Bumi, maka tidak akan terjadi dinamika di atas permukaan Bumi. Bayangkan saja, jika Bumi ini berputar secara tegak pada sumbunya, maka Kutub Utara dan Kutub Selatan Bumi tidak akan pernah mengalami siang hari. Karena kemiringan itulah maka terjadi musim di permukaan Bumi. Di bagian utara dan bagian selatan mengenal 4 musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin, sedangkan di bagian Khatulistiwa/Ekuator, mengenal 2 musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Iklim ini yang menyebabkan tejadinya berbagai fasilitas kehidupan makhluk di muka Bumi. Dengan adanya musim ini, maka terjadilah angin, yang arahnya bisa berubah-ubah. Dengan perubahan  musim ini juga terjadi beraneka ragam tumbuhan dan berbagai macam binatang. Bukan hanya berfungsi sebagai keindahan, melainkan juga berfungsi untuk mencukupi segala kebutuhan manusia, sepanjang drama kehidupannya di muka Bumi.

Bahkan juga keberadaan gunung-gunung, memiliki maksud yang luar biasa besar. Allah mengatakan, gunung-gunung itu diciptakan Allah sebagai pasak, supaya Bumi tidak berguncang-guncang jika terjadi tumbukan antar lempeng Bumi. Ada 20 lempeng Bumi, 6 lempeng besar, yang paling besar adalah lempeng Pasifik dan ada 14 lempeng kecil. Dan gunung-gunung adalah jalan keluar magma dari dalam perut Bumi, jika tidak ada gunung-gunung, maka magma yang menggelegak di dalam perut Bumi itu tidak akan tersalurkan. Maka, akan terjadi gempa bumi yang dahsyat terus-menerus, karena tidak stabil akibat tekanan yang sangat besar dari dalam perut Bumi. Selain itu, gunung-gunung juga berfungsi seperti timah penyeimbang seperti pada velg mobil. Dengan adanya gunung-gunung itu, maka putaran Bumi menjadi seimbang atau balance.
Qur’an surat Al-Anbiyaa’ ayat 31 :
31.  (Dan telah Kami jadikan di Bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya ia) Bumi itu tidak (goncang bersama mereka dan Kami jadikan pula di sana jalan-jalan yang luas supaya mereka mendapat petunjuk).
Qur’an surat Luqman ayat 10 :
10.  (Dia menciptakan Langit tanpa tiang sebagaimana kalian lihat, dan Dia meletakkan gunung-gunung) yang kokoh, Qaaf ayat 7 (di Bumi) dipancangkan-Nya dengan teguh, An-Naazi’aat ayat 32, gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan, Al-Ghaasyiyah ayat 19, gunung-gunung sebagai pasak atau paku, An-Naba’ ayat 7, karena benua atau pulau telah Allah paku dengan gunung-gunung, sehingga jika terjadi tumbukkan antar lempeng dan ketika lempengan-lempengan Bumi bersama gunung-gunung itu berjalan seperti jalannya awan, An-Naml ayat 88, Ath-Thuur ayat 10 dan An-Naba’ ayat 20, Allah menancapkan gunung-gunung  dengan kokohnya, An-Naml ayat 61 dan Fushshilat ayat 10 (supaya Bumi tidak mengguncangkan kamu”) yaitu dengan terjadinya bencana gempa bumi setiap hari dan di setiap tempat jika tidak ada gunung-gunung di muka Bumi sebagai pasak, An-Nahl ayat 15.

Sumber : Tafsir Jalalain, Agus Mustofa dan berbagai sumber.

11 komentar:

toko vinyl mengatakan...

mantap atas penjelasannya mas..:)

Andrio Dev mengatakan...

Lah, walaupun tidak berputar pada porosnya, Kan bakalan tetap terjadi siang dan malam.. Karena bumi mengelilingi matahari.

Mohon penjelasan,,

evan reizal mengatakan...

Andrio: artikel nya disimak baik2, klo rotasi itu yg menyebabkan siang dan malam, sedangkan bumi mengelilingi matahari itu revolusi tdk menyebabkan terjadinya siang dan malam, cukup jelas kok artikelnya

maulana mengatakan...

Aku jadi tau.

Anonim mengatakan...

Jika cuma mengelilingi matahari..bagian bumi yg menghadap ke matahari ya itu itu aja. Akibatnya tuh hangus permukaan bumi tsb.

Anonim mengatakan...

Kan berotasi dan juga berevolusi, anak SMP aja ada praktek simulasinya. Udah kelihatan rata jadinya

Dwi Anggara Surya Putra mengatakan...

Terimaksih penjelasannya ..

Dwi Anggara Surya Putra mengatakan...

Terimaksih penjelasannya ..

Maulana Yusuf mengatakan...

Klo bumi itu ber rotasi berarti saat kita naik pesawat dgn tujuan ke negara lain cukup terbangkan pesawat ke atas dan ga perlu melaju tinggal tunggu aja hingga putaran bumi mencapai negara yg kita tuju baru daratkan pesawat... Nyampe tuh...
Mohon dijelaskan mengenai hal ini!

Darius Rahail mengatakan...

Dengan demikian akan serupa dengan manusia di bumi saat menginjak tanah. Jika manusia itu melompat maka akan terjadi pergerakan/pergeseran titik tumpu.

Alvin Tjiang mengatakan...

Nggak bro, kalau pesawat selama masih dalam jangkauan bumi, dia masih terpengaruh gravitasi. Harus ada momentum pada sumbu x spy bergerak. Kalau cuma sumbu y gak akan bergerak.